Selasa 23 April 2019, 05:45 WIB

Pemerintah Peringatkan Wartawan

(Yan/AFP/X-11) | Internasional
Pemerintah Peringatkan Wartawan

Noel CELIS / AFP
Presiden Filipina Rodrigo Duterte

 

PEMERINTAH Filipina memperingatkan para wartawan di negara itu untuk tidak berusaha ‘menghancurkan’ kepemimpinan Presiden Rodrigo Duterte. Juru bicara pemerintah juga menuduh banyak wartawan yang menyebarkan kabar bohong.

Peringatan itu dikeluarkan menyusul munculnya berita tentang keterlibatan keluarga Duterte dalam bisnis narkoba sekaligus menyoroti naiknya tingkat kekayaan presiden tersebut.

“Ada yang berusaha menghancurkan pemerintah dengan menyebarkan kabar bohong,” kata juru bicara, Salvador Panelo, Senin (22/4).

Panelo lalu menayangkan gambar yang dikatakannya sebagai seorang pria yang disebut-sebut sebagai bagian dari keluarga Duterte. Pria itu dituduh terlibat perdagangan narkoba dan tuduhan itu kemudian disebar seorang wartawan kepada rekannya yang bekerja di media lainnya di Filipina.

Media itu sendiri selama ini terkenal selalu memberita­kan tentang tindakan keras Duterte dalam memberantas perdagangan narkoba di Filipina. Akibat tindakan keras itu, lebih dari 5.000 tersangka pengedar narkoba tewas di tangan polisi Filipina. Kelompok-kelompok HAM kemudian menyebut aksi itu sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.

Panelo mengatakan, pemerintahan Duterte sudah memberi peringatan terhadap para wartawan dan media tersebut. Namun, sejauh ini pihaknya belum akan melancarkan tuntutan hukum terhadap mereka.

“Namun, kalau mereka tidak berhenti menyebarkan kabar bohong dan melakukan hal-hal yang melanggar hukum, ceritanya akan beda lagi,” tegasnya.

Duterte secara terbuka telah murka terhadap lembaga investigasi bernama Philippine Center for Investigative Journalism (PCIJ) pada pekan lalu. Penyebabnya, PCIJ menerbitkan laporan tentang naiknya harta kekayaan sang presiden.
“Saya juga bisa bertindak. Jadi, Anda di PCIJ lebih baik tidak macam-macam,” kata Duterte.

Tuduhan
Tudingan Panelo ini muncul beberapa pekan setelah pemerintah Filipina dua kali menahan wartawan Maria Ressa yang juga pimpinan situs berita Rappler. Ressa ditahan terkait dengan dugaan penggelapan pajak dan kejahatan lainnya.

Panelo menyebut, Ressa dan Rappler lalu PCIJ dan Vera Files sebagai bagian dari organisasi media yang berupaya menjatuhkan kepemimpinan Duterte.

Panelo lalu menuding pemimpin Vera Files, yakni Ellen Tordesilas sebagai pelaku penyebaran klip video tentang dugaan keterlibatan keluarga Duterte dalam perdagangan narkoba di Filipina.

Ressa tidak tinggal diam dan membalas tuduhan Pane­lo tersebut. Melalui akun Twitter-nya, Ressa menyebutnya sebagai ‘cara terbaru dari istana untuk mengganggu pekerjaan wartawan’.

Sementara itu, PCIJ menyatakan laporannya dibuat berdasarkan dokumen resmi yang dirilis Duterte sendiri, yaitu soal daftar pajak kekayaan tahunan. (Yan/AFP/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More