Jumat 29 Maret 2019, 19:45 WIB

Parlemen Inggris Siap Ambil Suara terhadap Kesepakatan Brexit

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
Parlemen Inggris Siap Ambil Suara terhadap Kesepakatan Brexit

AFP
Parlemen Inggris

 

ANGGOTA parlemen Inggris siap melakukan pemungutan suara putaran ketiga, terhadap kesepakatan Brexit yang diusulkan Perdana Menteri  Inggris Theresa May. Hal itu untuk mengakhiri krisis selama berbulan-bulan, maupun risiko yang dihadapi perceraian Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Dewan Rakyat Inggris diketahui dua kali menolak perjanjian penarikan yang digulirkan pemerintahan May. Begitu pula, anggota parlemen tidak dapat menyetujui alternatif apa pun meski batas waktu hampir habis.

Pemungutan suara penting berlangsung pada hari di mana Inggris seharusnya sudah meninggalkan Uni Eropa, yakni 29 Maret 2019. Sebelumnya, May meminta petinggi Uni Eropa untuk mengundurkan tenggat waktu sedikit lagi.

"Kami tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan kepastian. Saat ini kita berada di persimpangan penting untuk masa depan bangsa ini," tukas Jaksa Agung Geoffrey Cox, kepada parlemen saat memulai pembahasan.

Dalam upaya terakhir untuk mengumpulkan dukungan dari Partai Konservatif, May secara dramatis berjanji mengundurkan diri jika perjanjian Brexit tidak disetujui. Dia meminta kalangan pro-Brexit untuk mendukungnya, seraya mengatakan di bawah rencana penundaan yang ditetaskan Brussel, pemungutan suara pada Jum'at ini berpotensi memuluskan keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada 22 Mei.

Akan tetapi, apabila perjanjian gagal disetujui, dia harus menetapkan rencana baru kepada para pemimpin Uni Eropa, termasuk opsi Brexit tanpa kesepakatan, atau penundaan lebih lama.


Baca juga: Korut Hampir Menyelesaikan Pembangunan Situs Peluncuran Roket


Pengorbanan May memengaruhi beberapa pengkritiknya, termasuk mantan Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson. Secara khusus, dia keberatan dengan ketentuan 'backstop' pada perjanjian, demi menjaga kebebasan perbatasan Irlandia setelah Brexit.

"Sangat menyakitkan untuk memilih kesepakatan ini. Tetapi, saya berharap kita dapat bekerja sama untuk memperbaiki kekurangannya, menghindari jebakan 'backstop' dan berusaha memberikan kesempatan publik untuk memilih Brexit yang diinginkan," bunyi cuitan Johnson,

Sejauh ini, belasan anggota parlemen dari Partai Konservatif masih menentang kesepakatan Brexit. Sekutu kepemimpinan May, Partai Unionis Demokrat (DUP), juga bersikeras bahwa pengaturan yang diusulkan May mengenai perbatasan Irlandia, tidak bisa diterima.

Inggris segera meninggalkan Uni Eropa setelah menjadi anggota selama 46 tahun, menyusul referendum 2016 yang memecah-belah dengan 52% suara memilih Brexit. Namun, anggota parlemen Inggris tampaknya tidak mampu menyepakati bagaimana masa depan Brexit, yang mencerminkan perpecahan nasional. Kekacauan yang terjadi kemudian mendorong investor dan serikat pekerja memperingatkan status 'darurat nasional'.

May menegaskan kesepakatan yang dicapai setelah 18 bulan negosiasi, merupakan hasil kompromi yang terbaik dari berbagai opsi. Ini mencakup hak-hak warga negara, penyelesaian keuangan Inggris, rencana untuk perbatasan Irlandia, serta untuk masa transisi sampai persyaratan perdagangan baru disepakati.

Tanpa dukungan dari pihaknya sendiri, May harus berharap banyak pada suara Partai Buruh oposisi untuk mendukung kesepakatan. Akan tetapi, pemimpin partai tersebut, Jeremy Corbyn, telah bersumpah untuk melawan kebijakan May.

Pemerintah Inggris memutuskan untuk menempatkan hanya satu bagian dari paket Brexit kepada anggota parlemen pada Jumat (29/3) ini. Hal itu memisahkan syarat-syarat penarikan dari deklarasi politik yang mengiringi terkait hubungan masa depan. (AFP/OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More