Usaha Keras Ditjen GTK Demi Pendidikan Berkualitas

Penulis: Widyaiswara PPPPTK IPA Arief Husein M Pada: Jumat, 26 Apr 2019, 20:56 WIB Media Guru
Usaha Keras Ditjen GTK Demi Pendidikan Berkualitas

Antara
Siswa PAUD mengikuti Parade Merah Putih menyambut HUT ke-73 RI di Kota Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu.

DI antara ribuan berita yang setiap hari beredar di media cetak atau daring, sedikit sekali artikel yang memberitakan usaha Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam memajukan pendidikan. Bukan ingin dikenal dan menjadi selebritas, toh Kemendikbud bukan lembaga profit yang mementingkan ketenaran agar bisa tetap eksis.

Akan tetapi publikasi yang baik tetap perlu untuk dilakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada khalayak bahwa Kemendikbud yang notabenenya menggunakan dana rakyat sedang serius bekerja di bidang yang merupakan spesialisasinya.Uraian di bawah ini adalah upaya-upaya kemendikbud melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) mewujudkan pendidikan IPA yang membanggakan dan berkualitas.

Seperti yang dilakukan oleh PPPPTK IPA sebagai salah satu UPT yang berada di bawah koordinasi dirgen GTK dalam melatih guru-guru IPA yang tersebar di lebih dari 60 kabupaten kota di Indonesia. Programnya bernama P2KM (Pengembangan dan Pemberdayaan KKG dan MGMP). Sasarannya adalah guru IPA SD, SMP dan guru-guru biologi, fisika, dan kimia tingkat SMA. Objek struktur pembinaannya terletak pada gugus belajar, yaitu KKG (kelompok Kerja Guru) dan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).

Baca juga: Upaya Ditjen GTK Atasi Kekurangan Guru Produktif di SMK

Program P2KM memiliki dua keunggulan yang dapat disorot. Pertama, program ini memberi jembatan solusi-solusi pada penguatan pendidikan di daerah. Sebagaimana diketahui, Indonesia yang memiliki wilayah luas dan dipisahkan oleh laut dan barrier alam lainnya. Faktor ini selain menyimpan keunggulan juga menjadi masalah tersendiri bagi pemerataan pendidikan yang berkualitas.

Dengan kuatnya organisasi KKG/MGMP maka akan mudah terbentuk hubungan yang kongkrit antara  pusat dan daerah. Hal ini terbukti nyata ketika kementerian menurunkan grant bagi pengembangan kompetensi melalui MGMP di program PKB.

Kedua, kokohnya struktur organisasi KKG/MGMP itu sendiri memudahkan guru untuk melakukan peningkatan kompetensi di wilayah yang terjangkau oleh mereka. Misalnya untuk mendapatkan pelatihan/workshop dengan topik pembuatan PTK, guru tidak perlu menunggu undangan dari PPPPTK, LPMP, atau universitas. Tapi guru dapat berinisiatif mengadakan sendiri kegiatan pelatihan/workshop tersebut di KKG/MGMP dengan mengundang narasumber terpercaya. Dari segi waktu lebih fleksibel meskipun dari segi biaya harus merogoh kocek sendiri. Tapi hal ini lebih menunjukkan keseriusan guru dalam melakukan pengembangan keprofesian secara mandiri.

Program P2KM juga memiliki dua nilai penting yang layak untuk diulas. Pertama, tema yang disajikan dalam program ini adalah tema-tema yang sejalan dengankebutuhan guru secara umum; dan kedua, tema program P2KM bisa diarahkan untuk peningkatan kompetensi guru IPA secara khusus. Apakah kebutuhan guru secara umum yang dimaksud? Contohnya adalah updating informasi, alias guru memperbaharui pengetahuan mengenai isu-isu, wawasan, dan informasi yang tidak pernah berhenti berkembang. Guru adalah bagian dari mata rantai pengetahuan yang membuat kehidupan semakin dinamis. Dengan demikian, menjadi sosok yang well informed adalah tuntutan wajar agar guru tidak dinilai sebagai orang yang ketinggalan zaman atau kudet (kurang update) menurut istilah sekarang. Guru perlu tahu tentang internet dan cara memanfaatkannya dalam pembelajaran di kelas, guru perlu tahu tentang aplikasi android dan cara menggunakannya dalam penilaian hasil belajar. Guru perlu tahu bahaya banjir informasi dan bagaimana mengelolanya agar tidak berdampak buruk kepada anak didiknya. Guru perlu tahu teknik berorganisasi dan manajemen belajar agar dapat melakukan pengembangan diri secara kolektif maupun mandiri dengan sumber daya melimpah di zaman sekarang ini. Banyak isu dan wawasan baru dan terus diperbaharui yang perlu diketahui guru namun belum bisa diarahkan secara masif melalui perangkat-perangkat aturan. Dengan adanya program P2KM, dirjen GTK bisa berinisitaif mengarahkan UPT-UPT-nya agar menyentuh aspek pelatihan ini kepada guru-guru.

