Jumat 03 Mei 2019, 20:38 WIB

Silaturahim Politik dan Jurus Makan Bubur Panas ala Jokowi

Dosen Ilmu Politik dan Wakil Dekan FISIP UIN Jakarta Ahmad Bakir Ihsan | Opini
Silaturahim Politik dan Jurus Makan Bubur Panas ala Jokowi

MI/Rommy Pujianto
Dosen Ilmu Politik dan Wakil Dekan FISIP UIN Jakarta Ahmad Bakir Ihsan

KAMIS (2/5), sore Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengundang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu empat mata di Istana. Sebagai Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat sekaligus putra ketua umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kehadiran AHY punya banyak makna.

Berbeda dengan kehadiran Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan di Istana yang bersamaan dengan acara pelantikan Gubernur Maluku Murad Ismail dan Barnabas Orno pada 24 April lalu. Kehadiran AHY lebih punya magnitud karena diundang secara khusus oleh Presiden Jokowi.

Undangan Jokowi terhadap AHY tidak bisa dilepaskan dari suasana kontestasi Pilpres yang telah mengoyak emosi massa dan masih terasa pasca-pemilu. Karena itu, undangan Jokowi menunjukkan adanya harapan besar untuk menata kembali emosi warga.

Terlebih, menghadapi pengumuman resmi hasil rekapitulasi suara oleh KPU pada 22 Mei nanti dan adanya ancaman people power serta kebekuan komunikasi elite, langkah silaturahim menjadi agenda penting.

Sebagaimana diketahui, beberapa waktu sebelumnya Jokowi melalui orang-orang terdekatnya berusaha membangun komunikasi dengan Capres nomor 2, namun belum berhasil. "Hari Minggu kemarin (janjian). Tapi kemudian ada masalah teknis beliau agak sakit flu, kami reschedule," ujar Luhut Binsar Pandjaitan mengomentari belum adanya pertemuan langsung dengan Prabowo (22/4).

Tampaknya, ikhtiar Jokowi membangun komunikasi dengan kompetitornya tak pernah surut. Banyak jalan menuju roma.

Gagal membangun komunikasi langsung dengan Prabowo, Jokowi menggunakan strategi makan bubur panas. Silaturahim dilakukan melalui partai-partai pendukung Prabowo, salah satunya Partai Demokrat.

Alasan mengundang AHY sebagai representasi Partai Demokrat bisa dibaca sebagai strategi membangun silaturahim melalui partai yang selama ini cenderung cair dan lunak dibandingkan partai pendukung Prabowo lainnya, yaitu PKS dan PAN.

Baca juga: Narasi Positif Cara Ampuh Tangkal Hoaks

Bahkan di beberapa daerah, seperti di Jawa Timur, sebagaimana dinyatakan oleh Ketua DPD Partai Demokrat Soekarwo, 86% kadernya mendukung Jokowi yang berpasangan dengan Ma'ruf Amin. Sikap 'lunak' Partai Demokrat ini dibaca oleh Jokowi sebagai pintu masuk untuk membangun komunikasi.

Keinginan kuat Jokowi untuk membangun komunikasi di satu sisi dan fleksibilitas Partai Demokrasi di sisi lain, berbuah silaturahim politik pertama pasca-pemilu.

Kehadiran dua orang yang berkompetisi dalam sebuah momentum menyiratkan makna kesediaan untuk siap menerima segala risiko dari sebuah kompetisi. Kehadiran AHY bertemu Jokowi lebih bermakna bagi publik politik daripada apa yang dibicarakan berdua secara empat mata.

Inilah efek paling sederhana dari silaturahim yang kadang terkubur oleh egoisme diri maupun kelompok. Silaturahim mencairkan sekat, meredam kesumat, dan meruntuhkan segala pongah yang terbangun akibat antagonisme politik.

Dalam terminologi agama, silaturahim bisa memanjangkan harapan (usia). Ia memberi harapan dan daya tahan publik untuk lebih optimistis menerima hasil pemilu sebagai bagian dari pendidikan politik kebangsaan.

Silaturahim politik Jokowi adalah awal yang sejatinya mendorong elite lainnya untuk meruntuhkan egoisme politiknya demi agenda kenegaraan dan kebangsaan untuk Indonesia yang lebiih kondusif dan konstruktif.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Polemik Eucalyptus, Ilmiah atau Bukan

👤Abdurachman Guru Besar FK Unair Past President of Indonesia Anatomists Association (IAA), Past President APICA-6, Executive Board Member of APICA 🕔Kamis 09 Juli 2020, 05:05 WIB
Eucalyptus mengandung senyawa aktif, di antaranya 1,8-cineole yang mampu menghadang protein inti virus. Ini membuat replikasi virus...
Dol. Pribadi

Menyoal Urgensi UU Penghapusan Kekerasan Seksual

👤Ogiandhafiz Juanda Advokat dan Dosen FH Universitas Nasional Viktimologis Asosiasi Pengajar Viktimologi Indonesia (APVI) 🕔Kamis 09 Juli 2020, 05:00 WIB
ISU gender masih menjadi isu yang populer sekaligus kontroversial bagi...
MI/MOHAMAD IRFAN

Undang-Undang yang Adil untuk Menekan Kejahatan

👤Xiao Qian Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia 🕔Rabu 08 Juli 2020, 06:05 WIB
BEBERAPA media Barat belakangan ini telah membelokkan fakta mengenai UU Keamanan Nasional Hong...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya