Kemenangan Jokowi-Amin

Penulis: Gun Gun Heryanto Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute dan Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta Pada: Kamis, 18 Apr 2019, 04:10 WIB Opini
Kemenangan Jokowi-Amin

MI/Seno
Ilustrasi

AKHIRNYA, puncak kontestasi Pemilu 2019 sudah dilalui dengan situasi yang kondusif dan aman terkendali, paling tidak sampai hari H pencoblosan. Banyak pihak menunggu hasil siapa yang akan menjadi presiden dan wakil presiden, selain juga DPR-RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota, dan DPD.

Namun, pilpres tentu mendapat perhatian lebih karena sejak penetapan dua pasangan kandidat hingga memasuki masa kampanye panjang sekitar 7 bulan, pertarungan wacana, manajemen isu, dan manajemen konfliknya luar biasa gegap gempita.

Hitung cepat
Melihat data-data hitung cepat dan exit poll, pasangan 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin sukses mendulang suara lebih banyak dari Prabowo Subiato-Sandiaga Uno dan unggul sementara menurut versi hitung cepat beberapa lembaga. Hitung cepat Litbang Kompas, saat tulisan ini dibuat, data yang masuk sudah 76,75% dan hasilnya Jokowi-Amin (54,28%), sedangkan pasangan Prabowo-Sandiaga 45,72%.

Data Indo Barometer saat data yang masuk 75,42%, Jokowi-Amin 53,81% unggul atas Prabowo-Sandiaga 46,19%. Charta Politika dengan data masuk 85,9% memosisikan Jokowi-Amin(54,17%) dan Prabowo-Sandiaga 45,83%.

Poltracking Indonesia dengan data masuk 81,35%, suara Jokowi-Amin 54,87% dan Prabowo-Sandiaga 45,13%. Indikator Politik Indonesia dengan data masuk 79,9%, Jokowi-Amin 54,44% dan Prabowo-Sandiaga 45,56%. SMRC saat data masuk 82,19% menempatkan Jokowi-Amin 54,92% dan Prabowo-Sandiaga 45,08%.

LSI Denny JA dari data yang masuk 91,10%, Jokowi-Amin 55,28% dan Prabowo-Sandiaga 44,72%. CSIS dan Cyrus Network saat data masuk 88,36%, Jokowi-Amin 55,81% dan Prabowo-Sandiaga 44,19%.

Apa makna data-data tersebut? Tentu saja secara metodologi, ini menggambarkan lebih awal kemenangan pasangan Jokowi-Amin sebelum real count KPU diumumkan. Hitung cepat (quick count) atau parallel vote tabulation (PVTs) merupakan metode yang diadopsi dari The National Democratic Institute (NDI).

Hitung cepat bukan sekadar untuk tahu hasil pemilu lebih awal, melainkan juga bisa menjadi data perbandingan bagi hasil resmi KPU. Jadi, hitung cepat bisa dimaknai juga sebagai alat untuk mengawal hasil demokrasi elektoral.

Dengan demikian, sungguh tidak tepat jika ada pihak-pihak yang langsung menuduh lembaga-lembaga yang melakukan hitung cepat telah melakukan persekongkolan memenangkan salah satu pasangan.

Kita harus memahami bahwa hitung cepat sebagai metode akademik untuk memverifikasi hasil pemilihan umum yang dilakukan dengan menghitung persentase hasil pemilu di TPS yang dijadikan sampel.

Tentunya, sangat berbeda dengan survei perilaku pemilih. Semakin besar pengambilan sampel TPS, semakin besar peluang akurasi hitung cepatnya.

Jika data hitung cepat sebuah lembaga survei jika dibandingkan dengan lembaga lain yang melakukan hitung cepat punya kemiripan data tentang hasil pemilu, semakin mengukuhkan kemenangan Jokowi-Amin yang diunggulkan di berbagi hasil hitung cepat tersebut.

Kemenangan kita
Hal menarik ialah respons Jokowi saat menyampaikan pidato kemenangan (victory speech) di Djakarta Theater, Rabu (17/4) petang. Ada tiga substansi pesan yang disampaikan dalam pidato singkat itu. Pertama, Jokowi meminta agar seluruh masyarakat Indonesia bersabar, menunggu hasil resmi yang akan diumumkan KPU. Kedua, Jokowi menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
 
Ini menjadi pesan sangat penting, mengingat kondisi kontestasi yang sangat menggerus semangat kekitaan sebagai warga bangsa. Polarisasi yang sangat tajam, muncul akibat perbedaan pilihan yang ada di tengah masyarakat.

Ketiga, Jokowi mengucapkan terima kasih kepada KPU, Bawaslu, dan DKPP. Selain itu juga mengapresiasi kinerja jajaran Kepolisan dan TNI yang mengamankan dan membantu ketertiban selama proses Pemilu 2019 di berbagai daerah di Indonesia.

Isi pidato Jokowi ini simpatik dan membangun semangat rekonsiliasi. Hal yang penting untuk disuarakan seusai kemenangan yang didapatkan. Kemenangan tidak perlu glorifikasi berlebihan karena di saat bersamaan tentu pasangan kubu 02 beserta para pendukungnya sedang tidak bahagia atas hasil yang diperolehnya. Sensitif atas situasi dengan tidak mengekspresikan kemenangan secara berlebihan sudah dipraktikkan Jokowi-Amin. Hal positif ini, tentu saja harus ditindaklanjuti juga oleh tim pemenangan, relawan, dan simpatisan. Kemenangan bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menyatukan.

Kemenangan harus diletakkan dalam kepentingan yang lebih besar, yakni konsolidasi demokrasi Indonesia. Larry Diamond dalam bukunya Developing Democracy: Toward Consolidation (1999), memberi catatan bahwa konsolidasi demokrasi itu soal bagaimana kita merawat stabilitas dan persistensi demokrasi. Tak cukup regulernya sirkulasi elite lima tahunan, butuh juga memastikan negara kita stabil dan memiliki daya tahan memadai di tengah kuatnya arus polarisasi dukungan di pilpres.

Kemenangan tentunya harus didedikasikan untuk semua bangsa Indonesia. Setelah Jokowi-Amin memenangi kontestasi, agenda penting berikutnya ialah memastikan persatuan Indonesia kembali terajut erat. Tak ada lagi pendukung Jokowi dan Prabowo, tidak ada lagi cebong dan kampret, tetapi kembali ke identitas sosial kita sebagai bangsa Indonesia.

Tentu, menjadi hak dari kubu Prabowo-Sandiaga untuk mempertanyakan hasil pemilu. Yang paling penting, bagi kubu penantang ialah pembuktian di sidang sengketa pemilu, jika mereka tak bisa menerima penetapan hasil pemilu nantinya. Kanal-kanal penyelesaian masalah sudah disiapkan melalui UU Pemilu dan peraturan KPU. Tinggal pihak-pihak yang dirugikan bisa menggunakan penyelesaian hukum tersebut secara bijak dan bertanggung jawab.

Kemenangan Jokowi-Amin harus dimaknai juga sebagai tugas berat keduanya untuk mengemban amanah sebagai pemimpin nasional. Banyak tantangan yang akan dihadapi Jokowi-Amin di periode kedua. Tak bisa lagi berleha-leha dan mengumbar retorika. Saatnya kembali kerja, kerja, dan kerja!

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More