Selasa 26 Maret 2019, 03:15 WIB

Bursa Rontok Terpapar Prospek Ekonomi Dunia     

Nur Aivanni | Ekonomi
Bursa Rontok Terpapar Prospek Ekonomi Dunia     

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta

 

PERLAMBATAN ekonomi global dan mulai timbulnya kekhawa-tiran akan terjadinya resesi di Amerika Serikat menumbangkan bursa saham di banyak negara, Senin (25/3).

Indeks Harga Saham Ga-bungan Korea (KOSPI) jatuh 42,09 poin atau 1,92% menjadi  2.144,86 poin, menandai penurunan harian paling tajam sejak 23 Oktober tahun lalu. 

Indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) juga turun tajam sebesar 3,01% atau 650,23 poin menjadi 20.977,11 poin, menandai level penutupan terendah sejak 15 Februari lalu.

Hal yang sama juga terjadi di Bursa Efek Indonesia. Kemarin, IHSG ditutup dengan muram atau turun 1,75% ke level 6.411 setelah pada perdagangan pekan lalu menutup dengan pencapaian  gemilang di 6.525,27. Seiring dengan bursa, nilai tukar rupiah pun melemah ke level 14.185 per dolar AS.

Sebelumnya, Bursa Wall Stret ditutup melemah dengan ketiga indeksnya turun melampaui 1,7% dan menjadikan koreksi perdagangan hari itu sebagai koreksi harian paling dalam di bursa AS sejak Januari 2019.

Spekulasi akan terjadinya resesi bersumber dari terko-reksinya imbal hasil (yield) surat utang 10 tahun AS yang sekarang berada di bawah level yield surat utang 3 bulan. Kondisi seperti itu sempat terjadi terakhir pada 2002 sebelum krisis ekonomi melanda.

Namun, kekhawatiran akan terjadinya resesi itu buru-buru ditepis petinggi bank sentral AS atau The Fed. 

Presiden Federal Reserve Chicago Charles Evans mengatakan kemarin bahwa pasar dapat menjadi cemas ketika kurva imbal hasil datar, meskipun ia masih meyakini tentang prospek pertumbuhan ekonomi AS.

Mantan Ketua The Fed Janet Yellen mengatakan kurva imbal hasil mungkin menandakan perlunya memangkas suku bunga di beberapa titik, tetapi itu tidak menandakan resesi.

Spekulasi mengenai kemungkinan apakah The Fed akan menaikkan suku bunga atau tidak tahun ini terus mengemuka dan menjadikan bank-bank sentral di seluruh dunia memasukkan perkiraan itu sebagai bagian dari perhitungan mereka. 

Bank sentral Eropa ­umum­nya tidak lagi menaikkan suku bunga acuan. Bank Indonesia (BI) juga tidak mengubah besaran bunga acuan di level 6%. 

Bersifat sementara
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai pelemahan nilai tukar rupiah dan IHSG kemarin hanya bersifat sementara. Ia melihat bahwa pelemahan yang terjadi lebih karena koreksi teknikal setelah terjadi penguatan yang tinggi pekan lalu. 
“Investor kan cari keuntungan dari pergerakan pasar, bermain di ayunan gejolak naik-turun harga. Di saat tidak ada isu yang kuat, mereka pasti menunggu pasar akan bergerak ke mana dan akan ikut,” ujarnya. 

Piter mengatakan bahwa rupiah dan IHSG masih sangat terbuka kemungkinannya untuk kembali menguat. 

“IHSG kita ada potensi menuju 6.700 tahun ini. Rupiah saya yakin masih bisa menguat ke bawah 14.000 per dolar AS. Volatility dan pelemahan dalam satu hari itu biasa. Justru dari sana para trader bisa mendapatkan keuntungan,” tandasnya.

Sementara itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)  kemarin mengumumkan bahwa suku bunga penjaminan tetap hingga 14 Mei 2019. Tingkat suku bunga maksimal  di bank umum ialah 7% dan BPR 9,5%. (E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More