Jumat 26 April 2019, 15:40 WIB

Pengadilan Tinggi DKI Tambah Hukuman Edward Soeryadjaya

Golda Eksa | Politik dan Hukum
Pengadilan Tinggi DKI Tambah Hukuman Edward Soeryadjaya

ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Terdakwa kasus dugaan korupsi pengelolaan dana pensiun PT Pertamina (Persero) yang juga Direktur PT Ortus Holding Ltd, Edward Soeryadjaya

 

UPAYA banding yang diajukan Edward Seky Soeryadjaya atas vonis Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ke Pengadilan Tinggi DKI, kandas. 

Hukuman terhadap terdakwa kasus korupsi pengelolaan dana pensiun PT Pertamina (Persero) Tahun Anggaran 2014-2015, itu justru diperberat dari 12,5 tahun menjadi 15 tahun.

Putusan banding perkara Nomor 9/PID.SUS-TPK/2019/PT.DKI, itu dibacakan oleh majelis hakim yang dipimpin Elang Prakoso Wibowo dengan anggota Mohammad Zubaidi Rahmat, I Nyoman Adi Juliasa, Reny Halida Ilham Malik, dan Lafat Akbar.

Dalam putusannya, majelis hakim tingkat banding juga menyatakan mengubah putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (Pengadilan Tipikor) Nomor 34/Pid.Sus/TPK/PN.Jkt.Pst, pada 10 Januari 2019. Sementara hukuman tambahan berupa pembayaran uang pengganti sebesar Rp25,63 miliar tidak berubah.

Namun, apabila uang pengganti tersebut tidak dibayarkan maka jaksa berhak menyita harta benda milik terdakwa atau diganti hukuman badan selama satu tahun.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 15 tahun, denda Rp500 juta dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar akan diganti dengan pidana kurungan selama tiga bulan,” demikian bunyi putusan majelis hakim PT Jakarta dari laman resmi, Jumat (26/4).

 

Baca juga: Penahanan Edward Soeryadjaya Ditangguhkan

 

Edward selaku Direktur Ortus Holding Ltd meradang lantaran terlibat kasus korupsi pengelolaan dana pensiun PT Pertamina (Persero) Tahun Anggaran 2014-2015. Perkara tersebut merugikan negara hingga Rp599,4 miliar.

Edward diduga bekerja sama dengan mantan Presiden Direktur Dana Pensiun Pertamina Muhammad Helmi Kamal Lubis. Helmi pun lebih dulu mendekam di balik jeruji besi dengan vonis 7 tahun penjara. Edward dinyatakan bersalah karena tidak melakukan kajian sebelum melakukan transaksi jual-beli saham dana pensiun PT Pertamina.

Diketahui, pada 2014 Edward yang kebetulan pemegang saham mayoritas PT Sugih Energi Tbk (SUGI) berkenalan dengan Muhammad Helmi Kamal. Tujuannya perkenalan itu agar Dana Pensiun Pertamina bersedia membeli saham SUGI.

Selanjutnya Edward pun menginisiasi Helmi untuk membeli 2 miliar lembar saham SUGI senilai Rp601 miliar melalui PT Millenium Danatama Sekuritas (MDS). Perbuatan Helmi Kamal dalam pembelian saham SUGI telah merugikan keuangan negara sebesar Rp599 miliar lebih, seperti laporan hasil pemeriksaan investigatif BPK.

Dalam realitasnya, uang yang diterima PT MDS dari hasil transaksi penjualan saham SUGI-Dana Pensiun Pertamina tersebut ternyata telah digunakan untuk menyelesaikan pembayaran kewajiban pinjaman atau kredit dari Ortus Holding Ltd milik Edward.

Rinciannya, pembayaran sejumlah pinjaman dengan jaminan repo saham SUGI milik Ortus Holding, yaitu Rp51,7 miliar, Rp10,6 miliar, Rp52,6 miliar, Rp461 miliar, dan pembayaran kewajiban Sunrise Aseet Grup Limited kepada Credit Suisse dengan total Rp29,2 miliar. (A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More