Investasi Manufaktur kian Cerah

Penulis: Nur Aivanni Pada: Minggu, 21 Apr 2019, 08:45 WIB Ekonomi
Investasi Manufaktur kian Cerah

MI/M Taufan SP Bustan
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

PEMERINTAH optimistis akan terjadi peningkatan investasi dan ekspansi pada sektor industri manufaktur setelah penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Terlebih, dengan pengimplementasian peta jalan Making Indonesia 4.0, bisa menumbuhkan industri secara optimal dan mendorong kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

"Setelah Pemilu 2019 banyak proyek prioritas yang akan berjalan, termasuk pula beberapa proyek prioritas seperti dalam industri petrokimia. Selain itu, finalisasi peraturan mengenai mobil listrik dan pemberian insentif bagi industri," ungkap Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, di Jakarta, kemarin.

Airlangga mencontohkan dalam rapat terbatas Presiden Joko Widodo dengan sejumlah menteri kabinet kerja disampaikan bahwa pemerintah Arab Saudi akan berinvestasi pada sektor industri petrokimia senilai US$6 miliar atau setara dengan Rp84,31 triliun. Rencana investasi tersebut dibahas ketika Presiden Jokowi melakukan kunjungan ke 'Negara Minyak' itu beberapa waktu lalu.

Arab Saudi, jelas Airlangga, ingin melakukan kerja sama untuk menjadikan Indonesia sebagai hub bagi industri petrokimia mereka di kawasan Asia Tenggara. Untuk itu, Presiden Joko Widodo menginstruksikan jajaran kementerian dan lembaga terkait agar segera melakukan kajian untuk merealisasikan investasi industri petrokimia yang merupakan salah satu bentuk sektor manufaktur tersebut.

"Kementerian Perindustrian sendiri bakal terus mendorong tumbuhnya industri petrokomia di Indonesia untuk memperdalam struktur manufaktur dari sektor hulu sampai hilir," ujar Airlangga.

Berdasarkan data Kemenperin, Airlangga menjelaskan, investasi pada sektor industri manufaktur terus tumbuh signifikan. Pada 2014, penanaman modal masuk Rp195,74 triliun, kemudian naik mencapai Rp222,3 triliun pada 2018.

Peningkatan investasi mendongkrak penyerapan tenaga kerja hingga 18,25 juta orang pada 2018 yang berkontribusi sebesar 14,72% terhadap total tenaga kerja nasional.

"Untuk sepanjang 2019 ini, Kemenperin menargetkan pertumbuhan industri manufaktur dapat mencapai angka 5,4%," pungkas Airlangga.

Jaga momentum
Secara terpisah, ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal menilai pasca-Pemilu 2019, pelaku pasar bakal merespons positif. Karena itu, pemerintah harus bisa menjaga momentum positif dengan cara memperkuat fundamental perekonomian seperti pada sektor industri.

Namun, Fithra mengingatkan respons positif tersebut berlangsung hingga rekapitulasi akhir Komisi Pemilihan Umum (KPU) secara nasional pada 22 Mei mendatang. Setelah itu, respons pelaku pasar tidak meningkat signifikan sebagaimana respons atas hasil hitung cepat (quick count).

"Kecuali kalau nantinya pengumuman kabinet (presiden terpilih) sesuai ekspektasi mereka (pelaku pasar/investor), itu bisa jadi berbalik lagi lebih positif," terang Fithra.

Terkait adanya klaim kemenangan atas Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 dari kedua calon presiden, menurut dia, tidak akan membuat investor menjadi khawatir terhadap perekonomian di Indonesia.

"Sebab mereka (investor) melihat bagaimana sebenarnya situasi keamanan di Indonesia pascapilpres, (dan ternyata) masih kondusif," tutup Fithra. (E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More