Kamis 02 Mei 2019, 10:20 WIB

Prabowo Sebut Media Perusak Demokrasi

Melalusa Susthira K | Politik dan Hukum
Prabowo Sebut Media Perusak Demokrasi

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menghadiri aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Tenis Indoor Senayan, Jakarta

 

CALON presiden (capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto menuding media perusak demokrasi Indonesia. Hal itu ia ungkapkan saat berorasi di hadapan ribuan buruh pada peringatan Hari Buruh Internasional.

“Kau tidak mengerti kata cukup ya, itu media-media gue salut sama lo masih berani ke sini. Akan tercatat dalam sejarah. Hei kau! ikut merusak demokrasi di Indonesia,” kata Prabowo saat pidato di Peringatan Hari Buruh, di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, kemarin.

Prabowo meragukan integritas media di Indonesia. Bahkan dia mengancam media atas pemberitaan media yang dipublikasi hari ini. Mantan Danjen Kopassus itu menyangsikan orasinya di hadapan para buruh akan muncul di media massa nasional. “Itu TV, yah? Entah ditayangkan atau enggak gue enggak tahu. Para media hati-hati kami mencatat kelakuan kalian satu per satu,” ujarnya.

Tudingan Prabowo semakin menjadi-jadi. Ia bahkan menyebutkan bahwa media ikut mengatur kecurangan dalam pemilihan presiden. “Kami bukan kambing yang bisa kau atur-atur. Hati-hati kau. Suara rakyat ialah suara Tuhan,” ungkap Prabowo.

Sebelumnya, Prabowo juga pernah melontarkan pernyataan serupa. Kala itu, tengah ramai Reuni 212 yang diklaim dihadiri 11 juta orang, tetapi minim pemberitaan di media massa.

Prabowo menuding media tak objektif memberitakan acara reuni. Dengan berapi-api, ia menuduh media turut andil dalam upaya memanipulasi proses demokrasi di Indonesia. “Mereka bagian dari usaha manipulasi demokrasi. Sudah saatnya kita bicara apa adanya. Kita bicara yang benar, benar, dan salah, salah. Mereka mengatakan yang 11 juta (orang) itu hanya 15 ribu,” kata Prabowo (5/12).

Tak berhenti sampai di situ, tanpa tedeng aling-aling Prabowo menyebut jurnalis sebagai penghancur NKRI. Ia bahkan mengajak publik tak perlu lagi menghormati jurnalis yang mewartakan berita.

“Pers ya terus terang saja banyak bohongnya dari benarnya. Setiap hari ada kira-kira lima sampai delapan koran yang datang ke tempat saya. Saya mau lihat bohong apalagi nih,” ungkap dia pada kesempatan yang sama.
 
Goresan hitam
Dalam hari buruh itu, goresan hitam di beton pembatas jalan mencoreng peringatan Hari Buruh Internasional itu di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Vandalisme itu bertuliskan, “Rakyat Antikapitalisme May Day Rezim Fasis.”

Pantauan Medcom.id, lokasi vandalisme berada di bawah jembatan penyeberangan orang (JPO) arah Istana Negara. Pada pagi hari, coretan itu belum ada. Polisi yang berjaga pun tak acuh. Padahal, aksi vandalisme itu terjadi di dekat barikade polisi.

Di Halte Tosari, sejumlah buruh bentrok dengan polisi. Penyebabnya ialah para buruh dilarang menuju Bundaran Hotel Indonesia. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan bentrokan ini terjadi karena kesalahpahaman antara petugas pengamanan dan peserta May Day.

Beruntung, bentrokan itu tidak besar. “Enggak ribut-ribut yang besar,” kata Argo

Argo mengatakan pihaknya sudah mengendalikan situasi tersebut. (P-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More