Tema-tema yang disajikan dalam program P2KM adalah tema spesifik yang terkait konten mata pelajaran. Misalnya untuk peningkatan kompetensi guru IPA maka tema yang sesuai untuk dipelajari adalah IBL (Inquiry-Based Learning)/pembelajaran berbasis inkuiri. Guru IPA mesti menguasai pendekatan inkuiri tersebut, sebab ruh dari pembelajaran IPA terletak pada inkuiri.

Bidang IPA yang dikenal dengan nama lain ‘sains’ diawali kemunculannya dengan proses inkuiri, dimana manusia pertama kali bertanya-tanya tentang fenomena alam dan bagaimana alam bekerja,. Dalam usaha pencarian jawaban tersebut dilakukan serangkaian proses uji coba (ekserimen) dan pembuktian sampai akhirnya diperoleh jawaban dan pemahaman.

Melalui pelatihan IBL, guru IPA, fisika, kimia, dan biologi berlatih untuk membelajarkan IPA dengan semangat inkuiri, membekalkan siswa dengan praktik sains dan keterampilan berpikir. Di kalangan guru IPA sendiri hal menjadi tantangan yang tidak mudah untuk mengembangkan RPP yang berbasis inkuiri. Tapi setelah dapat dikembangkan serta dipraktekkan di kelas, terbukti bahwa pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa, merangsang untuk berpikir, menumbuhkan pikiran kritis, dan manfaat-manfaat lainnya yang belum pernah dirasakan oleh guru maupun siswa sebelumnya.

Tema lain yang menarik dan kekinian di program P2KM adalah STEM (Science, Technology, Engineering, and Matemathic). Pendekatan STEM sedang mendunia dan dipercaya sebagai salah satu solusi dalam menyiapkan generasi yang siap ‘bertarung’ di abad 21.Dengan pendekatan STEM siswa belajar untuk meningkatkan kemampuan problem solvingnya dengan mengintegrasikan pengetahuan sains, teknologi, enjiniring, dan matematika. Biasanya di pembelajaran STEM siswa diberi masalah nyata (real world problem) atau tantangan yang menuntut mereka untuk berpikir kritis, kreatif, mengembangkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi. STEM sejalan seutuhnya dengan cita-cita kurikulum yang ingin menanamkan kecakapan abad 21 dikenal 4C (critical thinking, creativity, communication, dan collaboration). Kedua tema (IBL dan STEM) dalam program ini memberikan pengalaman luar biasa dan sangat berarti bagi para peserta dan siswa karena melalui pelatihan in-on-in dengan jumlah total sekitar 200 jam pelatihan mereka dapat belajar dan praktek secara mendalam.

Fokus pembinaan pada KKG dan MGMP di program P2KM adalah bukti keseriusan dirjen GTK menindaklanjuti program sebelumnya yang dikenal dengan nama BERMUTU. Program tersebut terbukti berhasil secara efektif untuk memberdayakan KKG dan MGMP di berbagai pelosok tanah air. Dengan demikian program P2KM yang dijalankan seperti mereplikasi teknik yang serupa untuk menguatkan struktur organisasi KKG/MGMP. Menempatkan KKG/MGMP sebagai sasaran pembinaan juga dinilai sebagai langkah tepat karena kedua organisasi tersebut menjadi wadah efektif untuk peningkatan kompetensi guru yang bisa dijangkau.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More