Sabtu 04 Mei 2019, 06:00 WIB

Militer Diminta Siap Lawan Komplotan Kudeta

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Militer Diminta Siap Lawan Komplotan Kudeta

Juan BARRETO / AFP
Tokoh oposisi Venezuela Leopoldo Lopez berbicara kepada media di Kedutaan Besar Spanyol di Caracas, Venezuela, Kamis (2/5).

 

PRESIDEN Venezuela, Nicolas Maduro, mendesak angkatan bersenjata untuk melawan komplotan kudeta. Apalagi, aksi pemberontakan militer pro pemimpin oposisi, Juan Guaido, tidak berjalan mulus.

Bentrokan yang pecah di tengah demonstrasi, menyebabkan empat orang­ tewas. Pada Selasa kemarin, Guaido yang diakui sebagai presiden interim oleh puluhan negara, mendorong angkatan bersenjata untuk menggulingkan kepemimpinan Maduro. Sekelompok orang memperhatikan seruan tersebut, tetapi gerakan itu gagal berkobar.

Petinggi militer diketahui meratifikasi dukungan kepada pemerintahan Maduro, yang berada di bawah tekanan internasional. “Ya betul, kita sedang bertempur, jaga semangat tinggi dalam pertempuran ini, termasuk melawan setiap pengkhianatan atau komplotan kudeta,” tegas Maduro pada sebuah acara televisi dengan komando tinggi militer.

“Tidak ada yang perlu takut. Ini merupakan waktu untuk membela hak perdamaian,” ujarnya dalam upacara yang dihadiri 4.500 pasukan militer.

Menteri Pertahanan Venezuela, Jenderal Vladimir Padrino, menekankan pihaknya meratifikasi kesetiaan kepada komandan tertinggi angkatan bersenjata. “Dia merupakan satu-satunya presiden kami, Nicolas Maduro,” pungkasnya.

Pemberontakan selama dua hari bertujuan melawan rezim pemerintahan Maduro. Namun, aksi perlawanan itu menelan korban jiwa. Empat orang di-nyatakan tewas, termasuk dua remaja yang meninggal karena terluka parah.

Penangkapan oposisi

Di lain sisi, Mahkamah Agung Vene­zuela memerintahkan penangkapan kembali tokoh oposisi berpengaruh, Leopoldo Lopez. Dia membuat debut publik pertama bersama Guaido pada Selasa kemarin, setelah dibebaskan dari tahanan rumah. Sejak saat itu, Lopez mengungsi ke gedung kedutaan Spanyol. Tokoh berusia 48 tahun itu dijebloskan ke penjara, setelah menyerukan protes keras terhadap Maduro.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald­ Trump, menyampaikan doa untuk perjuangan rakyat Venezuela, dalam kebaktian di Gedung Putih. “Penindasan brutal terhadap rakyat Venezuela harus berakhir. Kami mempunyai beberapa opsi, termasuk yang paling sulit,” kata Trump dengan penegasan.

“Selalu ada titik kritis untuk melakukan intervensi militer. Tapi saya kurang suka melakukan itu,” ujar Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News.

Pada Kamis waktu setempat, anggota parlemen oposisi dan anggota keluarga mengumumkan dua orang remaja yang ikut berunjuk rasa, harus mengembuskan napas terakhir. Yoifre Hernandez, 14, terkena tembakan dalam bentrokan di Caracas. Adapun Yosner Grateorol yang berusia 16 tahun, menderita luka tembak selama kerusuhan di La Victoria pada Selasa lalu.

Sementara itu, pria berusia 27 tahun, Jurubith Rausseo, tewas setelah kepalanya ditembak. Observatorium Konflik Sosial mengungkapkan satu orang juga tewas di negara bagian utara Aragua. Adapun organisasi pegiat hak asasi manusia (HAM) dan layanan kesehatan melaporkan puluhan orang terluka akibat demonstrasi selama dua hari. Pemerintah Venezuela mengklaim lebih dari 150 orang ditangkap. Sejauh ini, 25 tentara pemberontak diketahui mencari suaka di kedutaan Brasil.

Ketegangan di Venezuela semakin memanas sejak Guaido menyerukan konstitusi untuk menyatakan dirinya sebagai presiden pada 23 Januari. Dia juga mengklaim kemenangan Maduro pada pemilihan tahun lalu diwarnai kecurang­an. Negara Amerika Latin mengalami resesi selama lima tahun, yang ditandai kekurangan kebutuhan dasar serta berhentinya layanan publik.

Pada aksi unjuk rasa, pasukan keamanan tidak ragu menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah demonstran. Sekjen PBB Antonio Guterres memperingat­kan pemerintah Venezuela agar tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap warga yang bergabung dalam aksi protes. Di lain sisi, AS dan Rusia saling tuding telah membuat krisis Venezuela lebih buruk. (AFP/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More