Minggu 05 Mei 2019, 08:55 WIB

Wajib Bersepatu Empuk

Rizky Noor Alam | WAWANCARA
Wajib Bersepatu Empuk

MI/ADAM DWI
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

LANGKAH Retno Marsudi santai. Senyumnya merekah saat menyambut kehadiran Media Indonesia di lantai dua Gedung Garuda, Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (3/5) sore.

Penampilan perempuan kelahiran Semarang 56 tahun silam itu sepintas terlihat resmi. Ia mengenakan baju terusan panjang hitam berkerah, berlengan tiga perempat, dengan aksen menyerupai pita pada bagian leher.

Yang unik, ia memadankan busananya dengan sepasang sepatu kets berwarna hijau pastel. Ya tidak salah, alumnus Universitas Gadjah Mada ini memang sengaja menggunakan sepatu kets saat bekerja.

Retno mengaku lebih nyaman memakai sepatu kets ketimbang sepatu dengan hak tinggi. Dengan aktivitasnya yang cukup padat, menggunakan sepatu itu terasa nyaman dan membuatnya mudah bergerak.

"Kalau acara kenegaraan baru pakai sepatu hak. Kalau tidak, ya flat shoes atau kets," ujarnya kepada Media Indonesia.

Istri dari Agus Marsudi tersebut mengaku memiliki banyak koleksi sepatu kets. Semua ia sesuaikan dengan baju yang dikenakan. "Koleksi saya banyak, ada biru, pink, hijau," celetuk Retno, tetapi enggan menyebutkan ada berapa pasang sepatu yang dimilikinya.

Ibu dua anak itu mengatakan, dalam membeli sepatu tersebut, ia tidak punya merek tertentu yang menjadi favorit. Namun, ia memiliki satu syarat, yakni sepatu itu harus punya sol yang empuk.

"Tidak harus merek tertentu. Yang penting harus empuk, soalnya saya sudah tua, jadi harus empuk dan nyaman," candanya.

Kegemaran Menlu menggunakan sepatu kets kerap terlihat dalam beberapa acara, termasuk saat acara di Istana dan bepergian.

Hari ini, Minggu (5/5) Retno direncanakan berangkat ke Amerika Serikat untuk menjalankan tugas selaku Presiden Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (6/5). Indonesia direncanakan akan memimpin sidang terbuka yang mengusung tema Investing in peace: Improving safety and security.

Retno mengaku beban yang diberikan cukup berat, apalagi dilaksanakan bertepatan dengan Ramadan. Namun, ia yakin bisa menjalaninya.

Ibadah puasa saat melakukan perjalanan dengan durasi puasa yang terkadang lebih panjang bukan penghalang bagi pekerjaannya. Pasalnya, ia sudah terbiasa berpuasa di luar negeri. Bahkan, dirinya sempat merayakan Lebaran saat dalam penerbangan pesawat. "Sudah biasa bagi saya yang sering bepergian," ujarnya.

Hanya saja, ada satu tradisi yang tidak luput ia lakukan sebelum memasuki bulan puasa, yakni nyekar atau berziarah. "Sudah tradisi nyekar dulu sebelum puasa. Makanya saya berangkat (ke AS) Minggu, nyekar dulu," tutupnya. (Rin/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More