Demi Tekad Keliling Indonesia

Penulis: Fathurrozak Pada: Kamis, 02 Mei 2019, 06:00 WIB Weekend
Demi Tekad Keliling Indonesia

MI/ BARY FATHAHILAH
Travel Blogger Dendy Selmaeza

JALAN-JALAN, dibayar pula. Itu jadi keinginan banyak orang rasanya. Terlebih di era Instagram yang mampu menjadi medium berbagi pengalaman perjalanan seseorang. Barat Daya, merupakan salah satu travel blogger yang  lekat dengan konten foto aerial dan insta-blogging­-nya. Istilah yang digunakan sang empunya akun untuk merujuk bercerita lewat Instagram.

Menilik akun @baratdaya_ di Instagram, kita akan menemukan hampir kebanyakan foto-foto aerial lanskap alam. Akun tersebut dimiliki pria bernama lengkap Dendy Selmaeza. Dendy memulai hobi dibayarnya sejak berkuliah, meski saat dirinya SMA di Payakumbuh, Sumatra Barat, hobi jalan-jalannya sudah ia salurkan. Dendy memulai dengan mendaki gunung, plesiran ala backpacker, sampai akhirnya tiket pesawat gratis selama setahun mampir ke dirinya, dan menjadi pemantik semakin getol jalan-jalan keliling ke berbagai daerah di Indonesia.

"Mulai coba backpacker-an, karena saat itu lagi ramai-ramainya, akhirnya memberanikan diri, pada 2014 ke Jawa Timur. Saat itu masih naik gunung, ke Mahameru, berangkat dari Depok sama temen-temen rantau Minang. Habis travelling, cek-cek folder, milih foto yang layak buat di-share, terus jadi buka lagi foto lama ketika masih SMA pas ke Gunung Marapi. Ternyata banyak juga fotonya, bikinlah Instagram, share satu-satu dan banyak yang suka, padahal masih seadanya," ungkap Dendy, (6/2).

Dendy yang saat itu belum memiliki kamera, akhirnya menekuni fotografi pada 2016 melalui kamera pertamanya. Ia pun punya tekad keliling 34 provinsi di Indonesia selepas turun dari Mahameru.

"Travelling itu suatu virus yang berkelanjutan, kalau sudah sekali bakal mau lagi dan lagi. Punya tekad harus melakukan sesuatu, masa hidup gini-gini saja, dulu sih tekad keliling 34 provinsi sebelum usia 20 tahun, saat masih usia 18 tahun dan masih kuliah. Baru tercapai 20 provinsi saat usia 20 tahun. Nah, jadi menoleransi, usia 22 targetnya harus kelar, tinggal 4 provinsi yang belum," lanjutnya.

Cerita-cerita perjalanannya itu ia bagikan di Instagram, kemudian belakangan ia membuat blog, untuk menampung kisah yang lebih lengkap dan foto yang lebih banyak. Selain karena untuk mengakomodasi para pengikutnya di Instagram, blog juga ia gunakan untuk menjaga napas cerita yang bertahan lebih lama di internet.

"Perbedaannya, di Instagram interaksi memang langsung banyak, tapi enggak lifetime, seminggu paling tenggelam, sedangkan blog makin lama postingan itu ada, bakal naik terus jadi orang baca terus. Memang harus memanfaatkan dua-duanya," terang Dendy.

Teman daerah
Barat Daya yang awalnya hanya punya 500-an pengikut, kini sudah punya 23,9 ribuan pengikut. Meski menganggap masih banyak akun lain yang punya pengikut lebih banyak, ia menuturkan salah satu yang membuat
pengikutnya bertambah pada saat ia membagikan konten, juga berkat bantuan akun pengunggah ulang (repost). Hanya saja, menurutnya lagi, saat ini hal tersebut juga tidak terlalu berpengaruh. Sebab, audiens juga sudah punya preferensi mereka, dan yang terpenting ialah produksi konten berkualitas.

Menurutnya, akun Barat Daya mulai dilirik pemegang merek mulai akhir 2016. Saat itu, ia ditawari sponsorship dari salah satu brand e-commerce berupa tiket gratis pesawat selama setahun. Paling tidak dalam satu bulan, ia mendapat jatah empat tiket.

