Ke Mana Pemilih Bimbang Berlabuh

Penulis: Burhanuddin Muhtadi Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Pengajar FISIP UIN Syarif Hidayatullah Pada: Senin, 08 Apr 2019, 08:00 WIB Kolom Pakar
Ke Mana Pemilih Bimbang Berlabuh

MI/Seno
Ilustrasi MI

PEMILU tinggal menghitung hari. Bagaimana peta elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden serta elektabilitas partai-partai jelang pemilu? Faktor-faktor apa yang menjelaskan elektabilitas paslon? Pada umumnya semakin dekat pemilu, semakin mengecil jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters). Karena itu, penting untuk menjawab seberapa besar proporsi undecided voters.

Jika undecided voters didefinisikan sebagai pemilih yang belum menetapkan pilihan pada saat survei dilakukan, survei nasional Indikator Politik Indonesia yang saya gunakan dalam tulisan ini, mendefinisikan swing voters sebagai pemilih yang sebenarnya sudah memiliki preferensi elektoral kepada salah satu paslon. Namun, pilihannya masih bisa berubah.

Semakin besar proporsi undecided voters dalam sebuah survei, semakin sulit melakukan prediksi. Swing voters yang terlalu banyak juga menyulitkan prediksi karena volatilitas pilihannya memungkinkan survei prapemilu tak sepenuhnya mampu merepresentasikan hasil akhir.

Selain ingin mempresentasikan proporsi swing voters dan undecided voters, tulisan ini juga berusaha memprediksi arah dukungan dua kelompok pemilih ini.

 

Elektabilitas partai

 

Populasi survei Indikator ialah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Dari populasi itu, dipilih secara random (multistage random sampling) 1220 responden sebagai sampel basis. Margin of error dari ukuran sampel tersebut sebesar kurang lebih 2,9% pada tingkat kepercayaan 95% (dengan asumsi simple random sampling).

Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara acak sebesar 20% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti. Waktu wawancara lapangan pada 22-29 Maret 2019.

Pertama-tama, tulisan ini menyajikan proporsi undecided voters dalam pertanyaan mengenai pilihan partai-partai jika pemilu legislatif digelar pada saat survei dilakukan. Hipotesis terbukti bahwa semakin dekat dengan hari H pemilu, semakin berkurang jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan.

Menariknya, berkurangnya undecided voters tidak menambah jumlah pemilih PDI Perjuangan, Gerindra, dan PKB. Pemilih yang belum menentukan pilihan pada Desember 2018, tapi akhirnya menyatakan memilih pada Maret 2019 cenderung menambah elektabilitas Golkar, NasDem, Demokrat, dan PKS.

Jika pola ini tak berubah, undecided voters cenderung tak terbagi proporsional ke semua partai, tapi bias ke beberapa partai saja.  

Peta elektabilitas partai dua minggu jelang Pemilu Serentak 17 April 2019 ini juga potensial menciptakan rekor baru. Sejak era reformasi, pemenang pemilih selalu berubah-ubah. Tak ada satu pun partai yang mampu memenangi pemilu berturut-turut.

Pada 1999, PDI Perjuangan memenangi pemilu dengan perolehan 33,7%; Golkar muncul sebagai pemenang pada 2004 dengan persentase 21%; Demokrat tampil sebagai juara Pemilu 2009 dengan angka 20,8%; dan terakhir PDI Perjuangan kembali meraih kemenangan dengan suara 19%. Jika PDI Perjuangan memenangi Pemilu 2019, ini kali pertama ada partai yang bisa mempertahankan mahkota juaranya dua kali berturut-turut.

 

Elektabilitas paslon

Sementara itu, elektabilitas pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden hingga akhir Maret 2019 tampaknya bergeming. Dukungan terhadap paslon 01 masih unggul signifikan atas paslon 02, tetapi kelompok yang belum menentukan pilihan (undecided) tinggal sekitar 7,2%.

Kedua paslon mengalami kenaikan dukungan jika dibandingkan dengan Oktober 2018. Paslon 01 naik 2,4% dari 53% di Oktober 2018 menjadi 55,4% pada akhir Maret 2019, sedangkan paslon 02 naik sedikit lebih tajam dari 30% ke 37,4% pada periode yang sama. Kedua paslon meraup dukungan tambahan dari pemilih yang awalnya belum menentukan pilihan. Meskipun kenaikan elektabilitas paslon 02 lebih tajam, selisih antara kedua paslon masih dalam dua digit, yakni 18%.

Berbeda dengan survei Kompas pada Maret 2019 yang menemukan penurunan elektabilitas paslon 01, survei Indikator menemukan bahwa elektabilitas paslon 01 cenderung stabil. Elektabilitas ialah variabel terikat yang ditentukan variabel-variabel bebas yang lain, seperti tingkat kepuasan terhadap petahana, evaluasi sosiotropik terhadap kondisi ekonomi, politik, hukum, dan keamanan, mobilisasi, dan debat paslon.

Kepuasan petahana malah naik tipis dari 68% di Desember 2018 menjadi 71% di Maret 2019. Inflasi cenderung rendah di kisaran rata-rata 3% dalam beberapa bulan terakhir. Mereka yang mengatakan kondisi ekonomi, politik, hukum, dan keamanan juga masih positif. Survei kami juga menemukan debat lebih banyak dimenangi paslon 01 jika dibandingkan dengan 02. Padahal, tak ada kegiatan kampanye yang mampu menyedot animo pemilih sebesar debat.

Pertanyaannya kemudian, mungkinkah dalam waktu yang tersisa paslon 02 mengejar ketertinggalan? Salah satu potensi yang bisa mengubah permainan ialah bias partisipasi. Dalam survei, para penelitilah yang aktif mendatangi rumah responden. Sementara itu, dalam pemilihan, pemilihlah yang harus aktif mendatangi tempat pemungutan suara (TPS).

Jika pendukung 01 tidak menerjemahkan preferensi elektoralnya dengan menggunakan hak pilihnya di TPS, sedangkan pendukung 02 lebih solid dan militan, hasilnya bisa tak sesuai dengan prediksi survei. Apalagi, jika mobilisasi pemilih 02 lebih masif dilakukan ketimbang pendukung 01. 

 

Prediksi model

Jika tingkat partisipasi dan mobilisasi pemilih proporsional, lantas faktor apa yang bisa mengubah keadaan? Meskipun seandainya undecided voters sebesar 7,2% diraup seluruhnya oleh paslon 02, sekalipun elektabilitas paslon 02 hanya mencapai 44,6%. Namun, permainan bisa berubah jika selain undecided, seluruh pemilih mengambang (swing voters) lari ke paslon 02.

Di antara pendukung paslon, total ada sekitar 82% yang kecil kemungkinannya untuk berubah. Selebihnya masih besar kemungkinannya untuk berubah, yakni sekitar 16%. Pemilih yang masih besar peluangnya mengubah pilihan inilah yang disebut swing voters.

Hasil analisis sebagaimana tergambar di Tabel 1 menunjukkan di antara basis pendukung paslon 01, yang sudah relatif stabil baru sekitar 46,6% yang merupakan basis kuat paslon 01. Sementara itu, basis kuat paslon 02 ada sekitar 29,2%. Swing voters kurang lebih imbang di basis pendukung masing-masing, sekitar 8%-9%.

Berhubung total gabungan swing voters dan undecided voters mencapai 24,1%, lebih besar ketimbang selisih kemenangan antara paslon 01 versus 02, menurut survei Indikator, penting melihat lebih jauh kemungkinan arah dukungan kelompok swing dan undecided voters ini.

Identifikasi sederhana tentang kemungkinan arah dukungan kelompok undecided dan swing voters dengan melihat kemiripan atau kedekatan pada sejumlah karakteristik yang biasanya berpengaruh dalam distribusi dukungan elektoral. Karakteristik sosiologis, psikologis, dan ekonomi politik biasanya selalu berinteraksi dalam menjelaskan arah dukungan elektoral.

Secara umum, swing dan undecided voters berada di tengah-tengah basis kuat 01 dan 02, jaraknya hampir sama. Maka dari itu, diperkirakan kelompok swing dan undecided voters akan terdistribusi relatif merata kepada kedua paslon.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana distribusi dukungan akhir pada kedua paslon? Untuk menjawab itu, diperlukan analisis lebih jauh melalui pemodelan, untuk memprediksi elektabilitas tiap-tiap paslon.

Menurut model yang dibangun, sekitar 7,7% kelompok swing voters diprediksi merupakan pemilih 01 (45,5%), dan sekitar 9,2% diprediksi merupakan pemilih 02 (54,5%). Sementara itu, kelompok undecided voters diprediksi secara merata kepada kedua paslon.

Total paslon 01 diprediksi menarik 11,3% dari kelompok swing dan undecided, sedangkan paslon 02 sekitar 12,8%. Berdasarkan model yang kami pakai, kelompok undecided dan swing voters terdistribusi sedikit lebih besar kepada paslon 02 jika dibandingkan dengan paslon 01. Ini konsisten dengan indentifikasi kedekatan atau kemiripan karakteristik kelompok undecided dan swing voters terhadap basis kuat tiap-tiap paslon.

Agregat suara akhir menurut model, yaitu Jokowi–Amin 57,9%, sedangkan Prabowo–Sandi 42,1% (Lihat Grafik 2).

Hasil analisis swing voters dan undecided voters menunjukkan bahwa kedua kelompok pemilih ini cenderung terbagi kepada kedua paslon dan tidak bisa diklaim sebagai properti ekslusif salah satu paslon.      

Meskipun paslon 01 diprediksi menang, masih ada waktu sekitar 10 hari menjelang pemilu presiden. Jika tidak banyak perubahan jika dibandingkan dnegan kondisi ketika survei dilakukan, paslon 01 sangat potensi menang. Namun, jika sebaliknya, paslon 02 juga masih berpeluang mengubah keadaan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More