Peretasan Akun Anggota BPN Bisa karena Lalai atau Playing Victim

Penulis: Mediaindonesia.com Pada: Senin, 15 Apr 2019, 23:06 WIB Politik dan Hukum
Peretasan Akun Anggota BPN Bisa karena Lalai atau Playing Victim

MI/M. Irfan
Juru bicara Tim Kamapnye Nasional Jokowi-Amin Irma Suryani Chaniago

JURU Bicara Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) paslon 02, Ahmad Riza Patria menuding pemerintah sebagai biang keladi peretasan akun–akun media sosial pendukung Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Bukan hanya Said Didu, menurut Riza, sebelumnya pesohor lain pendukung Prabowo-Sandiaga seperti Haikal Hasan dan Ferdinand, akun media sosialnya juga diretas. Riza bilang tidak lain hal itu ulah pemerintah.

"Siapa yang bisa melakukan ini tentu orang yang punya kekuasaan, teknologi, anggaran dan sebagainya. Mudah-mudahan dengan sisa waktu ini tidak terjadi lagi," katanya.

Menanggapi hal ini, anggota tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf AMin, Irma Chaniago berpendapat pihak-pihak yang merasa akunnya diretas sedang playing victim untuk meraih simpati.'

Baca juga : NasDem Sebut Ada yang Sengaja Menyerang Pihaknya

Menurut dia tidak menutup kemungkinan, pemilik akun sendirilah yang memposting konten-konten negatif.

"Soalnya platform media sosial seperti Twitter, FB, maupun Whatsapp kan sudah menggunakan pengamanan berlapis," ujar Irma, Senin (15/4).

Atau, lanjut Irma, aksi peretasan itu bisa juga terjadi karena kelalaian dari pengguna media sosial itu sendiri.

"Apalagi, mereka-mereka ini adalah influencers yang punya banyak haters, seharusnya mereka ini lebih waspada terhadap keamanan siber," tukasnya.

"Karena platform medsos telah menggunakan pengamanan berlapis, pilihannya hanya dua. Pertama lalai atas akun sendiri, kedua yaitu sengaja playing victim," imbuh Irma. (RO/OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More