Kamis 02 Mei 2019, 17:15 WIB

Warga Venezuela Peringati Hari Buruh, Bentrokan Pecah

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Warga Venezuela Peringati Hari Buruh, Bentrokan Pecah

AFP
Bentrokan antara pendukung oposisi dan militer Venezuela

 

PERINGATAN Hari Buruh diwarnai bentrokan antara pendukung oposisi dan militer Venezuela. Kondisi sejumlah ruas jalan di Caracas pun berubah mencekam. Sedikitnya 1 orang tewas dan 46 orang lainnya terluka pada Rabu waktu setempat.

Seperti diketahui, pemimpin oposisi Juan Guaido berupaya menggalang dukungan massa untuk melawan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Jurubith Rausseo, perempuan berusia 27 tahun, tewas setelah peluru menembus kepalanya, ketika mengikuti aksi demonstrasi.

Baca juga: Antisipasi Topan Dahsyat, Ratusan Ribu Warga India Dievakuasi

Organisasi hak asasi manusia dan layanan kesehatan melaporkan sekitar 46 orang terluka akibat bentrokan. Berikut, 1 orang tewas dengan luka tembak.

Ketegangan di Venezuela memanas sejak Guaido yang memimpin Majelis Nasional, mengajukan konstitusi yang menyatakan dirinya sebagai Presiden Venezuela pada 23 Januari lalu. Dia mengklaim hasil pemilihan umum tahun lalu yang memenangkan Maduro tidak sah.

Pasukan Garda Nasional menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa, yang berusaha memblokir jalan raya dekat pangkalan udara di timur Caracas. Dari Selasa kemarin, Guaido berupaya memicu pemberontakan militer.

Memasuki hari kedua, konfrontasi antara pendukung oposisi dan angkatan bersenjata Venezuela, Amerika Serikat (AS) menyatakan siap untuk mengambil tindakan militer. Langkah itu bisa diambil jika krisis di negara Amerika Latin semakin tidak terkendali.

Tidak hanya warga sipil, 1 orang wartawan diketahui terluka. Tepatnya ketika pasukan Garda Nasional menembakkan peluru karet ke arah sekelompok wartawan yang meliput bentrokan.

Salah satu korban luka, Miguel Ramirez, menuturkan kakinya ditembak saat melakukan protes di luar pangkalan udara La Carlota. "Saya tidak berhasil lari dan bersembunyi," ujarnya lirih.

Guaido mengumpulkan para pendukungnya di Caracas dalam peringatan Hari Buruh, mendesak mereka untuk menggencarkan protes di jalanan. Sejumlah tentara dan anggota Garda Nasional Bolivarian juga ikut bergabung dengan pendukung Guaido.

Adapun Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, memperingatkan pemerintah Venezuela untuk tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran. Di lain sisi, sikap AS dan Rusia yang saling tuding, memperburuk krisis Venezuela, serta membangkitkan konfrontasi Perang Dingin.

Melalui panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menuduh Moskow telah mengganggu stabilitas Venezuela. Tidak tinggal diam, Lavrov juga menuding campur tangan AS sudah melanggar hukum internasional.

"Tidak ada yang bisa dirayakan kaum pekerja," cetus Guaido kepada para pendukung.

Meski hidup di negara kaya minyak, rakyat Venezuela harus menghadapi hiperinflasi dan kelangkaan stok pangan maupun obat-obatan. Jutaan orang terpaksa melarikan diri dari Venezule ke negara-negara tetangga.

"Kami akan tetap bertahan di sini sampai mencapai kebebasan bagi rakyat Venezuela. Karena kami tahu rezim pemerintahan akan terus meningkatkan penindasan. Dia (Maduro) akan mencoba menganiaya saya yang dianggap melakukan kudeta," papar Guaido, pemimpin interim Venezuela yang diakui lebih dari 50 negara.

Di hadapan ribuan pendukung, bertepatan dengan peringatan May Day yang berpusat di depan Istana Kepresidenan Miraflores, Maduro menegaskan dirinya tidak ragu untuk menindak pihak yang bertanggung jawab atas kudeta kriminal. Ancaman tersebut juga sudah digaungkan beberapa hari sebelumnya. Maduro juga menilai kudeta terhadap pemerintah Venezuela, disokong jajaran pejabat Gedung Putih yang dipimpin Penasihat Keamanan Nasional AS, John Bolton.

Beberapa jam setelah pemberontakan oleh anggota militer yang tampaknya gagal, Pompeo memandang Maduro siap merapat ke sekutu Kuba sebelum dicegah Rusia. Namun, Maduro mengklaim tuduhan Pompeo sebagai sebuah lelucon.

Kepada Fox Business Network, Pompeo menekankan Washington berharap transfer kekuasaan berlangsung secara damai. Namun, Presiden Trump menginstruksikan siap mengambil tindakan militer jika diperlukan.

Baca juga: PM Jepang Siap Bertemu Kim Jong-un Tanpa Syarat

Seorang pejabat senior Brasil mengungkapkan sedikitnya 25 tentara Venezuela mencari suaka di kedutaan besarnya di Caracas. Adapun pasukan keamanan Venezuela berjumlah sekitar 365 ribu, termasuk militer dan polisi.

"Kami sudah lama hidup di neraka. Aku tahu mereka yang turun ke jalan bagaikan sedotan yang mematahkan punggung unta. AS tepat mendukung Guaido dalam pertempuran melawan Maduro. Namun, mencapai transisi demokrasi di Venezeula tidak mudah. Pemerintah membuatnya lebih sulit," tutur Evelinda Villalobos, warga wilayah barat Caracas. (AFP/Tes)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More