Merajut kembali Toleransi Pascapemilu

Penulis: Dro/P-2 Pada: Selasa, 16 Apr 2019, 08:00 WIB Politik dan Hukum
Merajut kembali Toleransi Pascapemilu

MI/RAMDANI
RAJUTAN SOSIAL PASCAPEMILU: Tokoh kebangsaan Franz Magnis Suseno (kanan), Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan

ROHANIWAN sekaligus Budayawan Franz Magnis Suseno atau yang akrab disapa Romo Magnis menyatakan untuk merajut nilai-nilai kebangsaan dan toleransi pascapemilu, komunikasi memegang peranan penting.

“Saya merasa sangat setuju bahwa hal terpenting (dalam merajut nilai kebangsaan) adalah komunikasi,” tuturnya dalam diskusi bertajuk Strategi Kebudayaan dan Rajutan Sosial Pascapemilu, di Jakarta, kemarin.

Dalam diskusi yang dipra­karsai­ Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP) itu, ia mengaku merasakan bahwa konsep dalam Islam, rahmatan lil alamin, sangat membantu menjelaskan kepada banyak pihak bahwa semua agama harus memberikan rahmat bagi umat lainnya. Meski dalam praktik komunikasinya harus dilakukan secara konsisten dan terus-menerus.

Romo Magnis menekankan perlunya keteladanan dari tokoh untuk merajut toleransi dalam situasi sosial politik kekinian. Dia mencontohkan peristiwa pertemuan Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar yang menunjukkan adanya upaya membangun hubungan saling percaya sebagai suatu hal yang positif dan dapat menjadi contoh.

Dalam kaitan tersebut, menurutnya, di Indonesia tidak perlu memulainya dari nol karena sudah menjadi tata nilai. Ia menilai hubungan umat kristiani dan umat muslim di Indonesia saat ini jauh lebih baik.

Dalam kesempatan yang sama, peneliti LIPI Adriana Elisabeth memandang intoleransi­ yang ada di Indonesia hari ini bukan suatu hal yang instan terjadi. Itu sudah ada indiksi sejak lama yang tidak disadari. Indonesia memiliki berbagai kearifan lokal yang sebetulnya mampu mencegah intoleransi. Ia menyebut keadaan di Papua dapat menjadi contoh toleransi antarumat beragama yang sangat nyata.

Selama ini, kata dia, banyak yang memahami mayoritas di Papua ialah kristen, tetapi Islam juga sudah lama masuk di wilayah tersebut dan memberi warna dalam toleransi di sana. Artinya, banyak yang belum paham ada banyak hal dari lingkungan kita yang menjadi contoh sangat nyata bagaimana toleransi dibangun,” jelas Adriana.

Kontestasi politik saat ini telah menimbulkan pembelahan­ di masyarakat. Namun, ia yakin hal itu akan kembali mencair. (Dro/P-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More