Senin 15 April 2019, 16:10 WIB

Menristekdikti Dorong Kampus Cetak SDM Unggul Jadi Entrepreneur

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Menristekdikti Dorong Kampus Cetak SDM Unggul Jadi Entrepreneur

Ist
Menristekdikti, M Nasir saat ceramah umum

 

MENGHADAPI era revolusi industri 4.0, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melaksanakan program pemerintah dengan menyiapkan dan mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul. Di antaranya mendorong kalangan kampus dan mahasiswa menjadi entrepreneur atau pengusaha.

"Jadi kemajuan era revolusi industri berdampak 'great shifting' pada sumber daya manusia. Tadinya mereka bekerja akibat kemajuan teknologi tergantikan dan pekerjaan mereka hilang.

Saat ini sudah mulai banyak lapangan pekerjaan yang digantikan oleh teknologi sebab itu mahasiswa harus menyiapkan diri tidak hanya menjadi pegawai atau tenaga kerja namun juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja maka jadilah wirausaha atau entrepreneur," kata Menristekdikti, M Nasir, saat ceramah umum 'Peran Mahasiswa dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 di Kampus Universitas Mataram (Unram), Lombok, Nusa Tenggara Barat, Senin (15/4).

Acara yang dipandu Rektor Unram Lalu Husin itu dihadiri Gubernur NTB Zulkiflmansah, anggota Komisi VII DPR Kurtubi, Direktur Pembelajaran Kemenristekdikti Paristiyanti, Direktur Pengembangan Kelembagaan Kemenristekdikti Ridwan, serta 2.000-an mahasiswa dari berbagai kampus di Aula Unram.

Nasir menjelaskan, akibat kemajuan teknologi terjadi perubahan mendasar di antaranya dengan artificial intelligent atau kecerdasan buatan yang mengakibatkan dewasa ini terdapat 1,8 juta lapangan pekerjaan tergantikan atau hilang.

Dia mencontohkan jalan tol yang dahulu dijaga dengan mempekerjakan manusia sekitar 20 ribu pekerja kini dengan menggunakan e-money di lintas Tol Jawa, Sumatra, dan Sulawesi terdapat sekitar 20 ribu pekerja tol tergantikan.

Mantan Rektor Universitas Diponegoro ini meminta mahasiswa memetik inspirasi kesuksesan SDM Indonesia yang kreatif dan inovatif yang menjadi wirausaha dari kecil hingga sukses menjadi unicorn Indonesia. Di antaranya Nabiel Makarim, pendiri Gojek, dan Ahmad Zaki, pendiri Bukalapak.

"Mereka ini merintis wirausahanya menjadi entrepreneur dari bawah dan modal kecil. Namun kini berkembang pesat hingga mempunyai aset triliunan rupiah," ungkapnya.

Nasir kembali mengingatkan melalui revolusi industri 4.0 persaingan di dunia kerja semakin ketat. Maka lulusan perguruan tinggi harus memiliki kompetensi lebih untuk mendapatkan pekerjaan. Nasir mengutarakan Google dan Apple, kedua perusahaan besar dunia dalam rekruitmen tidak menanyakan lulusan dari kampus mana.

"Tetapi kamu punya kompetensi apa, kemampuan dan prestasi apa," pungkasnya.

 

Baca juga: Tim Pengkaji Ratu Kalinyamat Konsolidasikan Bukti

 

Sebelumnya, Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Prof Dr Jumain Appe, pada peresmian pelatihan Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) di Jakarta, pekan lalu, mengatakan, penting mindset atau pola pikir berorientasi entrpreneur sehingga khususnya alumni perguruan tinggi ketika lulus tidak hanya mencari kerja namun mampu menciptakan lapangan kerja.

Pentingnya pola pikir kewirausahaan ini diharapkan mampu melahirkan mahasiswa yang menjadi pemula rintisan bisnis atau startup dari kampus.

Jumain mencontohkan hal sama sejumlah startup yang merintis dari awal hingga berhasil dan sukses menjadi unicorn seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, dan lain-lain.

"Mereka awalnya dari startup kecil hingga menjadi besar. Maka saya ingin acara ini menjadi momentum kebangkitan dunia kampus tumbuh menjadi startup sehingga apa yang dirintis CPBBT ini berkelanjutan dan mandiri," cetusnya.

Dalam kesempatan itu, Jumain mengutarakan bahwa program startup yang dirintis masih belum maksimal. Menurutnya, program CPPBT yang telah dijalankan tiga tahun sejak 2016 itu masih sebatas insentif yakni para peneliti belum mampu memberi manfaat dan kontribusi ke masyarakat bahkan banyak CPPBT yang mati di tengah jalan atau di lembah kematian.

"Masih banyak inovator perguruan tinggi mati di tengah jalan ini kita sebut sebagai 'lembah kematian'.

Maka ke depannya, kita harus melakukan perubahan yang mengarahkan hasil penelitian menjadi produk yang memiliki nilai bisnis atau usaha," cetusnya.

Sebab itu, ia berharap mahasiswa maupun dosen harus melakukan penelitian yang berorientasi pada kebutuhan.

Pola pikir harus diubah menjadi inovasi yang mampu menyelesaikan persoalan di masyarakat dengan melibatkan sumber daya alam sendiri maupun sumber daya alam dari luar.

Dalam kesempatan sama, Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Retno Sumekar, menyatakan hal senada. Selama empat tahun terakhir, terdapat 558 CPPBT dari perguruan tinggi atau CPPBT-PT, yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia.

Namun, dari total 558 CPPBT tersebut yang naik kelas menjadi Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) hanya 59 CPPBT atau 10,57% saja.

Sehingga dengan rendahnya calon startup perguruan tinggi itu menjadi PPBT pada tahun ini Kemenristekdikti menggelar kegiatan pelatihan atau CPPBT Boot Camp 2019, yang bertujuan mengembangkan kemampuan calon startup untuk dapat naik kelas ke tahap lanjut.

Dia mengutarakan, dari 130 proposal terpilih, mahasiswa dan dosen terbanyak meneliti di bidang pangan, informasi teknologi, kesehatan, energi transportasi dan material sumber daya alam.

Kegiatan Boot Camp 2019 ini meliputi workshop, seminar, dan inspirational talk dari para calon startup yang sudah naik kelas ke dalam PPBT tersebut serta para entrepreneur sukses lainnya.

"Pelatihan ini, kami berikan agar investor bisa mengubah pola pikir tidak hanya melihat hasil riset atau penelitian mereka namun dari hilir untuk dapat dikomersialkan," pungkasnya. (OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More