Senin 08 April 2019, 09:45 WIB

Pertaruhan Suara di Banten dan Jawa Barat

Melalusa Susthira K | Politik dan Hukum
Pertaruhan Suara di Banten dan Jawa Barat

ANTARA/ASEP FATHULRAHMAN
KAMPANYE TERBUKA JOKOWI DI BANTEN: Ribuan kader dan simpatisan sejumlah parpol pengusung pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Amin

 

BERBAGAI survei dari bera­gam lembaga mengindikasikan mengu­atnya suara pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Banten dan Jawa Barat. Sebelumnya, pada Pemilu 2014, Jokowi gagal meraih kemenangan di kedua wilayah.

Pengamat politik Ujang Komarudin menilai, pergeseran suara di Jawa Barat dimungkinkan terjadi berkat representasi Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi.

“Di Banten juga bisa jadi ada pergeseran politik, yang tadinya memang mengunggulkan pasangan 02, bisa jadi bisa diambil oleh Jokowi-Amin karena memang Kiai Ma’ruf Amin berasal dari Banten. Jadi, memang sangat rasional kalau Pak Jokowi dan Pak Ma’ruf Amin ingin memenangkan pertarungan di Jawa,” terang Ujang yang juga dosen di Universitas Al-Azhar Indonesia dan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review itu, saat dihubungi pada Minggu (7/4).

Hal lain yang bisa membalikkan perolehan suara, menurut Ujang, bila Jokowi selaku petahana mampu meyakinkan publik akan keberhasilan kinerjanya sebagai presiden selama periode pertama.

Jika melihat Jawa secara keseluruhan, Ujang mengakui kuatnya pendukung Jokowi-Amin, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pasalnya, partai-partai pendukung Jokowi-Amin mendominasi kedua wilayah tersebut. Itu masih ditambah dukungan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama secara individu.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menekankan berita bohong (hoaks) yang semakin banyak beredar jelang hari pencoblosan sebaiknya segera diklarifikasi tim pemenangan. “Hoaks itu efektif karena dia tidak terklarifikasi karena masyarakat tidak mendapatkan informasi yang benar. Nah, pihak yang mengklarifikasi itu haruslah orang yang kredibel.”

Suara mengambang

Titi juga berpendapat upaya meraih suara, khususnya di basis pemilih lawan, akan lebih efektif jika mengedepankan narasi publik yang sifatnya empati politik. Pendekatan kampanye sedianya dilakukan secara impresif dengan pesan mereka punya perhatian, peduli, dan tidak alergi terhadap perbedaan pilihan.

“Kenapa berkepentingan? Karena ingin mengejar suara. Di sana mereka juga punya sasaran lain, yaitu orang-orang yang bisa jadi masuk kategori undecided voters dan swing voters,” ujar Titi ketika dihubungi pada Sabtu (7/4).

Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan sependapat jumlah pemilih yang masih belum menetapkan pilihan masih cukup banyak sehingga perlu diwaspadai lebih lanjut. Walaupun sebagian suara di Banten dan Jabar bergeser ke paslon 01, bila paslon 02 berhasil menarik suara mengambang, situasi akan kembali berbalik.

Djayadi mengungkapkan jika ingin menang, pendekatan door to door harus menjadi unggulan. “Kalau sama-sama kuat usahanya, kubu 02 masih bisa unggul. Untuk itu, kubu 01 dalam melakukannya harus berlipat ganda dari upaya yang dilakukan 02 mengingat ini bukan wilayah 01,” jelas Djayadi. (Gol/Dro/A-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More