Selasa 26 Maret 2019, 18:28 WIB

Uji Coba PLTSa di Sumur Batu Gagal karena Masalah Teknis

Gana Buana | Megapolitan
Uji Coba PLTSa di Sumur Batu Gagal karena Masalah Teknis

ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA
Petugas melintas di depan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Solo

 

PRESIDEN Direktur PT NW Abadi Tenno Sujarwanto mengakui proses uji coba tahap kedua PLTSa beberapa waktu lalu gagal karena persoalan kerusakan di bagian governor turbin. Untuk itu, pihaknya membutuhkan waktu untuk membeli suku cadang baru.

"Pengadaan suku cadang governor turbin itu inden dan vendor dari pihak ketiga masih mengupayakan untuk mendapatkan suku cadangnya, kami pesan dari luar negeri," kata Tenno.

Teno mengatakan, pihaknya sudah berupaya memanggil teknisi untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang terjadi. Ini dilakukan sambil menunggu suku cadang datang.

Menurut dia, governor turbin rusak karena sering dioperasikan tanpa memenuhi standar kapasitas minimal daya listik sebesar 1,5 Megawatt (MW). Daya listrik yang dihasilkan mesin, lanjut dia, terpaksa turun menjadi 0,25 MW sesuai kebutuhan di lingkungan PLTSa karena pihaknya keterbatasan jaringan atau daya tampung listrik.

"Kalau sudah menjalin kerja sama dengan PLN, daya listrik yang kita hasilkan bisa lebih besar karena listrik sudah disalurkan ke tempat lain," ungkapnya.

Baca juga: Dua Kali Diuji Coba, PLTSa Sumur Batu Gagal

Dia menjelaskan, ada dua mesin di PLTSa untuk menghasilkan listrik dari sampah di TPA Sumurbatu. Pertama mesin pemusnah sampah dan kedua mesin penghasil listrik. Sedangkan yang rusak itu mesin penghasil listrik, namun Pemkot Bekasi ingin proses uji coba berjalan simultan, bukan bertahap.

Mengenai komposisi sampah baru yang lebih banyak dibakar dibanding sampah lama, ujar dia, pihaknya terkendala alat berat. Tenno beranggapan pemerintah daerah menyiapkan ekskavator untuk mengangkut sampah lama ke mesin pemusnah.

"Karena alat beratnya belum ada dan kami tidak mungkin membongkar tumpukan sampah lama itu, maka sampah baru yang kita musnahkan menjadi listrik," jelasnya.

Dia menargetkan, pada 2020 mendatang setidaknya listrik yang bisa dihasilkan mencapai 9 MW. Bahkan berdasarkan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara lembaganya dengan pemerintah daerah, listrik yang dihasilkan nanti mencapai 34,6 MW.

"Untuk nilai investasi sekitar Rp2 triliun dengan rincian US$5,2 juta per 1 MW, sedangkan yang akan kita bangun nanti 34,6 MW. Nilai investasi ini lebih rendah dibanding negara lain yang bisa menembus sampai US$10 juta per 1 MW," sambungnya.

Tenno menambahkan, teknologi CHCB sangat ramah lingkungan karena sampah yang dibakar dengan paduan air mencapai 1.200 derajat lebih ini akan menghasilkan uap yang mampu menggerakan turbin generator. Gerakan dari turbin itulah yang mampu menghasilkan listrik.

"Dengan suhu melebihi 1.200 derajat celcius, maka gas dioksin sisa pembakaran sampah secara otomatis akan menghilang," tandas dia.(OL-5)

Baca Juga

MI/ANDRI WIDIYANTO

Nelayan Rentan Terimbas Proyek Reklamasi

👤(Ins/Ssr/J-3) 🕔Sabtu 04 Juli 2020, 07:50 WIB
RENCANA Gubernur Anies Baswedan memperluas kawasan rekreasi Dufan dan Ancol untuk membangun arena bermain anak dan museum internasional...
ANDRI WIDIYANTO

Narkoba Jenis Baru dari Hutan Amazon Disita

👤 (Ykb/Tri/J-3) 🕔Sabtu 04 Juli 2020, 07:40 WIB
DIMETILTRIPTAMINA merupakan narkoba jenis baru yang berasal dari hutan Amazon,...
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/

PPDB Zonasi Bina RW Meruncing Masalah

👤 (Put/Ssr/J-3) 🕔Sabtu 04 Juli 2020, 07:30 WIB
PEMBUKAAN jalur zonasi bina rukun warga (RW) dinilai tidak akan menyelesaikan polemik terkait penerimaan peserta didik baru (PPDB) di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya