Kamis 11 April 2019, 12:05 WIB

Keterasingan Manusia dalam Penjaga Rumah

Fathurrozak | Weekend
Keterasingan Manusia dalam Penjaga Rumah

Dok. Komunitas Salihara
Lakon Penjaga Rumah, adaptasi naskah The Caretaker karya Harold Pinter, yang diterjemahkan Toto Sudarto Bachtiar.

DUA kasur yang terpisah jarak oleh jendela di belakangnya mengantar kita pada plot ketika Karina (Tilona Saragih) mengajak masuk seorang asing yang baru, ke kamarnya. Usianya memang lebih tua dari Karina, ia tampak mengomel dan seolah merasa yang paling dirugikan, meski telah dibawa Karina ke kamarnya, berteduh dari hujan di luar yang deras. Perempuan tua ini adalah seorang gelandangan, ia juga punya lebih dari satu nama. Namun, lama kelamaan si ibu tua gelandangan ini minta yang aneh-aneh, seperti sepatu, bahkan uang.

Pada babak berikutnya, ketika si gelandangan yang punya nama asli Lauren Jubaedah (Nosen Karol) ini ditinggal oleh Karina, ia mulai lancang mengecek seluruh sudut kamar. Bahkan, ia menduga ada sesuatu yang berharga, yang disimpan di ember yang tergantung di atap. Meski sudah dikatakan Karina itu untuk air hujan yang bocor. Di saat itulah, Lauren bertemu dengan Judith (Novinta Dhini). Langsung saja Judith mencecar Lauren. Judith behasil menghadirkan perasaan superior yang dingin. Ia memojokkan Lauren, dengan hardikannya juga dengan sikapnya memang murni kejam.

Babak permainan Judith dan Lauren menjadi suatu fragmen yang membingkai komedi pada lakon ini. Sekaligus menegaskan, ada sesuatu yang berbeda dari Karina. Ketika cara berkomunikasi keduanya, antara Judith dan Lauren di panggung terasa cair. Sementara, ketika Lauren harus berhadapan dengan Karina, seolah ada sisi yang memang keduanya harus tidak boleh cair.

Epilog keterasingan
Penjaga Rumah tetap ditampilkan sebagai drama dengan tata artistik realis. Penyaduran dari naskah asli miliki  Harold Pinter ini dilakukan dengan merombak para pemainnya, yang semula semuanya ialah laki-laki, dimainkan para perempuan. Penyesuaian bahasa juga menjadi jalan yang ditempuh, yang dikaitkan dengan konteks kebahasaan Jakarta, sebagai tokoh yang ketiganya hidup di tengah kebisingan metropolitan.

"Cerita-cerita bagus hampir selalu dimainkan oleh laki-laki, kami semua mencintai teater dan seni peran, naskah yang berat selalu dimainkan laki-laki, dan dulu kita dibatasi, kemudian kami mengganti ini jadi semuanya dimainkan perempuan. Esensi tidak berubah. Kita bisa memainkan seperti yang dilakukan laki-laki, yang namanya seni kan tidak bisa dilimitasi gender atau lainnya, saya pikir kenapa enggak?" ungkap Novinta Dhini, yang juga bertindak sebagai sutradara, usai pentas dalam gelaran HelaTeater Salihara, di Salihara, Selasa, (9/4).

Nosen Kasel, juga menyebutkan, dalam prosesnya kurator sangat membantu mereka dalam penyesuaian kebahasaan agar sesuai dengan konteks latar yang diambil, yaitu Jakarta. "Adaptasi itu bukan cuma menyadur atau translasi bahasa, termasuk salah satunya pemainnya bisa kita ubah, segi bahasa juga kita sesuaikan dengan kondisi di Jakarta," tambah Nosen.

Novintha Dini yang bertugas sebagai sutradara sekaligus bermain, juga tampil apik. Ia mampu menjaga fokus karakter permainannya, sehingga karakter yang dimainkannya memiliki persona kuat di atas panggung. Sehingga tidak jomplang dengan kedua lawan mainnya. Dalam beberapa produksi, sutradara yang juga bertindak sebagai pemain seringnya mereka hilang fokus, sebab tidak bisa melihat dirinya sebagai pemain. Hanya saja, ada beberapa catatan dari produksi ini, seperti catatan teknis dari tata cahaya yang beberapa kali tergelincir, seperti ketika seharusnya aktor masih berdialog justru tata cahaya sudah padam, atau pilihan atmosfer warna, maupun additive mixing.

Epilog yang disampaikan Karina pada babak menjelang akhir juga menjadi penegasan beberapa motif pengadeganan yang terjadi di panggung. Baik Karina, Judith, dan Lauren, mereka adalah manusia-manusia yang terasing. Judith yang tampak dingin dan kuat itu, toh juga terasing dari kemarahannya. Atau, Lauren, manusia pinggiran yang sudah mafhum dengan lema asing. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More