Tradisi Dlugdag Penanda Ramadan

Penulis: Nurul Hidayah Pada: Senin, 06 Mei 2019, 09:00 WIB Pernik
Tradisi Dlugdag Penanda Ramadan

ANTARA/IRWANSYAH PUTRA
PEMANTAUAN HILAL AWAL RAMADAN: Petugas observatorium Tgk Chiek Kuta Karang Kemenag Aceh memantau posisi hilal di Lhoknga, Aceh Besar, Aceh,

DENGAN mengucapkan doa terlebih dahulu, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat menabuh beduk yang terletak di areal Langgar Agung Keraton Kasepuhan di Kota Cirebon, Jawa Barat. Beduk ditabuh secara berirama, mulai suara rendah, sedang, hingga akhirnya tinggi.

Dari dalam Langgar Agung terdengar nyanyian selawatan diiringi dengan bunyi rebana atau hadroh. Sultan sepuh kemudian memberikan penabuh kepada abdi dalem yang kemudian secara bergantian memukulkan beduk.

Hampir sejam pemukulan beduk berlangsung kemudian dilanjutkan dengan bancakan atau makan bersama-sama di Langgar Agung. "Ini tradisi Dlugdag," ungkap Arief, kemarin.

Tradisi ini menandakan berakhirnya bulan Syakban dan dilakukan seusai melakukan salat sunah asar serta salat asar berjemaah di Langgar Agung Keraton Kasepuhan. Tradisi ini sekaligus menjadi penanda jika Ramadan telah datang. "Kita mulai salat tarawih untuk esok sudah berpuasa," ujarnya.

Lewat tabuhan beduk yang meriah itu, tradisi Dlugdlag seolah membawa pesan bahwa kedatangan bulan Ramadan yang suci pantas disambut dengan riang gembira. Sebab, bulan Ramadan merupakan bulan penuh keberkahan dan bulan yang penuh dengan pengampunan.

Menurut Arief, tradisi memukul beduk sebenarnya sudah ada sejak Islam masuk ke Indonesia. Wali songo memanfaatkan tradisi dan budaya yang ada di Tanah Air untuk perkembangan Islam di Indonesia sehingga pemukulan beduk dilakukan setiap datangnya salat lima waktu, sebelum azan, sebelum memasuki bulan Ramadan, sebelum Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Tak hanya memukul, Dlugdlag juga sarat pesan. Pembedaan suara tabuhan beduk dari rendah, sedang ke tinggi, menunjukkan siklus kehidupan manusia, yaitu dimulai dari bayi, balita, remaja, dewasa, hingga akhirnya kembali lagi pada Sang Pencipta.

Setelah tradisi Dlugdag, setiap malam akan dilakukan salat tarawih berjemaah dilanjutkan dengan tadarusan hingga khatam Alquran. Selanjutnya, pada 20 hingga 30 Ramadan akan digelar tradisi hajat maleman, yaitu tradisi menyambut 10 hari terakhir Ramadan.

Menyucikan diri

Sementara itu, masyarakat muslim Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dan sekitarnya, melaksanakan tradisi padusan menjelang Ramadan. Tradisi padusan yang merupakan upaya menyucikan diri atau mandi bersih sebelum ibadah puasa Ramadan itu, seperti biasanya dilangsungkan di Umbul Pengging, kecamatan Banyudono.

Mandi untuk menyucikan diri juga dilakukan warga di Kota Padang, Sumatra Barat dan warga Dukuh Panunjang, Desa Purwatan, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Puluhan warga turun ke Sungai Pemali untuk melakukan perawatan sungai sekaligus mandi bersama.

Lain lagi dengan yang dilakukan warga Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jabar. Ratusan warga di sana melakukan aksi bersih sampah yang ditutup dengan makan nasi liwet bersama (ngaliwet). Di akhir kegiatan, seluruh warga saling bermaafan satu sama lain. (WJ/JI/DG/YH/H-3)

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Sabtu, 25 Mei 2019 / 20 Ramadan 1440 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:26 WIB
Subuh : 04:36 WIB
Terbit : 05:52 WIB
Dhuha : 06:21 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 19:00 WIB

PERNIK

Read More