Publik Muak Hadapi Hoaks

Penulis: Dhika kusuma winata Pada: Jumat, 12 Apr 2019, 09:05 WIB Politik dan Hukum
Publik Muak Hadapi Hoaks

Ilustrasi
Berita Hoaks

MASYARAKAT Telematika Indonesia (Mastel) tahun ini kembali menggelar survei mengenai berita hoaks untuk melihat perkembangan persepsi masyarakat perihal penyebaran kabar bohong dan dampaknya terhadap kehidupan berbangsa.

Dari hasil survei diketahui sekitar 61,5% responden berpendapat hoaks sangat mengganggu. Jumlah itu meningkat dari 43,5% pada survei serupa yang dilakukan Mastel pada periode 2017. "Sebanyak 61,5% masyarakat yang disurvei menyatakan hoaks sangat meresahkan dan memuakkan. Itu meningkat dari survei sebelumnya pada 2017," jelas Direktur Eksekutif Mastel Arki Rifazka di Jakarta, kemarin.

Survei yang dirilis 10 April 2019 itu juga mengungkapkan responden yang berpendapat hoaks sangat mengganggu kerukunan masyarakat sebanyak 81,9% pada 2019, meningkat dari 75,9% pada 2017. Yang berpendapat hoaks sangat menghambat pembangunan, meningkat dari 70,2% menjadi 76,4%.

Sementara itu, terdapat 54,3% responden berpendapat alasan maraknya penyebaran hoaks karena digunakan sebagai alat untuk menggiring opini publik, termasuk kampanye hitam. Sebanyak 5,8% responden berpendapat ada yang memanfaatkan hoaks untuk kepentingan bisnis.

Survei tersebut dilakukan secara daring dalam kurun 1-15 Maret 2019 dengan melibatkan 941 responden. Rentang usia responden, 20-24 tahun (27,8%), 25-40 tahun (35,8%), 41-55 tahun (25%), di atas 55 tahun (4,90%), 16-19 tahun (6,1%), dan di bawah 15 tahun (0,30%).

Pertanyaan yang diajukan pada survei tersebut, antara lain soal definisi hoaks, perilaku masyarakat dalam menyikapinya, bentuk, dan saluran hoaks, dampak hoaks, dan penanggulangannya.

Sebanyak 88% responden menjawab bahwa hoaks adalah berita bohong yang disengaja; 49% berpendapat hoaks ialah berita yang menghasut, 61% berpendapat hoaks adalah berita yang tidak akurat, 31% berpendapat hoaks sebagai berita yang menjelekkan orang lain.

Sementara itu, sebanyak 93,2% responden mengaku bahwa berita seputar sosial politik menjadi konten berita hoaks yang sering mereka terima.

Media sosial

Hasil survei lembaga Digitroops Indonesia menyebutkan isu hoaks yang beredar, khususnya di media sosial dan dialamatkan kepada capres tertentu terbukti menurunkan elektabilitas, terutama di pemilih yang aktif di media sosial.

Peneliti Digitroops Indonesia Yusep Munawar Sofyan mengatakan survei itu melibatkan 1.200 responden dari seluruh provinsi di Indonesia pada Maret 2019 dengan margin of error kurang lebih 2,8%.

Dari total populasi, sebanyak 44,5% atau 534 responden merupakan pengguna media sosial. Sebanyak 61,6% menyatakan hoaks sudah terlalu banyak. Hal senada dinyatakan 55,5% responden yang tidak memiliki media sosial menilai bahwa hoaks sudah terlalu banyak dengan persentase mencapai 37,2%.

"Bila dibandingkan, pemilih yang memiliki media sosial rentan sekali terkena hoaks. Mereka juga mengakui bahwa pemberitaan media memengaruhi pilihan dalam pemilu," kata Yusep.

Salah satu isu hoaks yang paling banyak mendapat perhatian publik ialah isu masuknya jutaan tenaga kerja asing. Sebanyak 48,2% menyatakan pernah mendengar isu itu dan 46,9% di antaranya menyatakan percaya dengan isu tersebut. (Ant/P-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More