Rabu 27 Maret 2019, 06:30 WIB

Pemerintah Perkuat Instrumen Dalam Negeri

Nur Aivanni | Ekonomi
Pemerintah Perkuat Instrumen Dalam Negeri

Menteri Keuangan Sri Mulyani
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

 

MENTERI Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan memperkuat instrumen di dalam negeri untuk menghadapi pelemahan pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat dan Tiongkok.

"Jika ekonomi AS dan Tiongkok melemah, dampaknya juga pada lingkungan global. Jadi, seluruh instrumen yang kita gunakan di fiskal, belanja negara, perpajakan, kita pakai untuk dorong investasi agar berjalan dengan baik," kata Menkeu di Jakarta, kemarin.

Di sisi lain, Sri Mulyani mengatakan bahwa pelemahan ekonomi global justru bisa menjadi kesempatan yang baik bagi Indonesia. Pasalnya, para investor akan mencari negara yang memiliki pertumbuhan yang masih tinggi dan kuat.

"(Ekonomi) Indonesia di atas 5% dan cukup stabil selama beberapa dekade. Jadi, kalau kita terus memperbaiki iklim investasi, memperbaiki policy, makro kita stabil, itu akan memberi kesempatan bagi capital untuk pergi ke negara kita," terangnya.

Di awal tahun ini, sambung Sri Mulyani, capital inflow juga sudah masuk cukup besar ke dalam negeri.

"Itulah dinamika yang beda sekali dengan 2018 waktu suku bunga naik, kemudian capital outflow. Sekarang suku bu-nga berhenti di The Fed, plus adanya prediksi akan melemah. Itu menyebabkan capital akan mencari tempat yang lebih atraktif dan kita bisa menjadi tempat yang baik," tuturnya.

Hal senada dikatakan ekonom di Kantor Staf Presiden, Denni Purbasari.

"Dengan melambatnya ekonomi AS, kita bisa memprediksi bahwa rencana peningkatan suku bunga The Fed mungkin tidak akan secepat dari prediksi tahun lalu. Itu adalah opportunity buat Indonesia untuk memacu pertumbuhan," katanya.

Hanya saja, kata Denni, pada beberapa pekan lalu justru Indonesia khawatir akan pelambatan ekonomi Tiongkok. Itu karena Tiongkok merupakan negara mitra dagang terbesar di Indonesia.

Di sisi lain, Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan, Amalia A Widyasanti, mengatakan reformasi struktural harus dilakukan.

Salah satu reformasi yang bisa dilakukan ialah mendorong pembenahan di sektor industri.

"Ke depan kita jangan lagi (ekspor) tergantung komoditas, tapi ke ekspor yang lebih bernilai tambah tinggi," tukasnya. (Nur/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More