KPU Akui PPLN Kaget dengan Membludaknya Partisipasi Pemilih

Penulis: Insi Nantika Jelita Pada: Senin, 15 Apr 2019, 21:40 WIB Politik dan Hukum
KPU Akui PPLN Kaget dengan Membludaknya Partisipasi Pemilih

MI/Arya Manggala
Komisioner KPU, Pramono Ubaid Tanthowi

KOMISIONER Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pramono Ubaid Tanthowi mengaku pihak Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) kaget dengan jumlah partisipasi pemilih di luar negeri yang membludak. 

Dari pemberitaan yang ada, di beberap negara masih banyak pemilih di luar negeri yang tidak mendapatkan memberikan haknya karena keterbatasan surat suara.

"Mungkin mereka kaget, karena tingkat partisipasi pemilih pada pemilu 2014 untuk pileg itu hanya 23%. Sekarang membludak begini, itu agak mengagetkan," ujarnya di Gedung KPU, Menteng, Jakarta, Senin (15/4).

 

Baca juga: Besok, Bawaslu Sampaikan Klarifikasi Final Pemilu di Malaysia

Kebanyakan pemilih di luar negeri yang membludak tersebut masuk kategori dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK), yakni nama mereka tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Mereka bisa memilih dengan menunjukan identitas berupa paspor.

"Antisipasinya enggak bisa. Surat suara hanya dipatok DPT sama 2% cadangan. Mau antisipasi gimana. Dugaan kami karena DPK, masyarakat kita antusiasmenya muncul belakangan (ikut mencoblos)," ucap Pramono.

Ia menjelaskan bahwa anggota PPLN sudah melakukan sosialisasi jauh hari kepada pemilih di luar negeri, bahkan kata Pramono, dari Desember tahun lalu.

"Ternyata mereka masih pasif untuk mengetahui hal itu. Membludaknya pemilih misalnya dari mahasiswa-mahasiswa semester akhir yang datang (ke luar negeri untuk kuliah), mereka enggak bisa terfasilitasi karena masuk DPK. Tapi sepanjang Surat Suara masih tersedia, masih bisa dilayani," pungkasnya. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More