Belajar Khusyuk

Penulis: H-1 Pada: Selasa, 07 Mei 2019, 07:51 WIB celoteh
Belajar Khusyuk

MI/ROMMY PUJIANTO
Ronal Surapradja

SEBELUM Ramadan tiba, saya bersama istri dan anak sempat berlibur ke Jepang. Karena membawa anak, agendanya ialah tour the theme park: Disneyland, Disneysea, dan Universal Studio. Lumayan juga rasanya punggung dan pinggang selama 8 hari membawa ransel, menenteng belanjaan, dan mendorong stroller he he.

Setiap ada kesempatan ke luar negeri, yang selalu menjadi concern saya ialah bagaimana saya melaksanakan salat di sana. Apalagi, jika negara yang dikunjungi bukan negara dengan mayoritas penduduk muslim.

Memang, sajadah selalu ada di tas, tapi rasanya tetap saja kita tidak bisa bebas menggelarnya lalu salat. Beruntung Islam sangat memudahkan kita dalam beribadah, salat tidak berdiri pun (dengan cara duduk) tidak masalah.

Meski begitu, tetap saja masalah itu datang, yaitu susah untuk khusyuk he he. Saat mau takbir, bersamaan dengan teriakan dari mereka yang jumpalitan naik roller coaster. Mau ruku, telinga terganggu tangisan anak berpakaian snow white, dan saat duduk tahiat, sudut mata terganggu rombongan penyihir ala Hogwarts yang memutar-mutar tongkat, ha ha. Saya yakin kualitas salat saya saat itu jelek sekali he he.

Sebetulnya, khusyuk dalam salat tidak serta-merta kita dapatkan meski kita salat di dalam negeri, di rumah, bahkan di masjd sekalipun. Jujur, saya masih suka kesulitan khusyuk dalam salat. Dalam suasana ribut, tentu susah. Dalam keadaan sunyi pun tidak berarti menjadi mudah. Mungkin itu sebabnya ada buku tentang salat khusyuk yang laris manis sekaligus pelatihannya, dengan harga yang tidak murah.

Salat yang khusyuk ialah pengalaman rohani setiap individu. Saya kutip sedikit dari buku itu; satu prinsip utama adalah jangan mencari khusyuk. Cukup siapkan diri untuk menerima khusyuk itu karena khusyuk bukan kita ciptakan, tapi diberi langsung oleh Allah sebagai hadiah nikmat karena kita menemui-Nya.

Bersikap rileks, menyiapkan diri kita untuk menerima karunia khusyuk karena khusyuk itu diberi, dan bukan kita ciptakan. Kepala hingga pinggang dikendurkan, berat badan mengumpul di kaki. Berdiri santai, senyaman kita berdiri. Lalu mulai bertakbir, selanjutnya membaca surat dan bacaan lainnya dengan pelan meresapi kesendirian, dan berusaha menangkap kehadiran Tuhan yang sesungguhnya amat dekat dengan kita, tetapi kita sering tumpul untuk merasakan-Nya.

Saat menemui-Nya sesungguhnya bukan badan yang bertemu, tapi roh kita. Fisik kita (dengan gerakan dan bacaan) hanyalah alat yang mengantar roh berjumpa kembali dengan yang dicintainya, yaitu Dia yang meniupkan roh ke dalam fisik kita. Jadi, kita harus belajar jika badan kita ruku, tunggu sampai roh kita ikut ruku. Jika badan sujud, tunggu juga sampai roh kita ikutan sujud. Waduh, susah ternyata, he he.

Allah SWT mengatakan bahwa salat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk dan mereka yang bisa khusyuk dalam salat ialah mereka yang bisa mendapatkan manfaat terbesar dari salat.

Contoh sederhana saja deh, kalau kita mau bertemu dengan bos besar perusahaan kita, tentu akan bersikap sebaik mungkin kan? Kita akan mengatur ucapan, khawatir akan memberikan kesan buruk di hadapannya. Setiap kata akan dipilih yang baik dan diucapkan sejelas mungkin. Tidak terburu-buru, tapi tidak juga terlalu lambat.

Yang paling penting, mengerti apa yang akan disampaikan. Begitu pun bahasa tubuh, akan kita jaga supaya tidak serampangan. Nah, harusnya sikap seperti itulah yang kita lakukan saat salat. Di depan bos saja bisa, apalagi di hadapan Big Boss, he he.

Saya teringat kisah seorang sahabat Rasulullah SAW yang tubuhnya tertembus anak panah saat perang. Dia meminta agar anak panah tersebut dicabut ketika ia sedang salat. Ketika anak panah itu dicabut, ia tidak merasakan sakit sama sekali lantaran salatnya khusyuk. Rasanya tingkat kekhusyukan kita masih jauh bila dibandingkan dengan sahabat tersebut.

Yuk, di Ramadan ini kita belajar menjadi lebih khusyuk lagi dalam salat. Ada cara yang diajarkan sahabat Rasulullah SAW, Hatim Ashad RA. Caranya, setiap salat bayangkanlah ada Kabah di depan kita, kaki di titian shirat, surga di kanan, neraka di kiri, malaikat Izrail sang pencabut nyawa stand by di belakang kita, dan berpikirlah ini salat terakhir kita. (H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More