Selasa 07 Mei 2019, 07:36 WIB

Paralel antara Kontinuitas dan Originalitas

Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan
Paralel antara Kontinuitas dan Originalitas

SENO
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar

TENTU tak dapat dibantah bahwa Islam tidak dilahirkan di dalam ruang kosong yang hampa budaya dan peradaban. Islam lahir di dalam sebuah dunia yang sudah sarat dengan budaya dan peradaban.

Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa ajaran Islam tidak pernah mengklaim sebagai perintis budaya dan peradaban yang sama sekali baru. Ia bahkan dengan tawadu mengatakan dalam hadisnya, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia" (innama bu'itstu liutammim makarim al-akhlaq).

Ia tidak pernah menolak budaya dan peradaban dari luar. Ia juga tidak pernah mematenkan budaya dan peradabannya yang dirasa positif untuk kemanusiaan. Ia menyerukan untuk mengejar pengetahuan walau sampai ke tanah China (utulub al-'ilm walau bis Shin).

Ia juga mengatakan, "Hikmah (peradaban) adalah milik umat Islam, ambillah di mana pun kalian temukan" (al-hikmah dhalah al-mu'min fahaitsu wajadaha fa huwa ahaq biha). Alquran juga sejak awal menyerukan pentingnya memelihara kontinuitas budaya dan peradaban.

Segala sesuatu yang positif pada umat-umat terdahulu harus dilestarikan, karena dengan tegas dikatakan, "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya" (la nufarriq baina ahadin min rusulih). (QS Al-Baqarah/2:285).

Alquran dan hadis secara eksplisit memberikan pengakuan terhadap agama-agama lain seperti Yahudi, Nasrani, dan aliran kepercayaan seperti Shabi'in.

Pola integrasi dan sintesa budaya dan peradaban dalam Islam harus dianggap sebagai sesuatu yang niscaya. Mungkin inilah yang dipopulerkan Umar ibn Khaththab sebagai bid'ah hassanah, sebuah kelanjutan tradisi yang konstruktif.

Jika kita berbicara tentang kebudayaan dan peradaban Islam berarti kita berbicara tentang tradisi luhur kemanusiaan yang diwarisi secara kumulatif dari zaman ke zaman. Kebudayaan dan peradaban (civilization/al-hadharah) Islam bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah dengan budaya dan peradaban sebelumnya.

Soal kehadiran Islam memberikan corak dan warna baru memang ia dan hal ini sulit diingkari.

Di mana pun dan sejak kapan pun dalam lintasan sejarah kemanusiaan, selalu ada sintesa dan imitasi budaya dan peradaban.

Hal ini lumrah dan wajar, karena bukankah pada mulanya anak manusia ini berasal dari sepasang kakek dan nenek (Adam dan Hawa), sebagaimana ditegaskan dalam ayat Walaqad karramna Bani Adam (Allah memuliakan anak cucu Adam/QS Al-Isra'/17:70).

Mapping budaya dan peradaban kemanusiaan dari zaman ke zaman memiliki nilai-nilai universal di samping nilai-nilai lokalnya.

Islam sebagai ajaran yang sarat dengan nilai-nilai universal sudah barang tentu memiliki pola dialektik sejarahnya.

Dengan kata lain, satu sisi harus mempertahankan orisinalitas dan unsur-unsurnya yang genuine, tetapi pada sisi lain harus mampu menembus batas-batas geografis dengan separangkat nilai-nilai lokalnya.

Dalam kenyataan dialektika sejarah Islam, selain harus 'menjinakkan' sasaran-sasarannya, ia pun harus dijinakkan sasaran-sasarannya.

Sebagai contoh, selain harus mengislamkan Mesir, Persia, anak benua India, dan Nusantara, terlebih dahulu ia harus mengalami proses pemesiran, pemersiaan, pengindiaan, dan penusantaraan.

Sama seperti Islam dalam periode awal, Islam yang lahir dan tumbuh di jazirah Arab lalu berekspansi keluar di kawasan sekitarnya, maka nilai-nilai Islam pun harus mengalami penyesuaian ke dalam dua konteks peradaban dengan apa yang disebut Marshall Hodgson dengan Irano-Semit di bagian Timur dan Afro-Erasia di bagian Barat.

Demikianlah Islam sampai mengarungi seluruh benua hunian manusia.

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 21 Sep 2019 / 16 Ramadan 1440 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:52 WIB
Dhuha : 06:20 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 19:00 WIB

PERNIK

Read More