Menghidupkan kembali Kejayaan Rempah Indonesia

Penulis: Tosiani Pada: Minggu, 24 Mar 2019, 01:40 WIB Weekend
Menghidupkan kembali Kejayaan Rempah Indonesia

NUSANTARA memiliki posisi strategis sebagai poros yang menghubungkan ‘ne­geri-negeri di atas angin’, yaitu Tiongkok, India, Timur Tengah, hingga Eropa. Jauh sebelum bangsa Eropa melakukan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara, Nusantara telah menjadi pemain penting dalam perdagangan dunia dan telah lama dikenal sebagai negara pemasok utama komoditas penting di dunia, yakni rempah-rempah. 

Diperkirakan dalam perjalanan waktu dan pada skala dunia, sekitar 400-500 spesies tanam­n telah dipergunakan dan dikenal sebagai rempah. Di Asia Tenggara, jumlah tanaman rempah mendekati 275 spesies.

Pendiri sekaligus Pembina Yayasan Negeri Rempah, Bram Kushardjanto, mengatakan, rempah-rempah punya makna yang mendalam bagi terciptanya negara Indonesia. Indonesia tidak akan ada tanpa rempah-rempah. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini tidak akan ada tanpa rempah-rempah. 

“Karena rempah-rempah, bangsa-bangsa Eropa itu ke sini. Tanpa kolonialisasi terjadi, kita tetap jadi Kerajaan Ternate, Tidore, dan kerajaan kecil-kecil. Kita bersatu karena kita dijajah dan memutuskan mendirikan negara bersama-sama, komitmen kita menjadi negara kesatuan. Kita sangat berutang budi pada rempah-rempah,” papar Bram, di sela-sela acara International Forum on Spice Route (IFSR), di Auditorium Museum Nasional, Selasa (19/3). 

Filosofi rempah-rempah menurutnya ialah sebagai pemersatu bangsa. Rempah-rempah juga merupakan komoditas paling penting, melebihi emas dan minyak. Meski dari sisi harga, rempah masih tergolong lebih rendah jika dibandingkan dengan minyak dan gas. Namun, ada satu hal yang penting, yakni rempah mempersatukan bangsa dan mengawali terbentuknya NKRI. 

Deputi Dewan Rempah Nasional, Lukman Basri, mengatakan, saat ini kondisi perdagangan rempah Indonesia turun jika dibandingkan dengan waktu zaman Belanda. Hal itu karena produk rempah tidak bisa memenuhi persyaratan perdagangan internasional, seperti sustainability, mutu, standar higienis, dan informasi akurat mengenai asal muasal barang itu dari mana. 

Umpamanya mengenai lada putih yang berasal dari Pangkalpinang, Bangka, kemudian luasan dan lokasi perkebunan perlu ada informasi detail untuk ekspor. Saat ini juga tidak ada pelabuhan-pelabuhan untuk ekspor seperti zaman belanda. Dahulu tiap daerah punya port sehingga daerah bisa langsung kirim rempah untuk ekspor. 

“Sekarang mau kirim atau ekspor kayu manis harus melalui Surabaya. Di samping itu, tidak ada ketersediaan finansial untuk mendanai ekspor rempah seperti saat Belanda memiliki berbagai bank sendiri untuk mendanai ekspor rempah,” ujar Lukman.


Jalur damai

Dewan Pembina Yayasan Negeri Rempah, Hassan Wirajuda, menambahkan, Indonesia terdiri atas selat-selat pulau yang merupakan titik yang memungkinkan perdagangan internasional untuk rempah-rempah pada zaman dahulu. Di dalamnya terdapat pertukaran budaya, agama, peradaban, bahasa, dan sosial. “Indonesia jadi tuan rumah dari peradab­an besar, terutama Asia Timur, Tiongkok, India, dan Eropa. Keseluruhannya saling memengaruhi secara positif. Jalur rempah merupakan jalur yang damai,” kata Hasan.
 
Rempah, lanjut Hasan, awalnya dikenalkan Mesir Kuno ribuan tahun sebelum masehi sebagai bahan pengawet. Lalu, makin jaya pada masa Kerajaan Sriwijaya, kemudian mengundang kedatangan bangsa Eropa abad ke-15 hingga ke-19. Interaksi perdagangan dan pertukaran budaya, bahasa dan agama sangat jelas pada masa Sriwijaya. 

Sriwijaya juga punya kontribusi pembangunan internasional yang besar, seperti di India dan Srilanka. Sriwijaya juga punya andil pada pembangunan kuil di Tiongkok Selatan. Karena itu, diplomasi dan kontribusi Sriwijaya dari hasil perdagangan rempah sangat tinggi. Sementara itu, kontribusi Indonesia pada diplomasi internasional hanya menghabiskan sepersepuluh dari kontribusi Afrika untuk hubungan internasional. 

Dengan peran sepenting itu, rempah-rempah menjadi komoditas utama yang mampu meme­ngaruhi kondisi politik, ekonomi, maupun sosial budaya dalam skala global.
Para raja mengirim ekspedisi mengarungi samudra untuk mencarinya. Pedagang mempertaruhkan nyawa dan kekayaannya, perang demi perang memperebutkannya, dunia bergolak, dan sejarah peradaban manusia berubah. 

Poros perdagangan rempah-rempah global Asia, India–Nusantara–Tiongkok, melalui perairan Hindia hingga Pasifik meninggalkan jejak peradaban yang signifikan. Terletak di sepanjang jalur maritim tersibuk di dunia, Nusantara dari masa ke masa telah menjadi daerah strategis yang amat penting dan tujuan perdagangan selama ribuan tahun. 

Sebagai akibat dari lalu lintas laut yang padat ke Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, dan sebaliknya, banyak peradaban berinteraksi, bertukar pengetahuan, pengalaman, dan budaya.

Ia menjelma sebagai ruang silaturahim antarmanusia lintas bangsa sekaligus sarana pertukaran dan pemahaman antarbudaya yang mempertemukan berbagai ide, konsep, gagasan dan praksis melampaui konteks ruang dan waktu. Dipertemukan laut dan samudra.

Warisan budaya maritim dalam jejak perniagaan global itu menjadi semakin penting untuk diangkat, dikaji, dan dimaknai kembali. 

“Apalagi ketika dewasa ini banyak bergulir pertarungan konsep seperti Jalur Sutera Maritim yang diusung Tiongkok maupun ragam konsep tentang wawasan Indo-Pasifik yang kesemuanya menuntut Indonesia untuk mengambil peranan yang penting,” jelas Menteri Luar Negeri Indonesia sejak 2001 hingga 2009 itu. 

Staf Ahli Sosio Antropologi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Tukul Rameyo, mengatakan, pemerintah akan melakukan berbagai upaya untuk mengembalikan kejayaan rempah-rempah, di antaranya dengan menambah luasan tanam rempah-rempah. 

“Rempah kita memang sekarang banyak pesaingnya, antara lain Srilanka yang juga punya rempah. Akan tetapi, rempah kita punya cita rasa yang khas dan berbeda dari rempah yang berasal dari negara lain. Ini menjadi keistimewaan rempah kita,” pungkasnya. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More