Sejarah Tinta Pemilu Ternyata dimulai di India

Penulis: Abdillah Marzuqi Pada: Rabu, 17 Apr 2019, 16:20 WIB Weekend
Sejarah Tinta Pemilu Ternyata dimulai di India

Indiatoday.in
Penggunaan tinta jari di pemilu di India.

FOTO jari bertinta pemilu tampak jadi trending di sosmed hari ini. Noda tinta itu memang bukti otentik partisipasi di pesta demokrasi

Tak hanya Indonesia, banyak negara yang menggunakan metode celup tinta untuk mencegah kecurangan. Tinta yang digunakan harus tahan lama untuk mencegah pemilih mencoblos ulang.

Tinta Pemilu ternyata punya sejarah panjang. Penggunaan tinta dalam Pemilu telah lebih dari 50 tahun. Berawal dari Pemilu pertama di India pada 1951-52. Saat itu, komisi pemilihan India dihadapakan pada maraknya pencurian identitas.

Pemilih yang sudah memilih, datang lagi ke pemungutan suara untuk memberikan suara lagi. Komisi pemilihan India lalu memikirkan cara untuk mencegah pemilihan ganda.

Laboratorium Fisika Nasional India (NPL) lalu diminta untuk mengembangkan formula tinta unik yang tidak akan mudah terhapus. Itu dilakukan untuk memastikan bahwa pemilihan dilakukan dengan adil tanpa ada kesalahan. NPL menyusun formula rahasia dan menggandeng perusahaan Mysore Paints and Varnish Ltd. untuk memproduksi tinta.

Tinta itu lalu digunakan pertama kali dalam pemilihan umum ketiga India pada 1962. Tinta itu efektif menghentikan pencurian identitas selama periode pemungutan suara. Hingga saat ini, perusahaan itu menjadi produsen tinta untuk pemilu yang dipasok ke 35 negara di seluruh dunia, termasuk Afghanistan, Turki, Lakshadweep, Singapura, Kanada.

Memang tidak semua negara yang menganut sistem pemungutan suara menggunakan tinta. Beberapa negara menggunakan nomor jaminan sosial untuk mencegah pemilih menggunaka hak suara dua kali.

Berdasarkan informasi dari website Kemenperin RI, pada umumnya tinta sidik jari Pemilu memiliki spesifikasi daya lekat kuat pada kuku atau lapisan kulit ari, tidak mudah terhapus air, air sabun maupun cairan yang mengandung klorin. Tinta itu menggandung senyawa perak nitrat yang pelekatan warna pada lapisan kutikula kuku dan eidermis kulit.

Daya lekat perak nitrat sangat kuat, sehingga tinta yang mewarnai kulit maupun kuku tidak mudah hilang. Warna baru akan pudar atau hilang seiring dengan tumbuhnya lapisan kutikula atau epidermis kulit baru.

Senyawa perak nitrat sebenarnya berisiko pada kesehatan. Senyawa itu menyebabkan iritasi pada kulit dan mata (jika terpercik) dalam jangka waktu panjang senyawa ini dapat mempengaruhi sistem syaraf. Oleh karena itu, WHO membatasi kadar maksimal penggunaan senyawa perak nitrat sebesar 4%. Pada Pemilu 2019, beberapa daerah juga mulai menggunakan bahan lain untuk tinta celup, seperti penggunaan kunyit. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More