Tawaran itu disambut baik olehnya. Meski cuma dimodali tiket, bagi Dendy itu cukup membantunya mewujudkan cita-cita keliling Indonesia. Adapun untuk akomodasi, ujarnya, ia tertolong oleh dukungan para pengikutnya di dunia maya.

"Itulah enaknya Instagram, ketika nyemplung ke dunia ini, punya banyak teman yang sering komentar, bales DM (direct message), dari situ saya coba manfaatkan kalau lagi jalan, temuin orang ini, niatnya ngopi doang, dan ketika punya interest sama, jadi dibantu temen di Instagram saat traveling. Saya sebutnya local guide, siasati dengan nyari temen di sana, enggak bisa bener-bener sendiri," tuturnya.

Sebagai penganut light travelling, lelaki yang berkuliah teknik mesin ini tidak mau repot membawa banyak barang. Ia cukup mengandalkan ransel berkapasitas 20 liter untuk mengangkut kamera mirrorless, lensa wide dan fix, ponsel, drone, serta mikrofon untuk kebutuhan video. Dari foto-foto yang dibagikan, Barat Daya ingin menonjolkan sisi petualang, pejalan solo, dan makna cerita di balik foto perjalanannya. Sebab itu, ia pun sangat mengatur konsep konten yang akan diunggahnya.

"Dikemas dengan enggak sembarangan, posting sekali sehari atau dua hari, harus sesuai dengan konsep dan tone. Editing dipikirin, tapi sebatas warna, enggak nambahin objek. Intinya, foto layak dan tulisan yang enak dibaca, Saya gabungkan keduanya untuk menciptakan konten yang bagus."

Soft selling
Pundi-pundinya pun tidak datang begitu saja. Butuh proses untuk mencapai Barat Daya yang saat ini, dari awalnya yang hanya tiket gratis setahun, kini ia juga rutin menerima kerja sama dari beberapa produk. Meski, saat itu juga sebenarnya ia juga sudah menerima beberapa proyek kerja sama, namun yang ia paling anggap besar ialah tiket gratis setahun.

"Paling gede kebanyakan dari buzzer buat produk untuk brand awareness, kampanye sesuatu dengan cara soft selling. Kadang juga ada yang kontrak jangka panjang misal 10 postingan. Nulis di beberapa platform seperti e-commerce, perusahaan digital kan kadang juga butuh konten. Terus dari projek offline, ini dari klien online yang kadang lagi enggak butuh konten buat di-buzzing, suka kerja sama lagi. Dari buzzing enggak selalu ada, ada bulan di mana lagi sepi."

Menurut pengakuannya, dalam sekali unggahan foto, ia bisa memperoleh pemasukan berkisar antara Rp1 juta-5 juta. Namun, ini juga tergantung negosiasi dengan pihak yang ingin bekerja sama. Dalam sebulan, misalnya, ia mencontohkan misal ada dua hingga tiga produk yang mampir, dan membutuhkan dua hingga tiga unggahan. Dengan rerata angka unggahan yang disebutkan, pendapatannya tentu cukup menggiurkan. "Mulai investasi dikit-dikit untuk alat-alat (foto dan video). Lumayan buat bayar kosan, bikin coffe shop, haha.." kelakarnya.

Baginya, travel blogger kini bisa menjadi profesi yang menjanjikan. Sebab, menurutnya, saat ini ialah era digital yang bertautan dengan dunia kreatif. Sehingga, siapa pun bisa masuk ke dunia ini, asal punya bekal dan mampu bertahan.

"Profesi itu kan ketika melakukan sesuatu yang menghasilkan buat kita. Travel Blogger bisa jadi profesi, kalau boleh jujur ini dunia influencer yang sangat dinamis, enggak bisa kita ngandelin dari itu aja, brand awareness yang udah dibangun harus dijaga, enggak bisa ngandelin duit dari buzzer terus, bakal ada barat daya lainnya yang menggantikan kalau enggak tetap kreatif."

Kendati demikian, Dendy tetap memiliki siasat 'cadangan' sehingga kelak tidak selalu bergantung pada posisinya sebagai pemengaruh (influencer) yang amat dinamis.

"Ketika pas lagi naik-naiknya, ambil ilmu dan networking, ngerjain yang offline, misal dulu kerjain video iklan klien buat online dan diunggah ke Instagram saya, sekarang lebih sering ke offline, di balik layar saja, memanfaatkan jaringan itu," pungkasnya. (M-2)

VIDEO TERKAIT:

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More