Indonesia Peringkat Pertama Dunia Korban Bencana

Penulis: Depi Gunawan Pada: Jumat, 26 Apr 2019, 13:16 WIB Nusantara
Indonesia Peringkat Pertama Dunia Korban Bencana

MI/Depi Gunawan
Kepala BNPB Doni Monardo saat menghadiri acara Hari Kesiapsiagaan Bencana di Sesko AU Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (26/4).

SELAMA kurun waktu 19 tahun terakhir, Indonesia menduduki peringkat kedua dalam jumlah korban bencana terbanyak setelah Haiti. Sedangkan pada 2018, posisinya meningkat menjadi peringkat pertama di dunia dalam jumlah korban bencana.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengungkapkan Indonesia memiliki 11 potensi ancaman bencana seperti gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan, banjir dan longsor.

"Setiap daerah memiliki karakteristik dan ancaman berbeda. Sehingga pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan dan peringatan dini harus dilakukan. Termasuk dua tahun ke depan, sistem peringatan dini bisa terintegrasi," kata Kepala BNPB, Doni Monardo saat peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana di Sesko AU Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (26/4).

Saat bencana tahun lalu, dia menyebutkan jumlah korban jiwa di Indonesia mencapai lebih dari 4.000 jiwa sehingga Indonesia menduduki peringkat pertama korban bencana di dunia.

"Perempuan lebih banyak jadi korban bencana karena pengetahuan bencananya kurang. Dan mereka punya jiwa ingin melindungi keluarganya. Oleh karena itu, kami mendorong agar perempuan bisa memahami kebencanaan," ungkapnya.

Lebih jauh, pada 2018 lalu total kerugian materi akibat bencana mencapai Rp100 triliun. Pemda melalui gubernur maupun walikota bisa mengalokasikan dana dari APBD untuk pra bencana.

baca juga: 200 Rumah di Bengkulu Terendam Banjir

"Sinergitas antar kelima unsur di antaranya akademisi, dunia usaha,komunitas dan pemerintah harus dilakukan dalam penanganan bencana," jelasnya.

BNPB menunjuk wilayah Lembang sebagai tempat puncak peringatan Kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2019. Sebab di wilayah ini terdapat
patahan atau sesar Lembang aktif yang sering mengalami pergeseran sekitar 0,5 cm pertahun.

"Peringatan hari kesiapsiagaan bencana di Lembang, kenapa? Karena  Lembang ada patahan yang cukup aktif. Kemudian penduduknya sangat banyak, kalau terjadi pergeseran dan timbul gempa, masyarakat tidak siap berarti timbul korban banyak," ucap Doni.

BNPB serta sejumlah kementerian dan lembaga memutuskan mengambil tempat di Lembang. Sekaligus mengajak masyarakat mulai dari tingkat kecamatan hingga RT/RW untuk terlibat dalam kegiatan ini.

Untuk mencegah risiko bencana sesar Lembang, dia menambahkan pihaknya telah melakukan upaya pencegahan di antaranya memasang papan informasi zona sesar Lembang, rambu-rambu hingga penanaman pohon yang bisa bertahan lama. Kemudian membuat jalur atau rute evakuasi serta menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat.

"Jenis pohon yang dipilih pun berusia ratusan tahun antara lain mahoni tahura dan damar, dua pohon ini teruji di Jabar menjadi bagian vegetasi
yang cocok, bebernya. (OL-3)

 

Berita Terkini