Darmin: Indonesia Sudah Lama Bangkit Dari Deindustrialisasi

Penulis: Atalya Puspa Pada: Senin, 15 Apr 2019, 19:50 WIB Ekonomi
 Darmin: Indonesia Sudah Lama Bangkit Dari Deindustrialisasi

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Menko Perekonomian Darmin Nasution (kiri) dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto membuka IIS

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, menegaskan saat ini Indonesia tidak mengalami deindustrialisasi.

Darmin menyatakan, Indonesia memang pernah berada dalam masa deindustrialisasi, namun itu terjadi ketika masa setelah krisis moneter pada 1998 silam.

“Deindustrialisasi sebenarnya terjadi pada tahun 1998-2002. Tapi secara perlahan kita sudah bisa memengaruhi supaya infrastrukturnya menyamai dengan pertimbuhan ekonomi," kata Darmin dalam Indonesia Industrial Summit (IIS) 2019 di ICE, BSD, Tangerang, Banten, Senin (15/4).

Darmin menuturkan, pemerintah sendiri tengah mempersiapkan transformasi ekonomi, mulai dari infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) untuk memajukan perekonomian Indonesia.

 

Baca juga: Sektor Industri Indonesia Tempati Posisi Kelima di G20

 

Sementara itu, dari segi sektor industri, Indonesia tidak hanya dapat mengembangkannya dari sisi sumber daya alam (SDA) dan manufaktur, melainkan juga dari segi industri jasa dan pariwisata yang juga dapat mendatangkan devisa.

"Jadi, jangan terlalu mengikuti pakem-pakem dunia di masa lalu. Dunia itu bergerak. Berubah. Apalagi di sektor jasa di tengah adanya digitalisasi,” tukasnya.

Seperti diketahui, beberapa waktu belakangan deindustrialisasi tengah ramai diperbincangkan. Calon presiden nomor urut 02 menyebut Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi dalam debat pamungkas Sabtu (13/4) lalu.

Prabowo mengatakan, di tengah maraknya industrialisasi, Indonesia malah mengalami deindustrialisasi karena tidak memproduksi apapun. (A-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More