Senin 08 April 2019, 09:55 WIB

Suara Oposisi Dapat Mengamankan Brexit

Suara Oposisi Dapat Mengamankan Brexit

AFP/ADRIAN DENNIS
Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May

 

PERDANA Menteri (PM) Inggris, Theresa May, mempertahankan keputusannya untuk beralih kepada oposisi utama Inggris. Langkah itu bertujuan mendapatkan persetujuan atas keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Jika tanpa konsensus lintas partai, Brexit dapat berjalan, tetapi tidak sesuai harapan. Pemimpin yang terkepung itu memulai pembicaraan pekan ini dengan Partai Buruh. Upaya itu mengurai kekacauan selama berbulan-bulan atas sikap keras kepala parlemen Inggris.

Anggota parlemen Inggris menolak kesepakatan yang diusulkan May sebanyak tiga kali. Kesepakatan Brexit akan mengakhiri keanggotan Inggris dalam lingkaran Uni Eropa selama 46 tahun. Tawaran May kepada Partai Buruh muncul jelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Uni Eropa pada Rabu mendatang. Dalam pertemuan itu, May harus mengamankan perpanjangan batas waktu Brexit hingga 30 Juni demi mencegah perceraian Inggris dari blok tanpa kesepakatan. Semula batas waktu dimulainya Brexit jatuh pada 29 Maret lalu.

"Kami harus membawa persoalan Brexit. Untuk itu kami harus membuat kesepakatan," ujar May dalam sebuah pernyataan yang dirilis Downing Street.

"Itu merupakan dasar untuk sebuah kompromi yang dapat meraih suara mayoritas parlemen. Memenangkan suara mayoritas ialah satu-satunya cara untuk memuluskan Brexit," imbuh May.

Baca Juga : PM Inggris Tegaskan Suara Oposisi Dapat Mengamankan Brexit

Akan tetapi, setelah beberapa hari negosiasi dengan Partai Buruh, pemimpinnya, Jeremy Corbyn, mengeluhkan ketiadaan perubahan besar dalam kebijakan pemerintah sejauh ini. "Saya menanti untuk melihat pergerakan garis merah," tukas Corbyn.

Sementara itu, anggota Uni Eropa semakin tidak sabar dengan disfungsi di Westiminster. Uni Eropa harus memberikan dukungan dengan suara bulat terhadap penundaan Brexit. Anggota Uni Eropa dapat menawarkan penundaan yang lebih singkat atau periode lebih lama hingga satu tahun.

Seusai mengikuti pertemuan Kelompok G-7, Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Yves Le Drian, mengatakan sudah waktunya mengakhiri krisis Brexit.

"Otoritas Inggris dan parlemen harus memahami bahwa Uni Eropa tidak dapat terus-menerus bersabar terhadap gejolak politik domestik Ing-gris," tutur Le Drian. (AFPTes/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More