Program B30 Siap Diuji Coba

Penulis: Andhika Prasetyo Pada: Selasa, 16 Apr 2019, 04:00 WIB Ekonomi
Program B30 Siap Diuji Coba

ANTARA FOTO/Aprillio
Petugas menunjukkan sampel bahan bakar minyak (BBM) B-20, B-30, dan B-100 di Jakarta,

GUNA mengurangi impor migas, pemerintah sejak tahun lalu menerapkan kebi­jak­an mandatori penggunaan 20% campuran minyak kelapa sawit dengan solar untuk bahan bakar minyak. Selain itu, tujuan program ini ialah meningkatkan serapan komoditas tersebut di dalam negeri.

Tahun ini, program tersebut ditingkatkan menjadi sebesar 30% atau lazim disebut B30. Pemerintah menargetkan ­program pengembangan solar dengan bauran minyak sawit sebesar 30% akan rampung pada Oktober mendatang dan bisa digunakan secara publik tahun depan.

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan meng-ung­kapkan pihaknya saat ini baru akan melakukan uji coba dengan jarak 40 ribu kilometer guna memastikan bahan bakar bauran tersebut aman untuk kendaraan.

“Selama tes itu kita akan cek olinya, gas buangnya, mesinnya, untuk memastikan semua aman,” ujar Paulus dalam aca-ra Pembekalan Journalist Fellowship di Jakarta, kemarin.

Dengan beresnya pengembangan B30, diyakini serapan minyak sawit mentah(crude palm oil/CPO) untuk keperluan biodiesel akan terus melonjak. Tahun depan, ditargetkan penggunaan CPO untuk bahan bakar di dalam negeri akan men­­capai 9 juta kiloliter atau setara 7,8 juta ton. Jauh lebih tinggi dari proyeksi tahun ini yang hanya 6,2 juta kiloliter atau setara 5,4 juta ton.

Target-target tersebut dinilai bukan hal yang sulit dicapai. Pasalnya, dalam dua bulan pertama tahun ini, serapan CPO untuk B20 (bauran 20% mi-nyak sawit untuk bahan bakar kendaraan) sudah mencapai 1,2 juta ton. Artinya, rata-rata setiap bulan, ada 550 ribu ton minyak sawit yang digunakan untuk kebutuhan bahan bakar domestik.

Paulus mengungkapkan penggunaan yang masif di dalam negeri juga akan membuat harga di tingkat global merangkak naik.

Sejak pemerintah menerap­kan B20 pada akhir tahun la­lu, kata dia, harga CPO mulai mengalami perbaikan. Pada akhir tahun lalu, harga minyak sawit mentah sempat menyen-tuh di bawah US$500, tetapi pada Februari tahun ini sudah sedikit pulih ke angka rata-rata US$556,50 per ton.

Serapan domestik yang begitu besar juga tentunya akan menghilangkan ketergantungan Indonesia terhadap pasar-pasar dunia terutama Uni Ero­pa. Dengan begitu, jika ada negara-negara yang memutuskan untuk tidak menggunakan minyak nabati bersumber CPO, Indonesia tidak akan ke­labakan.

“Tetapi tujuan kita bukan un­tuk menutup rapat-rapat ekspor CPO. Kita hanya ingin membatasi agar stok di dunia tidak banjir dan harga tetap terjaga,” jelasnya.

Serapan dalam negeri
Penggunaan CPO untuk baur­an bahan bakar juga dilaku­kan untuk memangkas impor minyak yang selama ini menjadi momok besar karena menggerogoti devisa negara.

“Kami sudah berkomitmen menyerap B20 untuk memperbanyak serapan dalam negeri. Kebutuhan kita itu banyak se­kali. Target kita saja tahun ini 6,2 juta ton, jadi pasti ada dampaknya terhadap pengurangan impor migas,” ucap Sek­retaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Kanya Lakshmi Sidarta.

Menurut dia, serapan CPO untuk B20 memang terus bertumbuh dari bulan ke bulan. Pada Januari serapan CPO un­tuk B20 sebesar 552 ribu ton dan meningkat menjadi 648 ribu ton pada Februari. (E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More