Kamis 11 April 2019, 09:20 WIB

Kasus Obesitas Terus Meningkat

Indriyani Astuti | Humaniora
Kasus Obesitas Terus Meningkat

ANTARA/Aji Styawan
Penderita obesitas berbobot sekitar 250 kilogram, Bimo Putro Prakoso (22)

 

DATA Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi obesitas di Indonesia terus meningkat. Dari 10,5% (2017) menjadi 14,8% (2013), lalu 21,8% di Riskesdas 2018. Penyebabnya, antara lain perubahan gaya hidup dan anggapan bahwa obesitas bukan penyakit.

"Obesitas bisa disebabkan oleh faktor genetik, gangguan hormonal. Tetapi lebih banyak karena karena perilaku," ujar dokter spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Dicky L Tahapary SpPD, dalam acara seminar Obesitas dan Diabetes di Jakarta, kemarin.

Ia menyebut, faktor mudahnya akses terhadap makanan atau minuman tinggi gula membuat kasus obesitas meningkat. Ditambah, anggapan masyarakat bahwa obesitas bukan penyakit. Padahal, obesitas merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti diabetes, stroke, dan penyakit jantung.

Baca Juga: Turnamen Bulu Tangkis Kemendikbud Diharap Pacu Kinerja ASN

Dokter Dyah Purnamasari SpPD menjelaskan obesitas bisa menyebabkan resistensi insulin yang berujung pada diabetes tipe II. Diabetes, lanjutnya, tidak hanya berbahaya bagi penyandangnya, tapi juga bagi keturunan penyandang diabetes.

Dyah memaparkan penelitian yang dilakukan FKUI di Makassar pada 2018 dan sudah dipublikasikan dalam jurnal internasional Medica. Diketahui, anak kandung penyandang diabetes berisiko memiliki obesitas sentral (gemuk di area perut) 19 kali lebih lebih tinggi.

Hasil penelitian yang melibatkan 128 responden berusia 16-24 tahun itu juga memperlihatkan bahwa anak kandung penyandang diabetes berisiko mengalami gangguan hormon insulin 10 kali lebih banyak.

"Anak-anak yang berisiko ini jangan sampai menjadi obesitas karena sudah ada kerentanan genetik dari orangtuanya," pesan Dyah.

Perlu sugar tax

Pada kesempatan sama, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Aman Bhakti Pulungan SpA(K) mengatakan Indonesia berada di urutan ke-10 dalam daftar negara dengan jumlah penduduk menyandang diabetes terbanyak.

"Kalau tidak melakukan apa pun, tidak ada pencegahan, peringkat Indonesia akan meningkat menjadi urutan kelima," ujarnya.

Ia mengingatkan, pencegahan diabetes harus dilakukan sedari dini, termasuk mencegah anak-anak jangan sampai obesitas. Sayang, masih banyak orang tua yang menganggap obesitas bukan penyakit. Di samping itu, perkembangan teknologi membuat kebiasaan bermain anak berubah. Mereka lebih senang duduk memainkan gawai ketimbang permainan yang butuh aktivitas fisik.

"Pemerintah dan industri juga sangat berperan mencegah obesitas serta masalah kesehatan yang ditimbulkan pada anak. Di negara-negara yang perhatian pada masalah ini, mereka memberlakukan sugar tax, pajak bagi produk makanan dan minuman yang mengandung kadar gula tinggi karena asupan gula berlebih menyebabkan obesitas," paparnya.

Aman menambahkan, orangtua yang memiliki anak obesitas perlu waspada. "Jika fisiknya sudah gemuk harus diskrining. Dicek kadar gula darah, kolesterol, dan fungsi hatinya untuk deteksi dini. Karena ada kasus yang kita temukan anak-anak sudah mengidap diabetes karena obesitas." (H-2)

Baca Juga

ANTARA/Arif Firmansyah

Masyarakat Kurang Pengetahuan Soal Obat Tradisional

👤Kautsar Bobi 🕔Senin 10 Agustus 2020, 12:48 WIB
Tulus khawatir obat-obat itu mengandung senyawa kimia yang membahayakan kesehatan...
ANTARA/M Agung Rajasa

1.020 Orang Terdaftar Jadi Relawan Vaksin Covid-19

👤Nur Azizah 🕔Senin 10 Agustus 2020, 12:31 WIB
Pendaftaran relawan vaksin covid-19 akan dibuka hingga akhir Agustus...
DOK MI

Pengusaha Dukung Insentif Pegawai Bergaji Kurang dari Rp5 Juta

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 10 Agustus 2020, 12:25 WIB
Bantuan gaji tambahan bagi pekerja tersebut diharapkan bisa mendorong konsumsi masyarakat. Dengan demikian, kata Anta, perekonomian bisa...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya