Minggu 07 April 2019, 02:00 WIB

Mencari Orang Utan Tapanuli

Fathurrozak muda | Weekend
Mencari Orang Utan Tapanuli

FOTO: DOK PRIBADI
Sheila Kharismadewi Silitonga

TAICHING: Berada dalam hutan mengamati orang utan tapanuli bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang dihadapi dalam penelitian primata ini.

BEKERJA menjelajah hutan dan tinggal dalam kamp untuk memonitor orang utan tapanuli dijalani Sheila Kharismadewi Silitonga kurang lebih setahun belakangan. Alumnus jurusan Biologi Institut Pertanian Bogor (IPB) itu dari awal tertarik kerja di lapangan dan mendalami primatologi.

Lalu, bagaimana ketertarikannya itu membuatnya bekerja mengamati orang utan tapanuli di Stasiun Penelitian Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Muda sempat mewawancarai Sheila melalui surat elektronik terkait dengan kegiatannya selama ini, termasuk tantangan yang dihadapinya, seperti susah sinyal, yang membuatnya ketika mengirim jawaban harus terkendala.

Mulai kapan kamu tertarik terhadap orang utan?

Awal ketertarikan dengan orang utan saat penelitian sewaktu kuliah S-1. Semasa kuliah, saya tergabung sebagai anggota mahasiswa pencinta alam, Lawalata IPB, sedari awal kuliah saya tertarik untuk selalu berkegiatan di hutan.

Ketika mulai penelitian, dosen pembimbing saya menawarkan untuk meneliti orang utan di Hutan Batang Toru. Saat itu (awal 2017), topik orang utan di Batang Toru masih bisa dibilang 'perawan' dan belum banyak diangkat. Saat itu namanya masih orang utan sumatra, belum orang utan tapanuli.

Jiwa pertualang saya tertantang mengeksplorasi hutan 'perawan' dengan lokasi yang cukup ekstrem. Apalagi, penelitian terdahulu menyatakan adanya perbedaan antara orang utan di Batang Toru dan orang utan sumatra. Saya jadi semakin tertarik untuk mendalaminya karena ini sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda.

Bagaimana perilaku dan ciri orang utan tapanuli?

Kamp riset kami tidak melakukan pelepas liaran orang utan atau rehabilitasi. Kamp ini fokus pada monitoring orang utan liar yang ada di hutan. Orang utan ketika masih sangat liar dan tidak terbiasa melihat manusia akan kabur bila melihat manusia. Beberapa diam, melempari pengamat dengan ranting kayu, kadang merobohkan kayu busuk, dan lebih sering membuat vokalisasi kiss squeak (suara mirip ciuman yang biasa dikeluarkan orang utan ketika dia merasa terganggu).

Orang utan tapanuli berdasarkan osteologi cranio-mandibula, struktur vokalisasi long-call jantan, serta genetik, dan genom marker. Analisis cranometrik tengkorak secara signifikan lebih ramping daripada spesies orang utan lainnya. Berdasarkan morfologi eksternal, orang utan tapanuli memiliki rambut yang lebih keriting, kumis yang menonjol, bantalan pipi yang relatif lebih datar, dan ditutupi rambut berbulu halus pada jantan dominan. Jenggot juga muncul pada betina.

Apa yang menjadi tantangan hidup di tengah hutan?

Tantangannya menemukan orang utan di hutan ini (Batang Toru). Di tengah hutan yang luas dan populasi yang sedikit, sangat sulit menemukan mereka. Apalagi, orang utan hidup di atas kanopi pohon. Mengamati orang utan sangat menarik, tapi mencarinya sangat tidak menyenangkan dan cenderung membosankan.

Tantangan lainnya, kadang rindu teman-teman lama karena zaman kuliah saya sering diskusi dengan teman-teman, ngobrol banyak hal. Di sini saya agak kehilangan itu sih.

Bagaimana perubahan-perubahan tinggal di hutan?

