Prospek Rupiah ke Depan Cerah

Penulis: (Nur/E-1) Pada: Selasa, 16 Apr 2019, 02:45 WIB Ekonomi
Prospek Rupiah  ke Depan Cerah

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Pekerja menghitung uang Dollar Amerika Serikat dan Rupiah di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta,

NILAI tukar (kurs) rupiah  ditutup menguat seiring dengan positifnya data neraca perdagangan Indonesia untuk Maret 2019.  

Rupiah menguat 57 poin atau 0,41% menjadi 14.063 per dolar AS dari sebelumnya 14.120 per dolar AS.    

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, mengatakan neraca perdagangan Maret yang mengalami surplus sebesar US$540 juta  membantu rupiah terapresiasi terhadap dolar AS.   

“Dengan realisasi ekspor dan impor, terjadi surplus untuk dua bulan berturut-turut. Di Februari 2019 terjadi surplus US$330 juta dan di Maret senilai US$540 juta,”  ujar Ibrahim.  

Dalam debat capres-cawapres akhir pekan lalu, Presiden Joko Widodo yang juga calon petahana membocorkan bahwa defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada kuartal I-2019 sebesar US$6,7 miliar, lebih baik daripada kuartal ­sebelumnya yang minus US$9,15 miliar.   

“Potensi neraca pembayaran yang lebih baik tentu menjadi sentimen positif bagi rupiah,” tandas Ibrahim.     

Pengusaha nasional Sofjan Wanandi mengharapkan kinerja neraca perdagangan Indonesia yang dalam periode Maret 2019 mengalami surplus dapat berlanjut.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah memprediksi bahwa neraca dagang Indonesia ke depannya akan membaik. “Kembali ke pola sebelumnya yakni surplus di nonmigas dan defisit di migas,” kata Piter.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika mengatakan surplus yang terjadi menunjukkan pemerintah berhasil membalik pandangan pesimistis sejumlah pihak yang memprediksi neraca perdagangan Maret bakal defisit US$464 juta hingga US$1 miliar.

Pengusaha Sofjan Wanandi berharap surplus itu akan terus berlanjut. (Nur/E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More