Senin 08 April 2019, 20:15 WIB

Survei Indodata: Pemilih Muslim Lebih Memilih Jokowi

Golda Eksa | Politik dan Hukum
Survei Indodata: Pemilih Muslim Lebih Memilih Jokowi

MI/Golda Eksa
Direktur Eksekutif Indodata Danis T Saputra (paling kiri) mendengarkan pendapat pengamat politik

 

LEMBAGA survei Informasi, Data, Management System (Indodata) membeberkan bahwa pemilih muslim lebih memilih paslon nomor 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin ketimbang paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024.

Hasil survei itu menempatkan Jokowi-Amin di poin 49,1% dan Prabowo-Sandi sebesar 39,0%. Sedangkan persentase pemilih muslim yang belum menyatakan pilihan sekitar 11,9%. Realitas itu sekaligus membuktikan bahwa suara pemilih beragama Islam justru tersebar merata, walaupun ada pemilih yang lebih banyak memilih salah satu kandidat.

Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Indodata Danis T Saputra disela-sela acara rilis survei nasional bertajuk Prediksi Pemilu 2019 dan Perilaku Pemilih Muslim di Indonesia, di Jakarta, Senin (8/4).

"Ini membuktikan bahwa pemilih muslim di Indonesia adalah moderat dan terbuka," ujarnya.

Survei dilakukan pada 24 Maret-7 April 2019 menggunakan metoda multistage random sampling dan wawancara tatap muka. Pun survei melibatkan responden sebanyak 1.200 orang dengan proporsi 50% laki-laki dan 50% wanita yang masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT).

Menurut dia, maraknya politik identitas keagamaan, khususnya Islam, ternyata tidak berbanding lurus dengan elektabilitas partai politik. Berdasarkan hasil survei justru elektoral efek lebih banyak masuk atau dinikmati oleh lembaga/organisasi keagamaan Islam, seperti Nahdlatul Ulama, Muhamadiyah, Persatuan Islam (Persis), dan lain sebagainya.


Baca juga: Ma'ruf: Jokowi aja Mengangkat Ulama, Kok Ente Gak Paham-Paham


Contohnya, sambung dia, dari base line 60,30% pemilih muslim yang terikat ormas NU, sebanyak 67,80% memilih Jokowi-Amin dan 31,10% memilih Prabowo-Sandi. Sedangkan pemilih muslim dari base line 22,60% yang mengikuti ormas Muhammadiyah, diketahui 47,10% memilih Jokowi-Amin dan 38,00% memilih Prabowo-Sandi.

Begitu pula dari base line 8,10% pemilih muslim yang mengikuti ormas Persis menempatkan Jokowi-Amin di angka 65,70% dan Prabwo-Sandi 34,30%. Adapun pemilih muslim di ormas Islam lain dengan base line 7,30% juga memilih Jokowi-Amin dengan perolehan 75,00% dan Prabowo-Sandi 25,00%.

"Jumlah masyarakat yang mengaku sebagai NU, Muhammadiyah, dan ormas lainnya meningkat 5% hingga 20%. Keadaan ini memperlihatkan bahwa politik identitas Islam berdampak pada asosiasi organisasi keagamaan muslim Indonesia," terang dia.

Pada satu sisi agama sebetulnya mampu mendorong partisipasi politik. Hasil survei Indodata menyebutkan sekitar 99% masyarakat menyatakan siap dan ingin memilih pada Pemilu 2019. Artinya, pada saat yang sama agama juga mampu mendorong perilaku pemilih politik yang terbuka.

"Tapi pada saat lain ada kekhwatiran ketika agama menjadi komoditas politik maka agama mampu menjadi potensi laten untuk memecah belah, disintegrasi, yang kemudian ini berdampak sangat masif dan merugikan bagi perkembangan Indonesia di masa yang akan datang," tandasnya. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More