Selasa 09 April 2019, 18:48 WIB

TKN: Debat Kelima Ajang Adu Narasi Optimistis vs Pesimistis

Akmal Fauzi | Politik dan Hukum
TKN: Debat Kelima Ajang Adu Narasi Optimistis vs Pesimistis

MI/Susanto
Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin Meutya Hafidz

 

JURU bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Meutya Hafid meyakini debat terakhir calon presiden dan wakil presiden akan menjadi ajang bagi pasangan nomor urut 01 untuk menebar narasi optimis dan inspiratif.

Menurut Meutya, debat pada 13 April 2019 yang membahas isu perkenomian dan kesejahteraan itu memberi keuntungan besar pada Jokowi. Sebab selama ini Jokowi sudah memberi bukti. Sebaliknya pasangan nomor urut 02 baru pada tataran janji.

"Pak Jokowi sudah membuktikannya. Kita bisa melihat secara seksama di sekitar kita bagaimana infrastruktur penunjang ekonomi kerakyaatan dibangun. Kita juga bisa melihat sejumlah program yang telah diluncurkan presiden Jokowi terkait kesejahteraan masyarakat, seperti dana kesehatan, sekolah, dan dana desa. Lagi-lagi ini bisa dibuktikan, bukan sekadar diucapkan," kata Meutya, Selasa (9/4)

Segala pembuktian soal kinerja di sektor kesejahteraan dan ekonomi ini juga ditunjang rencana jangka panjang Jokowi.

Rencana jangka panjang itu, kata Meutya yakni mempersiapkan pembangunan sumber daya manusia lewat tiga program utama, yakni Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Kartu Sembako Murah, dan Kartu Prakerja.

Baca juga : TKN Tegaskan tak Pernah Imbau Karyawan BUMN Hadiri Konser Putih

Ketiga program itu, jelas Muetya, merupakan bentuk kesinambungan dari program yang telah berjalan di periode pertama pemerintahan Jokowi.

Ketiga program itu juga merupakan program yang bisa diukur dan segera dirasakan manfaatnya selepas Jokowi dilantik sebagai presiden di periode kedua pemerintahannya.

Menurutnya, ketiga program itu yang selama ini disosialissasikan Jokowi sepanjang kampanye terbuka.

"Dalam debat nanti pula kita dapat melihat bagaimana program paslon 01 jelas manfaatnya, realistis pelaksanaannya, dan terukur hasilnya," kata Meutya.

Di saat calon lain terus berbicara tentang pesimisme, lanjut Meutya, Jokowi akan terus menebar optimisme pada debat terakhirnya.

Sebab, lanjut Meutya, bekal semangat dan optimisme seorang pemimpin akan menjadi contoh bagi rakyatnya.

"Jokowi adalah pemimpin yang memberi contoh bagaimana kerja keras dengan optimisme dan semangat bisa mengantarkan keberhasilan. Dengan semangat dan usaha keras, seorang pria pernah tinggal di pinggiran kali di Kota Solo bisa menjadi presiden Republik Indonesia. Inilah contoh nyata dari Jokowi yang penuh semangat dan optimisme," kata Meutya.

Sebaliknya, pemimpin yang menebar pesimisme dan narasi negatif justru mencerminkan contoh yang tidak baik bagi rakyat.

"Tak ada negara maju yang dibangun dengan narasi pemisme. Maka itu, kita pilih pemimpin yang gemar menebar optimisme untuk menbawa Indonesia sebagai negara maju," kata Meutya. (OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More