Cambuk dan Penyaliban di Filipina

Penulis: (AFP/ Denny Parsaulian Sinaga/I-1) Pada: Sabtu, 20 Apr 2019, 05:00 WIB Internasional
 Cambuk dan Penyaliban di Filipina

(Photo by NOEL CELIS / AFP)
Para bakta Kristen Filipina dipakukan pada salib saat pemeragaan kembali Penyaliban Kristus pada Jumat Agung

RATUSAN pria bertelanjang kaki memukuli diri mereka dengan cambuk. Lalu, setidaknya 10 orang dipakukan ke kayu salib saat perayaan Jumat Agung dalam tampilan semangat Katolik dengan lumuran darah di Filipina.

Laki-laki bertelanjang kaki yang mengenakan mahkota ranting-ranting berjalan diam-diam di sisi jalan desa di tengah panasnya terik tropis Filipina Utara. Mereka mencambuk punggung mereka dengan potongan bambu yang diikat pada seutas tali.

Sementara itu, banyak dari 80 juta umat Katolik Filipina menghabiskan Jumat Agung di gereja atau bersama keluarga, yang lain berusaha keras untuk menebus dosa dalam tontonan yang telah menjadi daya tarik wisata utama.

"Ini adalah janji religius. Saya akan melakukan ini setiap tahun selama saya mampu," kata pengemudi truk berusia 38 tahun, Resty David, yang telah melakukan flagellating sendiri selama setengah hidupnya di desanya di Filipina Utara.

Dia mengatakan dan berharap itu akan meyakinkan Tuhan untuk menyembuhkan saudaranya yang terserang kanker.

Banyak orang di antara kerumunan telah berjam-jam menyaksikan klimaks dari tontonan berdarah hari itu. Orang-orang percaya dan membiarkan diri mereka dipakukan untuk suatu peragaan ulang penyaliban Yesus Kristus. "Saya sedikit kewalahan. Ini sangat intens, saya tidak mengharapkan sesuatu seperti ini," kata turis Jerman, Annika Ehlers, 24, kepada AFP.

Ehlers mengatakan bahwa dia telah menyaksikan penyaliban terjadwal pertama dari 10 hari di desa-desa di sekitar Kota San Fernando, sekitar 70 km utara Manila.

Paku sepanjang delapan sentimeter ditembuskan ke dua tangan dan kaki pria itu, sebelum salib kayu dinaikkan sebentar agar dilihat orang banyak. Setelah itu, paku dicabut dan dia diberikan perawatan medis.

Gereja mengatakan, umat beriman harus menghabiskan pra-Paskah dalam doa dan refleksi. "Penyaliban dan kematian Yesus lebih dari cukup untuk menebus umat manusia dari dampak dosa. Itu adalah peristiwa sekali seumur hidup yang tidak perlu diulangi," kata Konferensi Waligereja Katolik Filipina Pastor Jerome Secillano.

"Pekan Suci bukan waktunya menunjukkan kecenderungan manusia untuk memberi hiburan dan kecenderungan seperti oleh orang-orang Farisi," tambahnya.

Hampir 80% orang di Filipina beragama Katolik. Itu merupakan warisan kekuasaan kolonial Spanyol saat berkuasa 300 tahun yang berakhir pada pergantian abad ke-20. (AFP/ Denny Parsaulian Sinaga/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More