PBNU Imbau Masyarakat Rayakan Pesta Demokrasi dengan Damai

Penulis: M Sholahadhin Azhar Pada: Senin, 15 Apr 2019, 20:05 WIB Politik dan Hukum
PBNU Imbau Masyarakat Rayakan Pesta Demokrasi dengan Damai

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Guma
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj

PENGURUS Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan beberapa imbauan bagi seluruh pihak untuk menyambut Pemilihan Umum 17 April 2019. Sebagai salah satu organisasi Islam tertua di Tanah Air, PBNU menghendaki pemilu yang damai.
 
"Pemilu adalah ‘pesta’ demokrasi yang selayaknya dirayakan dengan damai dan tetap menjaga semangat persaudaraan bukan permusuhan," kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (15/4).
 
Sejak Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 17 November 1997, pihaknya telah mendukung pemilu. Pemilihan dalam negara demokrasi seperti Indonesia dianggap sebagai manifestasi prinsip syura di dalam Islam yang sah dan mengikat.

Atas dasar itu, ia meminta seluruh masyarakat berpartisipasi dan tak termasuk dalam golongan putih (golput). Pasalnya, pemilu yang jujur dan adil adalah jalanmewujudkan tujuan dan cita-cita nasional.
 
Said tak lupa mengimbau jajaran penyelenggara pemilu untuk menjamin penyelenggaraan pemilu seadil-adilnya, sejujur-jujurnya. Hal ini untuk menjamin perwujudan demokrasi Indonesia yang bermartabat.
 
"Tindak dan jangan pernah berkompromi dengan politik uang yang terbukti merusak demokrasi dan menimbulkan cacat legitimasi," kata dia.
 

Baca juga: Komunikasi Faktor Penting untuk Merajut Toleransi Pasca-Pemilu


Untuk para kontestan, Said mendorong agar mereka bahu membahu menciptakan suasana politik yang damai. Hal tersebut menjadi tanggung jawab mereka, terlepas dari tugas TNI dan Polri untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban.
 
Artinya, kontestan diminta tak menggunakan provokasi, ujaran kebencian, berita hoaks maupun hal lain yang bisa mencederai semangat pemilu. Mereka juga diminta siap menang atau kalah dalam menerima hasil pemilu.
 
"Jika merasa keberatan terhadap hasil pemilu, maka menggunakan prosedur dan mekanisme konstitusional yang tersedia, sebagaimana ketentuan peraturan perundangan-undangan yang berlaku," ujar Said.
 
Said menilai imbauan ini penting disampaikan. Pasalnya, ini adalah pemilu serentak pertama kali di Indonesia dengan dampaknya masif. Selain mempertegas demokrasi yang maju dan beradab di Tanah Air, keberhasilan pemilu juga membentuk persepsi dunia atas Indonesia.
 
Hal ini menyangkut bagaimana dunia memandang Indonesia sebagai negara mayoritas muslim mampu menyelengarakan pemilu secara serentak. Di samping itu, Indonesia juga bakal menjadi tolok ukur dalam menyandingkan Islam dan demokrasi dalam satu tarikan napas.
 
"Pemilu berbartabat adalah cerminan bangsa yang berbudaya, beradab. Mari kita wujudkan bersama," pungkas dia. (Medcom/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More