C’est Bon Pret

Penulis: H-1 Pada: Senin, 06 Mei 2019, 08:35 WIB celoteh
C’est Bon Pret

MI/ADAM DWI
Ronal Surapradja

PADA 1995, saya diterima kuliah di Fakultas Komunikasi. Tahun berikutnya saya iseng kembali ikutan UMPTN dengan tujuan pengin kuliah double biar keren hehe.

Selain bahasa Inggris, saya mendaftar jurusan IPS. Pilihan 1 hubungan internasional dan pilihan 2 sastra Prancis. Tanpa belajar apalagi ikut bimbel, niat masuk sastra Prancis meleset. Saya malah diterima di jurusan hubungan internasional.

Namun, karena niat ingin belajar bahasa Prancis menggebu, saya memutuskan ambil kursus. Ternyata bahasa Prancis susah banget. Yang ditulis belum tentu itu yang dibaca, belum lagi tiap benda ada jenis kelaminnya, laki atau perempuan. Ribet deh. Alhasil saya hanya kuat belajar enam bulan.

Dalam bahasa Prancis, 'C'est bon pret' artinya 'itu bagus'. Arti itu tentu saja saya ketahui dari google translate haha. Saya tidak akan menulis dalam bahasa Prancis karena saya saja enggak bisa. 'C'est bon pret' ialah judul lagu yang sedang saya tulis, bercerita tentang cebong dan kampret.

Fenomena itu terjadi sejak Pemilu 2014 dan berlanjut di Pemilu 2019. Kini, meski pemilu sudah selesai, istilah itu masih ada, terutama di media sosial. Berarti sudah lima tahun ini ada tambahan baru dalam peta demografi penduduk Indonesia selain jenis kelamin, usia, pekerjaan dan lainnya, yaitu preferensi politik

Tujuan dari labelisasi si cebong dan si kampret tentu saja untuk mengelompokkan perbedaan pilihan politik masyarakat. Hasilnya ialah sinisme dan ekspresi politik yang fantastik. Perbedaan yang harusnya anugerah, malah jadi masalah. Yang harusnya indah, malah bikin gerah.

Akhirnya, kata itu jadi stigma yang teridentikkan terhadap suatu kelompok ataupun individu. Jika ini tidak dihentikan, saya khawatir efek jangka panjangnya.

Yang lebih menakutkan lagi jika labelisasi itu merasuk ke dalam jiwa menjadi ideologi yang diyakini sampai mati. Tidak ada toleransi.

Padahal, sudah jelas Allah menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya yang paling sempurna. Kok, malah mau merendahkan diri sebagai anak kodok dan anak kelelawar? (H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More