Jadikan Dusta Politik Musuh Bersama

Penulis: Mediaindonesia.com Pada: Kamis, 11 Apr 2019, 12:30 WIB Politik dan Hukum
Jadikan Dusta Politik Musuh Bersama

MI/BARY FATHAHILAH
Diskusi Rabu Satu Talkshow di Rumah Cemara, Menteng, Jakarta, Rabu (10/4).

PENYEBARAN hoaks terkait pilpres 2019 memadati ranah media sosial. Hoaks bisa merusak akal sehat dan keutuhan bangsa. Mari, kita bergandengan tangan menangkal hoaks dengan kebaikan kolektif, berlandaskan akal budi yang sehat dan kesadaran beragama.

Pesan tersebut yang ingin disampaikan dalam diskusi Rabu Satu dengan tema Hoaks, Golput dan Masa Depan Bangsa di Rumah Cemara Jakarta, Rabu (10/4). Talkshow kali ini dibuka oleh Direktur Konten TKN Jokowi-Amin Fiki Satari dan menghadirkan narasumber lainnya seperti mantan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang, Politikus PDIP Budiman Sudjatmiko serta praktisi Digital marketing Aswin Regawa yang bertindak sebagai moderator.

Dalam pembukaannya, Fiki memaparkan beberapa contoh isu hoaks seperti hasil pemilu di luar negeri, hasil survei hingga hoaks lain yang tidak hanya menyerang salah satu pasangan calon bahkan mencoba menjatuhkan kredibilitas Komisi Pemilihan Umum.

"Hal ini harus mendapat perhatian penuh dari kita semua dan mengundang semua pihak untuk menjadikan hoaks dan dusta politik sebagai musuh bersama," tegas Fikri.

Berdasarkan data, jumlah hoaks terkait pilpres 2019 yang lalu-lalang di media sosial telah menembus angka 1.200 pada periode Agustus 2018-Maret 2019. Aswin Regawa menyampaikan, kondisi ini berpengaruh terhadap kontestasi pilpres. Bahkan, bukan tidak mungkin, hoaks akan terus bertambah mendekati hari pencoblosan, 17 April 2019.

Tuan Guru Bajang atau yang karib disapa TGB pun menyampaikan kekhawatirannya, sebab pemilu merupakan proses untuk memperbaiki dan menciptakan kemaslahatan bangsa dan negara. Oleh karena itu, perang melawan hoaks menjadi sangat penting bagi setiap warga negara Indonesia Maju.

"Yang disasar hoaks itu aset kita yang paling berharga, intangible asset, yakni persatuan dan persaudaraan. Hoaks merusak perekat kita sebagai suatu bangsa," ungkap TGB.

TGB pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan hoaks musuh bersama. Terutama umat Islam yang kerap dijadikan sasaran.

"Dalam surat Al-Isra' ayat 36 disebutkan, Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Kita sebagai umat Islam akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah kelak," ujar TGB.

Hendaknya, lanjut TGB, ayat tersebut menjadi pegangan untuk menetapkan suatu standar dalam mengonsumsi makanan rohani.

"Jika kita datang ke pengajian yang isinya ujaran atau umpatan terhadap seseorang, tinggalkan! Karena itu bukan sesuatu yang pantas kita dengar. Itu bukan makanan rohani, ini toxic," tegasnya.

Selain merusak keutuhan bangsa, hoaks juga menimbulkan kebimbangan para pemilik suara terdaftar dalam pilpres 2019. Namun, TGB mengingatkan, sesungguhnya berpartisipasi dalam pemilu bagian dari ibadah dan bentuk tanggung jawab moral sebagai anak bangsa.

TGB berpesan, agar pemilih melihat rekam jejak calon pemimpin di kancah pilpres 2019 untuk menentukan siapa yang layak dipilih.

"Cari yang paling banyak maslahatnya. Nanti ketemu yang paling sedikit mudharatnya. Cek sejarahnya di ruang publik," ujarnya.

Baca juga: Hasil Penghitungan Suara Luar Negeri Hoaks

Sementara itu, politikus PDIP Budiman Sudjatmiko menjelaskan semburan dusta politik menyasar kapasitas rasional dan etika otak manusia. Sehingga memicu perilaku manusia yang paling purbawi, yakni insting survival.

Di era disruptive technology saat ini, wajah kehidupan ekonomi dan sosial berubah drastis. Disruptive memberikan kesempatan bagi mereka yang pintar membaca peluang dan memiliki skill set tepat untuk menjadi kaya. Sementara mereka yang tidak bisa mengakses perkembangan zaman akan menjadi resah.

"Kok bisa anak penjaga wartel jadi bos e-commerce besar. Anak muda jadi bos. Hidupku rentan. Insting survival mereka terpicu. Celakanya ini yang disasar hoaks politik," tutur Budiman.

Dalam penelitian Cambridge pada tahun 2016 terhadap lebih dari 30 negara yang akan melaksanakan pemilu, orang Indonesia tidak memiliki permasalahan di bidang politik yang signifikan. Orang Indonesia justru lebih banyak merespons hal-hal sederhana seperti yang disukai semisal film dan olahraga.

Sayangnya, lanjut Budiman, bagian otak yang merespons hal-hal sederhana merupakan bagian yang sama dalam merespons hoakspolitik.

"Dengan jumlah hoaks yang masif, pada akhirnya retorika politik murahan memainkan emosi. Orang tersebut menjadi emosional menyikapi perubahan, termasuk perubahan yang positif," tukasnya.

Karena itu, Budiman menyebut orang perkotaan yang individual lebih mudah terpapar hoaks karena tak memiliki jaring pengaman sosial yang kuat. Sebaliknya, masyarakat desa yang hidup kolektif memiliki tingkat resiliensi tinggi terhadap hoaks.

Sehingga, milenial yang memiliki pengetahuan dan pemahaman perkembangan zaman di era disruptive ini harus mengambil panggung. Ikut menjadi bagian dalam menciptakan perubahan bangsa dan negara ke arah yang lebih baik.

"Saya tidak pernah berpikir menjadi golput. Tidak memilih adalah proklamasi saya kalah. Pecundang. Kita harus ambil bagian dalam arus perubahan".(RO/OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More