Selasa 30 April 2019, 01:20 WIB

PLTA Tulang Punggung EBT Turunkan Emisi

(*/E-3) | Ekonomi
PLTA Tulang Punggung EBT Turunkan Emisi

ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Petugas mengoperasikan mesin turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok, Bandung, Jawa Barat

 

PEMBANGKIT listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik geotermal sangat diandalkan untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam produksi listrik nasional. Peningkatan penggunaan energi terbarukan ini penting untuk mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) demi ­mengendalikan bencana perubahan iklim.

Menteri Energi dan ­Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menyatakan PLTA dan geotermal ialah tulang punggung produksi listrik yang bersumber dari energi baru dan terbarukan (EBT). Sebanyak 10% dari 13% porsi penggunaan EBT dalam produksi listrik nasional disumbang PLTA dan geotermal. Adapun 3% sisanya dari pembangkit EBT lain seperti panel surya, angin, maupun biomassa.

“PLTA dan geotermal ini backbone karena bisa ciptakan listrik skala besar,” kata Jonan seusai penandatangan MoU dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya di Jakarta, Senin (29/4).

Ia mengatakan, jika penggunaan energi terbarukan untuk pengendalian perubahan iklim ingin ditingkatkan, Kementerian LHK perlu mendukung pengembangan PLTA dan geotermal.

Terkait pembangunan salah satu PLTA, yaitu PLTA Batangtoru di Tapanuli Selatan, Sumut, kata Jonan, proyek itu penting untuk mendukung pasokan listrik di Sumatra.

Proyek yang pembangun-annya sedang berjalan itu sudah lama masuk Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) Nasional karena kebutuhan listrik yang mendesak di Sumatra. “Kalau tak urgen, tidak akan diba-ngun,” kata Jonan.

Dia mengakui ada perhatian publik terhadap PLTA Batangtoru terutama terkait konservasi orang utan. Jonan menyerahkan persoalan itu kepada Kementerian LHK.

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian LHK Wiratno menegaskan hingga kini tidak ada orang utan yang terluka sebagai dampak pembangunan PLTA Batangtoru.

Ia mengatakan nantinya areal terbuka untuk pengembangan PLTA hanya 60 hektare dari total bentang alam batangtoru seluas 140.000-an hektare. Hutan di wilayah hulu tetap dipertahankan untuk memastikan pasokan air untuk membangkitkan listrik tetap tersedia. (*/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More