Sisir Data C1, War Room TKN Bongkar Kebohongan Data BPN

Penulis: Dero Iqbal Mahendra Pada: Minggu, 21 Apr 2019, 21:05 WIB Politik dan Hukum
Sisir Data C1, War Room TKN Bongkar Kebohongan Data BPN

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
War Room merupakan pusat penghitungan suara riil Pemilu serentak 2019 yang dilakukan TKN berdasarkan hasil foto Formulir C1

WAKIL Direktur Saksi Lukman Edi mengungkapkan pihaknya telah menyisir data C1 yang diperoleh dari para saksi di TPS sekaligus mengupas data yang diungkap oleh Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) yang mengklaim kemenangan 62% Prabowo dari real countnya.

"Datanya kami kupas, kami analisis dan ternyata kami menemukan seperti ini. Ada dua contoh, yakni Lampung dan Jakarta," tutur Lukman dalam konferensi persnya di Grand Melia Jakarta, Minggu (21/4).

Dari data Provinsi Lampung yang berdasarkan entry data war room yang sudah 50% menunjukkan kemenangan Jokowi sebesar 57,6% di Lampung sedangkan Prabowo Sandi hanya 42,33%. Angka tersebut sama dengan hasil hitung cepat Charta Politica (57,93%), SMRC (57,75%) dan LSI Deni JA (58,1%) di lampung itu sendiri.

"Kami kupas yang klaim 62%, ternyata di sana kami dibuat 40,91% dengan kemenangan paslon 02 sebesar 59,09%. Setelah kami lihat itu bohong, mereka hanya memasukkan 30 TPS saja di Lampung," tutur Lukman.

Hal serupa juga terjadi di DKI Jakarta, berdasarkan data TKN yang sudah hampir 40% entry data. Data tersebut menunjukkan nilai yang hampir sama dengan temuan real count KPU dan hitung cepat tiga lembaga survei.

Berdasarkan data tersbeut capres 01 unggul 55,4% dengan real count KPU 54,2% sedangkan pada dua lembaga survei lainnya 51,74% dan 51,9%. Sedangkan berdasarkan data dari BPN yang menyatakan menang di Jakarta setelah ditelisik hanya memasukkan data 300 TPS, ini menjadi kebohongan kedua BPN.

Baca juga: TKN Pamerkan War Room Input Data C1 Real Count

"Kami akan setiap hari mengeluarkan kebohongan-kebohongan ketika kami sudah entry data lebih dari 40%. Karena ketika sudah lebih dari 40% itu sudah stabil angka naik turunnya perolehan persentase kita. Paling dekat itu Bali dan Jatim kami akan rilis lagi kebohongan ketiga dan keempat serterusnya," pungkas Lukman.

Dia menjelaskan saat ini data yang sudah masuk mencapai 14,6% dari TPS. Data tersebut menurutnya sedikit lebih maju dari milik KPU yang baru 11,01%. Dari data tersebut posisi Jokowi-Amin terlihat 55,16% dan data KPU 54,8%.

"JAMIN, aplikasi yang kami buat untuk melakukan koreksi terhadap C1 di seluruh Indonesia. Visinya H+1, sama dengan KPU H+5, sudah 100% tapi ada kendala. Kendala kami dengan KPU sama, pemilu sekarang tak ada rekapitulasi tingkat desa. 2014 entry sata C1 cepat karena umumnya lalukan entry di tingkat desa, bukan tingkat TPS. Hari ini di Kecamatan yang dimulai hari ini di seluruh Indonesia," jelas Lukman.

Oleh sebab itu menurutnya dalam satu hingga dua hari kedepan rekapitulasi kecamatan dapat selesai akan membuat percepatan dalam entry data dibandingkan saat ini yang berbasis TPS. Angka dari hasil yang diperolehnya menurut Lukman tidak berbeda jauh dengan hasil quick count yang dilakukan lima penyelenggara berbeda.

Koordinator IT Saksi Novamenjelaskan data data yang diperoleh tim di war room berasal dari seluruh saksi yang ada di TPS dari partai partai politik koalisi capres 01. Pihaknya meyakini para saksi tersebut memasukkan data yang lebih realible dibandingkan dengan para relawan karena berkomitmen dengan pihaknya.

Nova pun menilai pihaknya telah memiliki data lengkap dari mana C1 itu berasal, siapa yang bertugas, koordinatornya siapa dan semuanya dapat dihubungi langsung. Proses verifikasi berjenjang tetap dilakukan pihaknya untuk memastikan keakuratan data.

"Jadi kami memiliki data berdasarkan saksi partai di lapangan. Mereka sudah terdata by name dan by addres nya sehingga dapat lebih dipercaya, jika ada yang tidak benar bisa langsung kami kontak yang bersangkutan," terang Nova. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More