Gelombang Protes Melawan Kepemimpinan PM Theresa May

Penulis: Theguardian/Tes/I-1 Pada: Senin, 25 Mar 2019, 01:00 WIB Internasional
Gelombang Protes Melawan Kepemimpinan PM Theresa May

Isabel INFANTES / AFP

SALAH satu demonstrasi terbesar dalam sejarah Inggris diperkirakan mencakup lebih dari satu juta orang.

Gelombang pengunjuk rasa bergerak melalui pusat Kota London untuk menuntut referendum baru perceraian Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Demonstrasi bertajuk Put it to the People, yang diikuti pengunjuk rasa dari berbagai wilayah Inggris, mengemuka di tengah kekacauan politik. Seruan terhadap pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Inggris, Theresa May, pun semakin meningkat.

Beberapa menteri kabinet mempertimbangkan wakil May secara de facto, David Lidington, menjadi pengganti sementara. Namun, opsi itu ditentang kalangan pro-Brexit.

Politisi senior dari semua partai utama bergabung dalam gerakan protes, termasuk wakil pemimpin Partai Buruh Tom Watson, Wali Kota London Sadiq Khan, dan pemimpin SNP sekaligus menteri Skotlandia Nicola Sturgeon.

Watson meneriakkan seruan agar May tidak mengabaikan aksi protes dan memberikan referendum kedua.

"PM May mengklaim dia berbicara untuk Inggris. Sekarang lihatlah ke luar jendela. Buka gordenmu, atau nyalakan TV. Lihatlah unjuk rasa hari ini. Anda sebenarnya tidak berbicara untuk kami," tukas Watson.

Upaya Partai Buruh untuk menyatukan persepsi terkait Brexit kerap ditolak. "Di berbagai kesempatan, kami telah diabaikan. Cara menyatukan kembali negara kita ialah memutuskan masa depan bersama. Sudah waktunya berkata dalam satu suara. PM May, Anda kehilangan kendali dan biarkan orang lain yang mengambil kendali," imbuhnya.

Menurut dia, May tidak bisa mempertahankan posisinya. Apalagi, Kantor PM Inggris tampaknya mengancam dengan pemilihan umum jika kesepakatannya tidak diloloskan pekan ini. Mantan wakil pemimpin parlemen Inggris, Lord Heseltine, menyalahkan kepemimpinan May atas krisis yang melanda.

"Sekarang perdana menteri yang kalah dalam pemilihan, juga akan menyalahkan anggota parlemen," pungkas Heseltine.

Sementara itu, Sturgeon mengatakan keputusan Uni Eropa untuk menunda batas waktu Brexit dari 29 Maret menjadi 12 April, memberikan lebih banyak peluang untuk mencegah tragedi.

"Kita membutuhkan peluang besar untuk menghindari bencana dari Brexit tanpa kesepakatan," ujar Sturgeon. (Theguardian/Tes/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More