Petani Didorong Pasarkan Produk lewat E-Commerce

Penulis: Ferdinand Pada: Rabu, 27 Mar 2019, 18:30 WIB Nusantara
Petani Didorong Pasarkan Produk lewat E-Commerce

MI/EVA PARDIANA
Mardianto, Ketua Kelompok Tani Pandu Dewa Nata, menunjukkan aplikasi e-Grower yang menjadi panduan petani dalam budi daya.

PETANI harus beradaptasi dengan era revolusi 4.0. Mereka didorong untuk memasarkan produknya melalui sistem e-commerce.

Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Riwantoro, mengatakan sistem pemasaran daring tersebut bertujuan mendekatkan produksi dengan ekspor.

"Ini dalam rangka menuju 2045 Indonesia menjadi lumbung pangan dunia," katanya seusai menghadiri seminar nasional prarapat Lokakarya Nasional FKPTPI BKS Wilayah Timur di fakultas pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (27/3).

Pemasaran melalui e-commerce merupakan kelanjutan dari program mekanisasi di sektor pertanian. Meski belum merata, para petani sudah mulai menggunakan mesin untuk mendukung aktivitas produksi. Mulai dari penanaman hingga pengolahan hasil panen.

Sekarang, lanjut Riwantoro, saatnya petani didorong untuk menjual produknya dengan memanfaatkan teknologi. Kementerian Pertanian telah menginisiasi hal itu melalui pembinaan terhadap gabungan kelompok tani.

Baca juga: Petani Purwakarta Diminta Melakukan Sistem Korporasi 

Ada sepuluh kota besar yang sudah diinisiasi, antara lain di wilayah Jabotabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatra Selatan dan Sulawesi Selatan. Riwantoro berharap daerah lain bisa segera menyusul tahun ini.

Riwantoro menegaskan, pemasaran produk secara daring secara otomatis memotong mata rantai distribusi. Dari yang sebelumnya 8-9 titik menjadi hanya tiga titik. Dengan demikian, masyarakat bisa mendapatkan produk pertanian dengan harga lebih murah.

"Sekarang sudah ada toko tani. Ketika mereka membutuhkan produk seperti beras, cabai, dan bawang merah, mereka bisa berhubungan langsung ke petani," ungkapnya.

Ketua panitia seminar Ahmad Pramono menambahkan cita-cita menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia pada 2045 sangat potensial untuk diwujudkan. Hal itu dikarenakan, ekosistem tropis Indonesia yang memungkinkan kegiatan pertanian dilakukan sepanjang tahun dan adanya variasi genetik tumbuhan yang dimiliki Indonesia.

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Antara lain tanaman pangan, hewan ternak, bakteria dan indigenous knowledge dalam pengolahan pangan baik yang sudah ada maupun yang belum banyak diketahui informasinya. Ditambah lagi dengan adanya improved varieties untuk komoditas pangan dan ternak.

"Potensi mewujudkan lumbung pangan juga semakin besar dengan aktivitas ekstensifikasi dan intensifikasi kegiatan pertanian dalam arti luas," ujar Ahmad.

Namun, perlu dilakukan usaha yang efektif dalam mengelola potensi-potensi yang ada untuk menggapai cita-cita tersebut. Pertanian Indonesia di berbagai wilayah yang masih cenderung bersifat tradisional harus dibenahi menuju konsep pertanian cerdas.

Konsep itu merujuk pada penerapan terknologi untuk melakukan optimasi berupa peningkatan hasil baik secara kualitas dan kuantitas, serta dan efisiensi penggunaan sumber daya yang ada.(OL-5)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More