Jumat 03 Mei 2019, 04:25 WIB

Peringati Hari Buruh, Dua Kubu di Venezuela Bentrok

Tesa Oktiana Surbakti tesa@mediaindonesia.com | Internasional
Peringati Hari Buruh, Dua Kubu di Venezuela Bentrok

(Photo by Federico PARRA / AFP)
bentrokan dengan pasukan keamanan di Caracas pada peringatan May Day pada 1 Mei 2019

 

PERINGATAN Hari Buruh diwarnai bentrokan antara pendukung oposisi dan militer Venezuela. Kondisi sejumlah ruas jalan di Caracas pun berubah mencekam. Sedikitnya satu orang tewas dan 46 orang lainnya terluka pada Rabu (1/5) waktu setempat.

Pemimpin oposisi Juan Guaido berupaya menggalang dukungan massa untuk melawan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Jurubith Rausseo, perempuan berusia 27 tahun, tewas setelah peluru menembus kepalanya, ketika mengikuti demonstrasi.

Organisasi hak asasi manusia dan layanan kesehatan melaporkan sekitar 46 orang terluka akibat bentrokan, berikut satu orang tewas dengan luka tembak. Ketegangan di Venezuela memanas sejak Guaido yang memimpin Majelis Nasional, mengajukan konstitusi yang menyatakan dirinya sebagai Presiden Venezuela pada 23 Januari. Dia mengklaim hasil pemilihan umum tahun lalu yang memenangkan Maduro tidak sah.

Pasukan Garda Nasional menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa, yang berusaha memblokade jalan raya dekat pangkalan udara di timur Caracas. Dari Selasa kemarin, Guaido berupaya memicu pemberontakan militer. Memasuki hari kedua konfrontasi antara pendukung oposisi dan angkatan bersenjata Venezuela, Amerika Serikat (AS) menyatakan siap untuk mengambil tindakan militer. Langkah itu bisa diambil jika krisis di negara Amerika Latin semakin tidak terkendali.

Tidak hanya warga sipil, satu orang wartawan terluka. Tepatnya ketika pasukan Garda Nasional menembakkan peluru karet ke arah sekelompok wartawan yang meliput bentrokan. Salah satu korban luka, Miguel Ramirez, menuturkan kakinya ditembak saat melakukan protes di luar pangkalan udara La Carlota. "Saya tidak berhasil lari dan bersembunyi," ujarnya lirih.

Gencarkan protes

Guaido mengumpulkan para pendukungnya di Caracas dalam peringatan Hari Buruh, mendesak mereka untuk menggencarkan protes di jalanan. Sejumlah tentara dan anggota Garda Nasional Bolivarian juga ikut bergabung dengan pendukung Guaido.

Adapun Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, memperingatkan pemerintah Venezuela untuk tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran. Di lain sisi, sikap AS dan Rusia yang saling tuding, memperburuk krisis Venezuela, serta membangkitkan konfrontasi Perang Dingin.

Melalui panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menuduh Moskow telah mengganggu stabilitas Venezuela. Tidak tinggal diam, Lavrov juga menuding campur tangan AS sudah melanggar hukum internasional.

"Kami akan tetap bertahan di sini sampai mencapai kebebasan bagi rakyat Venezuela karena kami tahu rezim pemerintahan akan terus meningkatkan penindasan. Dia (Maduro) akan mencoba menganiaya saya yang dianggap melakukan kudeta," papar Guaido, pemimpin interim Venezuela yang diakui lebih dari 50 negara.

Di hadapan ribuan pendukung, bertepatan dengan peringatan May Day yang berpusat di depan Istana Kepresidenan Miraflores, Maduro menegaskan dirinya tidak ragu untuk menindak pihak yang bertanggung jawab atas kudeta kriminal. Maduro juga menilai kudeta terhadap pemerintah Venezuela, disokong jajaran pejabat Gedung Putih yang dipimpin Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton. (AFP/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More