Perubahannya yang paling terasa tidak punya teman diskusi serius, saya lebih sering berdikusi dengan diri sendiri. Akhirnya, jadi lebih mengenal diri. Lebih mengerti bagaimana harus menempatkan diri, bagaimana cara mendorong dan memotivasi diri, juga semakin mendalami posisi kita di dunia ini. Manusia juga bagian dari alam bahwa hidup bukan sekadar rutinitas. Masalahnya, saya dari awal tidak menyukai berada di keramaian. Semakin lama berada di hutan, semakin memicu jiwa introver saya.

Kegiatan apa yang kamu lakukan?

Kegiatan sehari-hari saya mencari dan mengamati perilaku orang utan. Tanggung jawabnya mengatur kegiatan di kamp riset agar berjalan dengan baik, merapikan database, data-data yang diperoleh, baik data perilaku orang utan, fenologi pohon, sampel pakan, pergerakan mereka, cuaca dan suhu, mengatur logistik, dan jadwal kegiatan harian di kamp.

Di wilayah stasiun riset ada banyak sistem jalur yang kami buat untuk melakukan observasi. Pada dasarnya, kita jalan saja di jalur-jalur itu. Sambil berjalan, sesekali berhenti, sesekali menunggu di lokasi-lokasi yang ada pohon pakan bagi orang utan. Bila sudah bertemu dengan mereka, kita akan mengikuti pergerakan sampai mereka membuat sarang saat malam hari, lalu diikuti lagi keesokan harinya. Perilaku primate itu diamati per dua menit sesuai dengan protokol observasi orang utan, yang sudah disepakati. Pengambilan waypoint GPS keberadaan orang utan per 15 menit dan cuaca saat pengamatan diambil per 30 menit.

Ketika pergi ke hutan yang perlu dipersiapkan jelas tentu saja tubuh yang sehat dan prima, selain itu peralatan observasi dan keamanan, yaitu kamera, GPS, binocular, buku catatan, pita, spidol, jas hujan, parang, spare batteries, botol minum, dan bekal makanan.

Apa tugas yang menurut kamu membutuhkan perhatian ekstra dan tantangan?

Tantangan justru datang dari bekerja bersama dengan tim kecil yang saya miliki di sini. Tim kecil yang selalu bersama hampir 24 jam, gesekan dan intrik tidak bisa dihindari. Tantangannya ialah membuat kerja sama dalam tim berjalan baik dan memediasi konflik antar staf.

Apa kamu akan 'keluar' dari hutan kelak?

Saya akan keluar hutan kalau sudah dalam posisi yang bisa melakukan lebih banyak ketika di luar hutan dari pada di dalam hutan. Saat ini saya belum menjadi siapa-siapa, ketika saya sudah menjadi seseorang, saat itulah saya akan keluar dari hutan. Ketika sudah menjadi seseorang, kita akan lebih punya peluang untuk berdampak dan melakukan perubahan.

Apakah anak muda lain bisa melakukan pekerjaan seperti kamu?

Bisa, kalau mereka memang ingin. Pertama ialah jujur dengan diri sendiri. Apa yang kamu suka, apa yang kamu bisa lakukan? Find your passion, berangkatlah dari sana.

Kalau ditanya bagaimana cara dan tahapannya pasti berbeda untuk setiap orang. Kalau yang saya lakukan ialah mengerjakan segala sesuatunya dengan sepenuh hati, build network, dan jalannya muncul dari sana, mulai pertama saya melakukan penelitian dan ditawari pekerjaan ini, bahkan sebelum saya lulus. You don't have to be the best at all things, you just have to know your thing and do your best at it. (M-3)

Biodata

Nama: Sheila Kharismadewi Silitonga

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 27 Oktober 1995

Profesi/jabatan: Research Coordinator di Stasiun Penelitian Batang Toru

Pendidikan: Sarjana Sains, Jurusan Biologi, Institut Pertanian Bogor

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More