Jumat 12 April 2019, 07:15 WIB

Generasi Milenial Harus Fahami Pancasila sebagai Ideologi Bangsa

Mediaindonesia.com | Humaniora
Generasi Milenial Harus Fahami Pancasila sebagai Ideologi Bangsa

Ist
Dosen Universitas Pertahanan (Unhan) Indonesia, Laksdya TNI (Purn) Widodo SE MSc

 

IDEOLOGI Pancasila merupakan falsafah bangsa Indonesia yang sudah tidak boleh ditawar-tawar lagi. Pancasila merupakan konsensus nasional yang diramu dan sudah disepakati oleh bangsa Indonesia yang beragam untuk menjaga kerukunan serta membangun kedamaian untuk menghindari kerusakan maupun pertumpahan darah. 

Namun, di era globalisai saat ini, pemahamam masyarakat terutama para generasi milenial terhadap Pancasila mulai tergerus dengan mulai masuknya ideologi lain. Padahal, Pancasila merupakan warisan dari pendahulu bagi generasi muda untuk tetap konsisten dalam menjaga perdamaian di Indonesia. 

Menjaga Pancasila sebagai pedoman bagi bangsa  tentu bukan sekadar menjaga warisan para pendahulu, tetapi juga amanat generasi milenial sebagai khalifah untuk menjaga bangsa ini dari kerusakan dan pertumpahan darah akibat perpecahan. Generasi muda harus bisa memaknai Pancasila sebagai ideologi bangsa yang dapat menyatukan dan menciptakan kedamaian di masyarakat

“Pancasila sudah final bagi negara dan bangsa ini. Kita tidak boleh selalu berorientasi pada budaya luar, di mana budaya luar ini belum tentu semuanya cocok di Indonesia. Karena culture kita adalah kebinekaan di mana bangsa kita terdiri atas bermacam macam suku, ras, agama yang  bisa mempersatukan semuanya,” ujar Dosen Universitas Pertahanan (Unhan) Indonesia, Laksdya TNI (Purn) Widodo SE MSc, di Jakarta, Kamis (11/4).

Namun demikian, mantan Sekjen Kementerian Pertahanan ini mengakui kalau dengan situasi negara yang sangat terbuka serta pesatnya teknologi sekarang, maka belakangan ini sudah mulai banyak paham-paham lain yang masuk secara uncontrol, baik melalui media sosial, lingkungan, atau melalui mana pun. Sehingga beberapa siswa merasa Pancasila ini seperti semacam indoktrinasi.

“Itu bisa terjadi karena ada masukan-masukan yang salah, mungkin di sekolahnya juga tidak terlalu dalam untuk memberikan pemahaman yang utuh mengenai Pancasila kepada siswanya. Apalagi di sekolah hanya mata pelajaran tertentu atau paket-paket akademis yang diberikan beberapa SKS saja sudah selesai. Ini yang membuat Pancasila tergerus di mata generasi milenial ini,” ujar Widodo.

Ia mengatakan keengganan para generasi milenial untuk melihat sejarah Pancasila sebagai ideologi bangsa disebabkan saat ni mereka sudah dapat sajian-sajian secara instan yang lebih mudah dan lebih menarik sesuai dengan pola pikirnya. Apalagi, era sekarang, segala sesuatu sudah dibikin lebih mudah. Dia mencontohkan mau apa saja sekarang mudah dengan satu smartphone itu.

Smartphone itu bisa membuat kita menjadi maju tapi juga bisa merusak. Tetapi kenyataanya sekarang ini lebih banyak merusaknya. Bahkan kita terkadang sudah jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Contohnya, kita acara reuni di sebuah ruangan,  bukannya berkomunikasi dan berinteraksi, tetapi malah sibuk dengan smartphone masing-masing. Itu terjadi di kalangan anak sekolah. Awalnya mereka janjian mau makan atau kumpul bareng, setelah ketemu mereka malah sibuk sendiri dengan smartphone. Itu yang terjadi,” ujarnya.

Dengan melihat hal itu, menurutnya, mau tidak mau para orangtua, sekolah, guru-guru, dan institusi terkait harus ikut bertanggung jawab tentang ini juga harus turun tangan dengan sering melakukan ceramah-ceramah, sering turun ke daerah-daerah. Karena masih ada kantong-kantong yang tidak tersentuh masalah ini. Dan tentunya ini sangat berpotensi untuk menjadikan mereka tidak paham tentang ideologi yang benar.

 

Baca juga: Penguasaan Teknologi Menentukan Daya Saing Bangsa

 

“Kondisi sekarang di era keterbukaan ini mau tidak mau sangat perlu. Mengapa? Karena kita lihat dari pernyataan anak-anak milenial ini mulai ada distorsi tentang pemahaman tersebut. Ini karena mereka  kemasukan paham-paham radikal, paham-paham milenial yang relatif sesuai dengan alur pikir mereka. Itu yang mungkin perlu kita terus tekankan masalah Pancasila pada mereka,” ujar Widodo.

Melihat kondisi itu, lanjut dia, harus ada wadah untuk menyegarkan kembali tentang Pancasila di sekolah-sekolah. Hal itu harus diwujudkan pemerintah karena kalau tidak maka akan terjadi banyak distorsi tentang pengembangan sendiri ideologi Pancasila dengan wacana sendiri-sendiri.

“Ini harus dikawal, sehingga seluruh kewajiban di sekolah, baik sekolah negeri, swasta, maupun sekolah-sekolah asing, yang namanya selama menggunakan negara Indonesia wajib hukumnya dan tidak ada pilihan lain untuk mengucapkan Pancasila, mengibarkan bendera tiap Senin dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu yang tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah swasta dan sekolah asing di Indonesia ini,” ucapnya.

Dia memberikan gambaran, anak Indonesia yang sekolah di luar negeri bahkan di sekolahnya diminta untuk menyanyi lagu kebangsaan dan menghormati bendera negara tersebut. Karena hal tersebut dilakukan untuk merawat integritas maupun kecintaan anak tersebut kepada negara yang lama-lama akan tumbuh ideologinya. 

Untuk itu, Widodo meminta kepada dunia pendidikan terutama kepada para guru untuk dapat mendidik  para generasi milenial ini secara sungguh-sungguh. Ini agar  mereka mempunyai integritas atau punya kemauan untuk mengontrol lingkungan sekitar nantinya.

“Kalau zaman Sumpah Pemuda 1928 itu ada Jong Java, Sumatra, Celebes, dan lainnya untuk memerdekakan, ternyata mereka bisa bersatu. Itu sama halnya sebagai kekuatan yang luar biasa kalau nanti pemerintah bisa mewadahi itu. Karena anak muda ini butuh saluran. Kalau tidak disalurkan dia bisa akan cari sendiri-sendiri dan itu akan berbahaya buat bangsa ini kalau mereka tersusupi yang tidak benar,” pungkasnya. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More