Sabtu 27 April 2019, 15:25 WIB

Bencana di Cimahi, Dua Orang Tewas Tertimbun Longsor

Depi Gunawan | Nusantara
Bencana di Cimahi, Dua Orang Tewas Tertimbun Longsor

MI/Depi Gunawan
Longsor di Cimahi

 

HUJAN deras menyebabkan bencana longsor di Kota Cimahi. Dua orang anak meninggal akibat tertimbun material tanah yang berasal dari tebing di belakang rumah.

Identitas korban adalah Irma, 15, dan Kekey, 8 bulan, warga Jalan Gombong Ciawitali RT 04 RW 19 Kelurahan Citeureup, Kecamatan Cimahi Utara. Peristiwa nahas ini terjadi pada Jumat (26/4) sekitar jam 19.40 WIB.

Yono dan tujuh anggota keluarganya tertimbun longsor setinggi 30 meter dan panjang 45 meter. Seluruh korban dibawa ke RSUD Cibabat dan RS Dustira Cimahi untuk mendapat penanganan medis. Namun karena luka yang dialami sangat parah, Irna dan Kekey akhirnya meninggal dunia.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Nanang mengungkapkan, penyebab longsor diduga karena kontur tanah yang tidak stabil, ditambah curah hujan dengan intensitas tinggi selama kurang lebih 1,5 jam.

"Posisi rumah korban tepat berada di bawah tebing sehingga longsor tepat menimpa rumahnya," katanya, Sabtu (27/4).

Selain kediaman Yono, longsor juga menerjang tiga unit rumah di sebelahnya yakni milik Usuf, Dadang dan Herman. Korban terdampak diungsikan sementara ke rumah kerabat serta musala.

"Untuk para korban terdampak sudah disalurkan bantuan logistik seperti selimut, matras dan makanan siap saji," bebernya.

 

Baca juga: Longsor di Banjar, Dua Orang Tewas

 

BPBD menurunkan dua tim gabungan untuk mengevakuasi para korban longsor dan membersihkan puing rumah. Selain longsor, hujan deras juga sempat merendam sejumlah ruas jalan raya setinggi 50 centimeter sehingga membuat lalu lintas di Cimahi mengalami kemacetan parah.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi hujan ekstrem dalam beberapa hari ke depan atau hingga sekitar tanggal 2 Mei 2019.

BMKG menyebutkan, saat ini wilayah Indonesia terdapat aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) pada fase basah yang diprediksi cukup signifikan terjadi dalam periode satu minggu ke depan.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan peningkatan suplai massa udara basah di sebagian besar wilayah Indonesia.

Pusaran angin teridentifikasi terbentuk di sekitar Laut Sulawesi, Selat Makassar, Kalimantan Barat dan Laut Cina Selatan, Utara Kalimantan yang dapat menyebabkan terbentuknya daerah perlambatan dan pertemuan angin di sekitar wilayah Indonesia bagian barat dan tengah.

"Kondisi tersebut diprakirakan dapat menyebabkan terjadinya potensi hujan lebat dalam periode akhir April hingga awal Mei 2019," ungkap Kepala BMKG Bandung, Tony Agus Wijaya. (A-5)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More