Sabtu 27 April 2019, 00:45 WIB

Memilih Indonesia demi Owa

Galih Agus Saputra | Humaniora
Memilih Indonesia demi Owa

MI/SUMARYANTO BRONTO
Aurelien Francis Brule

 

Kick Andy mengangkat cerita para pejuang lingkungan yang peduli pada kelestarian alam Indonesia, hutan maupun lautan. Ada yang berjuang mempertahankan hutan agar tetap rimbun dan menjadikan hutan rumah bagi satwa liar yang hidup di dalamnya. Ada juga yang berjuang memerangi sampah plastik.

TUJUH tahun lalu, Kick Andy pernah mengundang aktivis lingkungan sekaligus Pendiri Yayasan Kalaweit, Aurelien Francis Brule (akrab disapa Chanee Brule). Sejak saat itu, Yayasan Kalaweit berkembang dengan pesat dan telah menjadi proyek nonprofit khusus rehabilitasi owa terbesar di dunia. Yayasan Kalaweit merehabilitasi owa sebagai satwa golongan primata besar yang menjadi korban deforestasi dan praktik perburuan liar oleh manusia.

Biasanya, Yayasan Kalaweit akan membawa kerabat dekat manusia itu ke pusat konservasi di Supayang, Sumatra Barat, dan Pararawen, Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Mereka mempekerjakan sedikitnya 79 karyawan yang terdiri dari dokter hewan, penjaga satwa, hingga penjaga hutan, dan saat ini telah berhasil melepasliarkan ribuan owa ke habitat aslinya. Tidak hanya merehabilitasi satwa, Kalaweit juga aktif mengampanyekan dampak negatif deforestasi, atau alih fungsi hutan yang kian marak.

Chanee yang berasal dari Prancis itu memutuskan untuk datang ke Indonesia, khususnya Kalimantan sejak 1998. Kala itu ia berusia 18 tahun, dan mengaku sudah peduli dengan kelangsungan hidup owa sejak usia 12 tahun. Mulanya, ketika hidup di Prancis, Chanee mengatakan selalu datang ke salah satu kebun binatang di sana untuk memperhatikan owa. Ia ingin memperhatikan jenis dan kepribadian satwa tersebut, sekaligus merasa kasihan ketika melihat mereka sedih hidup di dalam kandang.

"Biasanya, setiap Rabu, karena libur sekolah di sana, saya duduk di depan kandang dari pagi sampai sore karena hanya ingin memahami mereka. Karena kalau kita ingin membantu satwa, hal pertama yang mesti kita lakukan adalah memahami mereka," tuturnya.

Tekad Chanee untuk membantu owa kemudian semakin bulat setelah mendengar kabar kebakaran hutan hebat di Indonesia pada 1997. Ia datang ke Indonesia dan beberapa saat setelah menjadi tamu Kick Andy pertama kali, ia kemudian resmi menjadi warga negara Indonesia. Kini, ia juga sudah menikah dengan perempuan asal Kalimantan, dan dikaruniai dua putra.

Nama Kalaweit dipilih Channe sebagai nama yayasan karena dalam salah satu bahasa Dayak kata itu berarti owa. Ia yang sudah belasan tahun menyelamatkan owa belakangan ini mengaku kerap frustrasi karena sering merasa kesulitan untuk menemukan hutan yang menjadi tempat pelepasliaran owa. Tidak hanya itu, menurut Chanee apa yang ia lakukan dewasa ini sebenarnya juga terlambat.

"Seharusnya kita menyelamatkan mereka pada saat masih di pohon. Tapi, dari situasi inilah lahir satu kegiatan baru di Kalaweit, yaitu membuat kawasan konservasi baru. Dalam konteks yang harus benar-benar kita bayangkan, bahwa banyak tempat di Kalimantan-puluhan ribu hektare (ha) sudah dihancurkan. Sisanya adalah pulau-pulau hutan. Pulau-pulau hutan lama-kelamaan juga akan hancur. Mungkin dikonversi oleh masyarakat sendiri karena lahan yang lain sudah tidak ada karena sudah dikuasai perusahaan," tuturnya.

Oleh karena itu, lanjut Chanee, langkah yang ditempuh Yayasan Kalaweit saat ini ialah mengajak masyarakat di Kalimantan untuk minimal mengamankan pulau-pulau hutan yang masih ada. Dengan langkah tersebut, habitat terakhir bagi satwa liar yang masih tersisa dapat dijaga. Seperti yang terjadi di Desa Butong, yang masih memiliki harapan karena adanya dukungan masyarakat di sana. Kata Chanee, bahkan kini ada lebih dari 100 orang utan yang dapat diselamatkan karena kelestarian lahan di pulau hutan tersebut.

Demi menjaga kawasan konservasi, Kalaweit juga membentuk tim patroli yang rutin menjaga kawasan seluas 288 ha. Melalui program Dulan, Kalaweit kini tengah berusaha untuk menjaga kelestarian hutan dengan konsep kerja sama antara yayasan dan masyarakat pemilik lahan. Kini, Yayasan Kalaweit setidaknya telah memiliki 147 ha hutan untuk dilestarikan, dari target 1.500 ha lahan yang harus turut dijaga.

Tidak hanya demi melindungi satwa, kawasan Dulan juga dimanfaatkan sebagai tonggak kehidupan warga. Meski demikian, Channe menjelaskan pendekatannya sangat berbeda dengan perusahaan karena dalam programnya ini, sekalipun lahan warga dibeli tetapi mereka juga masih memiliki kebebasan atas pengelolaannya. Nam,un, bukannya tanpa syarat, warga tetap dilarang untuk menebang pohon dan berburu.

"Jadi keinginan yayasan, dia menjadi pengelola dan pemilik. Kesepakatan tersebut sudah kita tandatangani per 3 Desember 2018 kemarin secara resmi. Yayasan Kalaweit hanya mengamankan kawasan, tapi ada konteksnya juga. Misalnya di kebun karet, dipersilakan pemilik memotong karet. Kalaupun itu ada kebon rotan, silakan masyarakat memotong rotan. Jika ada buah, dipersilahkan masyarakat untuk memanen buah tersebut secara wajar," tutur Kepala Desa Butong, Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah, Yoan Preslei, saat ditemui tim Kick Andy. (M-4)

Baca Juga

MI/Adam Dwi

Trie Utami Album Krakatau Akustika Jadi Obat Kangen

👤MI 🕔Kamis 09 Juli 2020, 04:30 WIB
ERA kenormalan baru menjadi tak terbantahkan. Begitu pula bagi grup band lawas...
Medcom.id

Banyak RS masih Patok Tarif Lebihi Ketentuan Baru

👤Ins/Ata/DW/PO/X-6 🕔Kamis 09 Juli 2020, 04:24 WIB
 Betapa terlambat, Dirjen Yanmed menetapkan biaya tes cepat antibodi maksimal Rp150 ribu. Bagaimana dengan biaya tes...
Instagram @soohyun_k216

Kim Soo Hyun Aktor Korea Termahal Rp1,22 Miliar Satu Episode

👤MI 🕔Kamis 09 Juli 2020, 04:10 WIB
DEMAM Korea yang hingga kini berlangsung ikut membuat nama-nama sejumlah aktor dan aktris Korea Selatan populer di negeri...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya