Faisal Basri: Perekonomian Indonesia tidak Pernah Dikuasai Asing

Penulis: Atalya Puspa Pada: Kamis, 11 Apr 2019, 22:10 WIB Ekonomi
Faisal Basri: Perekonomian Indonesia tidak Pernah Dikuasai Asing

MI/Rommy Pujianto
Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri

EKONOM Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyatakan, tudingan terkait Indonesia yang dikuasai pihak asing adalah tidak benar.

Berdasarkan data yang dihimpun, Indonesia justru jauh dari dikuasai asing. Ia menyatakan, peranan asing justru relatif kecil dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB).

"Sepanjang sejarah kemerdekaan, perekonomian Indonesia tidak pernah didominasi oleh asing," ujar Faisal dalam Orasi Kebudayaan Kampanye Ekonomi 2019 di The Energy Building, Kamis (11/4).

Faisal menjelaskan, arus investasi langsung asing (foreign direct investment) yang masuk ke Indonesia rata-rata setahun hanya sekitar 5% dari keseluruhan investasi fisik atau pembentukan modal tetap bruto.

Angka tersebut tergolong sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam (50,5%), Bolivia (33,7%), Asia (25,7%), dan Asia Tenggara (66,1%).

"Akumulasi kehadiran investasi langsung asing hingga sekarang tidak sampai seperempat dari produk domestik bruto (PDB)," tegasnya.

Faisal juga menilai, partisipasi aktif Indonesia dalam perekonomian dunia adalah pilihan yang jauh lebih baik ketimbang terus menerus menjadi katak dalam tempurung dengan menghalau impor.

Pasalnya, perekonomian global hingga kini kian terintegrasi. Faisal menuturkan, dalam sebuah perekonomian yang paling primitif sekalipun, tidak semua barang kebutuhan bisa diproduksi sendiri, dan karenanya harus didatangkan dari luar.

Baca juga: Prabowo Sebut tak akan Keluarkan Izin Impor Kecuali Terpaksa

"Dengan demikian, pernyataan siapa pun yang sesumbar bahwa impor tidak perlu dan karenanya harus dihentikan sama sekali, jelas adalah bualan," tukas Faisal. (X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More